KOMPAS.com - Penelitian baru dari tim ilmuwan internasional menemukan bahwa untuk menghapus total penggunaan bahan bakar fosil di seluruh dunia pada tahun 2050, jumlah produksi listrik global harus digenjot sekitar 60 hingga 80 persen lebih banyak daripada perkiraan rencana iklim 1.5 derajat C yang biasa digunakan saat ini.
Melansir Tech Xplore, Selasa (19/5/2026) penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dengan menghilangkan bahan bakar fosil, kita bisa sangat mengurangi ketergantungan pada teknologi penyedot karbon (CO2) dan teknologi penyimpanan karbon di bawah tanah.
Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Kyoto University, Hokkaido University, dan IIASA ini memberikan salah satu penilaian menyeluruh pertama dari berbagai model tentang apa saja yang dibutuhkan untuk menciptakan sistem energi dunia yang "nol bahan bakar fosil".
Temuan ini muncul di saat pembahasan tentang peralihan bahan bakar fosil dunia sedang berada dalam fase yang sangat penting.
Baca juga: PBB Usul Pajak bagi Perusahaan Bahan Bakar Fosil dan Orang Terkaya
Sejak pemerintah negara-negara di dunia sepakat pada pertemuan COP28 tahun 2023 untuk "beralih dari bahan bakar fosil dalam sistem energi," diskusi internasional kini telah berubah, dari yang tadinya memperdebatkan apakah penghapusan bahan bakar fosil itu perlu, menjadi fokus pada bagaimana cara menerapkannya dalam praktik nyata.
"Penghapusan total bahan bakar fosil secara teknis memang bisa dilakukan, tetapi hal itu membutuhkan pemasangan yang jauh lebih cepat untuk listrik terbarukan, sistem hidrogen, dan perubahan cara kita menggunakan energi dibandingkan dengan rencana target iklim 1.5 derajat C yang biasa," jelas penulis utama Shotaro Mori, Asisten Profesor di Sekolah Pascasarjana Teknik, Kyoto University.
Dalam studinya, para peneliti membandingkan jalur mitigasi konvensional yang sesuai dengan target 1,5 derajat C dengan skenario di mana batu bara, minyak, dan gas alam sepenuhnya dihentikan penggunaannya antara tahun 2050 dan 2100.
Mereka menemukan bahwa jalur yang mencapai penghentian total penggunaan bahan bakar fosil pada pertengahan abad ini bergantung pada elektrifikasi langsung yang cepat bersamaan dengan penerapan besar-besaran pembawa energi berbasis hidrogen seperti hidrogen, amonia, dan bahan bakar sintetis di industri dan sektor transportasi yang sulit untuk dielektrifikasi.
Di saat yang sama penghapusan total bahan bakar fosil juga memberikan keuntungan yang sangat penting.
Skenario ini secara mendasar mengurangi sisa-sisa polusi gas karbon (CO2) dan menurunkan ketergantungan kita pada teknologi penangkap dan penyimpanan karbon (CCS), serta teknologi penyedot CO2 lainnya seperti energi biomasa dengan penangkap karbon (BECCS) dan penyedotan karbon langsung dari udara (DACCS).
Penelitian ini juga menemukan bahwa menghapus bahan bakar fosil lebih cepat akan memperbesar peluang untuk mengembalikan suhu bumi ke batas aman 1.5 derajat C setelah sempat melewati batas tersebut untuk sementara waktu.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa menghapus bahan bakar fosil bukan sekadar mengganti satu jenis bahan bakar dengan bahan bakar lainnya," kata salah satu penulis penelitian, Volker Krey, yang memimpin Kelompok Riset Penilaian Terpadu dan Perubahan Iklim di IIASA.
Hal ini berarti harus ada perombakan besar-besaran pada sistem energi dunia, proses industri, investasi infrastruktur, dan pola perdagangan internasional. Sebagai contoh, dibandingkan dengan kondisi saat ini, kita bicara tentang kenaikan 2,5 hingga 3 kali lipat untuk investasi tahunan rata-rata pada pembangkit listrik non-fosil selama periode tahun 2026 hingga 2050.
Baca juga: Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu
Para penulis menegaskan bahwa penelitian ini tidak bermaksud menyimpulkan bahwa menghapus total bahan bakar fosil adalah satu-satunya jalan untuk mencapai target suhu 1.5 derajat C sesuai Perjanjian Paris.
Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan adanya pilihan antara rencana penurunan emisi yang hemat biaya dengan rencana "nol fosil" yang lebih ambisius.
Yang tidak kalah penting, para peneliti mencatat bahwa jalan menuju penghapusan total bahan bakar fosil juga harus memikirkan masalah keadilan dan transisi yang adil, terutama bagi negara-negara yang hidupnya sangat bergantung pada produksi dan ekspor bahan bakar fosil.
Penelitian ini menunjukkan perlunya kerja sama internasional, perencanaan peralihan yang kompak, serta kebijakan pendukung untuk membantu wilayah dan para pekerja yang terdampak.
Selain itu para penulis berharap temuan ini akan mendukung diskusi internasional dan penilaian di masa mendatang oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya