Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial

Kompas.com, 16 Mei 2026, 22:05 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi Z (Gen Z) dan generasi milenial menunda menikah dan membeli rumah karena masalah finansial, berdasarkan riset Deloitte. Penelitian yang memasuki tahun ke-15 ini mengumpulkan pandangan lebih dari 22.500 Gen Z (kelahiran 1995-2007), milenial (kelahiran 1983-1994) di 44 negara, serta para pemimpin bisnis.

Chief People & Purpose Officer Global Deloitte, Elizabeth Faber menngungkapkan biaya hidup yang kian tinggi menjadi kekhawatiran kedua generasi tersebut dalam lima tahun terakhir.

"Lebih dari setengah Gen Z (55 persen) dan milenial (52 persen) mengatakan mereka menunda keputusan besar dalam hidup, seperti pernikahan, memulai keluarga atau bisnis, atau melanjutkan pendidikan, karena kondisi keuangan mereka," ujar Elizabeth dikutip dari laporan Deloitte, Sabtu (16/5/2026).

Baca juga: Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya

Meski demikian, responden Gen Z tetap optimistis bisa memperbaiki kondisi keuangan mereka dalam setahun ke depan. Elizabeth menyampaikan tekanan finansial menjadi ciri utama terkait cara Gen Z dan milenial bekerja, hidup, dan merencanakan masa depan. 

"Sebanyak 69 persen Gen Z dan 64 persen milenial mengatakan bahwa ketersediaan atau keterjangkauan perumahan memiliki dampak langsung terhadap keputusan karier, dan tempat mereka dapat bekerja, dan 51 persen Gen Z serta 40 persen milenial mengatakan mereka tidak mampu membeli rumah," jelas laporan tersebut.

Tekanan finansial membentuk cara Gen Z dan milenial memandang pekerjaan, stabilitas, dan keputusan jangka panjang. Biaya hidup ataupun keamanan finansial menjadi pertimbangan penting mereka.

Di tengah tekanan ekonomi, meningkatnya biaya hidup, keterbatasan perumahan, ketidakstabilan geopolitik, dan perubahan teknologi yang cepat, banyak Gen Z dan milenial memilah prioritas. 

"Membeli rumah, memulai keluarga, melangkah dengan percaya diri ke posisi kepemimpinan senior menjadi lebih sulit dicapai dan sering kali disertai pengorbanan yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya," tutur Elizabeth.

Baca juga: Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin Burnout

Terlepas dari tekanan eksternal, banyak Gen Z dan milenial tetap mempertahankan pandangan yang positif. 

Mereka aktif mengembangkan karier melalui pembelajaran berkelanjutan hingga keterampilan. Di samping itu, menjadikan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (A)I sebagai alat bantu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, meningkatkan hasil kerja, dan menciptakan peluang baru.

"Bagi generasi-generasi ini, tujuan tetap menjadi hal yang utama: lebih dari sembilan dari 10 orang mengatakan hal itu penting bagi kepuasan kerja mereka, dan banyak yang sudah bekerja dalam peran yang selaras dengan nilai-nilai mereka," beber dia.

Di sisi lain, survei Deloitte mengemukakan minat terhadap posisi manajemen dan peran senior cukup tinggi di kalangan Gen Z serta milenial.

Akan tetapi, hal itu bukan prioritas bagi sebagian besar responden lantaran dianggap memicu kelelahan berat dan beban kerja tinggi. Mereka bersedia memimpin di lingkungan yang mengutamakan fleksibilitas, kesejahteraan, serta dampak nyata.

"Generasi-generasi ini ingin membangun fondasi yang kuat sebelum mengambil langkah-langkah besar dalam hidup. Mereka mencari stabilitas sebelum berkomitmen pada keputusan-keputusan besar. Dan ambisi mereka diimbangi oleh tuntutan akan beban kerja yang dapat dikelola, dukungan yang jelas, dan jalur keberhasilan yang bisa dicapai," kata Elizabeth. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Data Baru Sebut Suhu Lautan Dunia Pecahkan Rekor Terpanas Sepanjang Juni
Data Baru Sebut Suhu Lautan Dunia Pecahkan Rekor Terpanas Sepanjang Juni
Pemerintah
Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Uni Eropa Adopsi Aturan Daur Ulang untuk Kendaraan
Uni Eropa Adopsi Aturan Daur Ulang untuk Kendaraan
Pemerintah
Ledakan Penduduk di Kawasan Industri Morowali Picu Krisis Sampah
Ledakan Penduduk di Kawasan Industri Morowali Picu Krisis Sampah
LSM/Figur
Tata Kelola Rantai Pasok Energi Jadi Fondasi Keberlanjutan Industri
Tata Kelola Rantai Pasok Energi Jadi Fondasi Keberlanjutan Industri
Swasta
Malaysia Andalkan Waste-to-Energy untuk Kurangi Sampah dan Hasilkan Listrik
Malaysia Andalkan Waste-to-Energy untuk Kurangi Sampah dan Hasilkan Listrik
Pemerintah
Kolaborasi 'Pendidikan Bilingual untuk Tuli', Menjadikan Bahasa Isyarat Hak Dasar Pendidikan Inklusi
Kolaborasi "Pendidikan Bilingual untuk Tuli", Menjadikan Bahasa Isyarat Hak Dasar Pendidikan Inklusi
LSM/Figur
NU dan Jihad Menjaga Lingkungan
NU dan Jihad Menjaga Lingkungan
Pemerintah
Bumi yang Lebih Panas, El Nino yang Lebih Mahal
Bumi yang Lebih Panas, El Nino yang Lebih Mahal
Pemerintah
Mandatori B50 Tak Bisa Jadi Strategi Jangka Panjang, IESR Desak Pemerintah Hitung Ulang Risiko
Mandatori B50 Tak Bisa Jadi Strategi Jangka Panjang, IESR Desak Pemerintah Hitung Ulang Risiko
LSM/Figur
Indonesia Perkuat Posisi sebagai Tujuan Strategis Investasi Aksi Iklim dan Transisi Energi
Indonesia Perkuat Posisi sebagai Tujuan Strategis Investasi Aksi Iklim dan Transisi Energi
Pemerintah
Dulu Semalam Dapat 10 Kg, Kini Nelayan Bahodopi Bersyukur Pulang Membawa Dua Ekor Ikan...
Dulu Semalam Dapat 10 Kg, Kini Nelayan Bahodopi Bersyukur Pulang Membawa Dua Ekor Ikan...
LSM/Figur
FAO Petakan Daerah yang Paling Rentan Kena Dampak Kekeringan
FAO Petakan Daerah yang Paling Rentan Kena Dampak Kekeringan
Pemerintah
Bank Dunia Batalkan Target Alokasi 45 Persen Dana Pinjaman untuk Proyek Iklim
Bank Dunia Batalkan Target Alokasi 45 Persen Dana Pinjaman untuk Proyek Iklim
Pemerintah
Tanpa Kendali Regulasi, AI Bakal Gagal Wujudkan Target SDG
Tanpa Kendali Regulasi, AI Bakal Gagal Wujudkan Target SDG
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau