JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi Z (Gen Z) dan generasi milenial menunda menikah dan membeli rumah karena masalah finansial, berdasarkan riset Deloitte. Penelitian yang memasuki tahun ke-15 ini mengumpulkan pandangan lebih dari 22.500 Gen Z (kelahiran 1995-2007), milenial (kelahiran 1983-1994) di 44 negara, serta para pemimpin bisnis.
Chief People & Purpose Officer Global Deloitte, Elizabeth Faber menngungkapkan biaya hidup yang kian tinggi menjadi kekhawatiran kedua generasi tersebut dalam lima tahun terakhir.
"Lebih dari setengah Gen Z (55 persen) dan milenial (52 persen) mengatakan mereka menunda keputusan besar dalam hidup, seperti pernikahan, memulai keluarga atau bisnis, atau melanjutkan pendidikan, karena kondisi keuangan mereka," ujar Elizabeth dikutip dari laporan Deloitte, Sabtu (16/5/2026).
Baca juga: Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
Meski demikian, responden Gen Z tetap optimistis bisa memperbaiki kondisi keuangan mereka dalam setahun ke depan. Elizabeth menyampaikan tekanan finansial menjadi ciri utama terkait cara Gen Z dan milenial bekerja, hidup, dan merencanakan masa depan.
"Sebanyak 69 persen Gen Z dan 64 persen milenial mengatakan bahwa ketersediaan atau keterjangkauan perumahan memiliki dampak langsung terhadap keputusan karier, dan tempat mereka dapat bekerja, dan 51 persen Gen Z serta 40 persen milenial mengatakan mereka tidak mampu membeli rumah," jelas laporan tersebut.
Tekanan finansial membentuk cara Gen Z dan milenial memandang pekerjaan, stabilitas, dan keputusan jangka panjang. Biaya hidup ataupun keamanan finansial menjadi pertimbangan penting mereka.
Di tengah tekanan ekonomi, meningkatnya biaya hidup, keterbatasan perumahan, ketidakstabilan geopolitik, dan perubahan teknologi yang cepat, banyak Gen Z dan milenial memilah prioritas.
"Membeli rumah, memulai keluarga, melangkah dengan percaya diri ke posisi kepemimpinan senior menjadi lebih sulit dicapai dan sering kali disertai pengorbanan yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya," tutur Elizabeth.
Baca juga: Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin Burnout
Terlepas dari tekanan eksternal, banyak Gen Z dan milenial tetap mempertahankan pandangan yang positif.
Mereka aktif mengembangkan karier melalui pembelajaran berkelanjutan hingga keterampilan. Di samping itu, menjadikan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (A)I sebagai alat bantu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, meningkatkan hasil kerja, dan menciptakan peluang baru.
"Bagi generasi-generasi ini, tujuan tetap menjadi hal yang utama: lebih dari sembilan dari 10 orang mengatakan hal itu penting bagi kepuasan kerja mereka, dan banyak yang sudah bekerja dalam peran yang selaras dengan nilai-nilai mereka," beber dia.
Di sisi lain, survei Deloitte mengemukakan minat terhadap posisi manajemen dan peran senior cukup tinggi di kalangan Gen Z serta milenial.
Akan tetapi, hal itu bukan prioritas bagi sebagian besar responden lantaran dianggap memicu kelelahan berat dan beban kerja tinggi. Mereka bersedia memimpin di lingkungan yang mengutamakan fleksibilitas, kesejahteraan, serta dampak nyata.
"Generasi-generasi ini ingin membangun fondasi yang kuat sebelum mengambil langkah-langkah besar dalam hidup. Mereka mencari stabilitas sebelum berkomitmen pada keputusan-keputusan besar. Dan ambisi mereka diimbangi oleh tuntutan akan beban kerja yang dapat dikelola, dukungan yang jelas, dan jalur keberhasilan yang bisa dicapai," kata Elizabeth.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya