Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen

Kompas.com, 20 Mei 2026, 14:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penelitian baru dari tim ilmuwan internasional menemukan bahwa untuk menghapus total penggunaan bahan bakar fosil di seluruh dunia pada tahun 2050, jumlah produksi listrik global harus digenjot sekitar 60 hingga 80 persen lebih banyak daripada perkiraan rencana iklim 1.5 derajat C yang biasa digunakan saat ini.

Melansir Tech Xplore, Selasa (19/5/2026) penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dengan menghilangkan bahan bakar fosil, kita bisa sangat mengurangi ketergantungan pada teknologi penyedot karbon (CO2) dan teknologi penyimpanan karbon di bawah tanah.

Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Kyoto University, Hokkaido University, dan IIASA ini memberikan salah satu penilaian menyeluruh pertama dari berbagai model tentang apa saja yang dibutuhkan untuk menciptakan sistem energi dunia yang "nol bahan bakar fosil".

Temuan ini muncul di saat pembahasan tentang peralihan bahan bakar fosil dunia sedang berada dalam fase yang sangat penting.

Baca juga: PBB Usul Pajak bagi Perusahaan Bahan Bakar Fosil dan Orang Terkaya

Sejak pemerintah negara-negara di dunia sepakat pada pertemuan COP28 tahun 2023 untuk "beralih dari bahan bakar fosil dalam sistem energi," diskusi internasional kini telah berubah, dari yang tadinya memperdebatkan apakah penghapusan bahan bakar fosil itu perlu, menjadi fokus pada bagaimana cara menerapkannya dalam praktik nyata.

"Penghapusan total bahan bakar fosil secara teknis memang bisa dilakukan, tetapi hal itu membutuhkan pemasangan yang jauh lebih cepat untuk listrik terbarukan, sistem hidrogen, dan perubahan cara kita menggunakan energi dibandingkan dengan rencana target iklim 1.5 derajat C yang biasa," jelas penulis utama Shotaro Mori, Asisten Profesor di Sekolah Pascasarjana Teknik, Kyoto University.

Dalam studinya, para peneliti membandingkan jalur mitigasi konvensional yang sesuai dengan target 1,5 derajat C dengan skenario di mana batu bara, minyak, dan gas alam sepenuhnya dihentikan penggunaannya antara tahun 2050 dan 2100.

Mereka menemukan bahwa jalur yang mencapai penghentian total penggunaan bahan bakar fosil pada pertengahan abad ini bergantung pada elektrifikasi langsung yang cepat bersamaan dengan penerapan besar-besaran pembawa energi berbasis hidrogen seperti hidrogen, amonia, dan bahan bakar sintetis di industri dan sektor transportasi yang sulit untuk dielektrifikasi.

Mengurangi CO2

Di saat yang sama penghapusan total bahan bakar fosil juga memberikan keuntungan yang sangat penting.

Skenario ini secara mendasar mengurangi sisa-sisa polusi gas karbon (CO2) dan menurunkan ketergantungan kita pada teknologi penangkap dan penyimpanan karbon (CCS), serta teknologi penyedot CO2 lainnya seperti energi biomasa dengan penangkap karbon (BECCS) dan penyedotan karbon langsung dari udara (DACCS).

Penelitian ini juga menemukan bahwa menghapus bahan bakar fosil lebih cepat akan memperbesar peluang untuk mengembalikan suhu bumi ke batas aman 1.5 derajat C setelah sempat melewati batas tersebut untuk sementara waktu.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa menghapus bahan bakar fosil bukan sekadar mengganti satu jenis bahan bakar dengan bahan bakar lainnya," kata salah satu penulis penelitian, Volker Krey, yang memimpin Kelompok Riset Penilaian Terpadu dan Perubahan Iklim di IIASA.

Hal ini berarti harus ada perombakan besar-besaran pada sistem energi dunia, proses industri, investasi infrastruktur, dan pola perdagangan internasional. Sebagai contoh, dibandingkan dengan kondisi saat ini, kita bicara tentang kenaikan 2,5 hingga 3 kali lipat untuk investasi tahunan rata-rata pada pembangkit listrik non-fosil selama periode tahun 2026 hingga 2050.

Baca juga: Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu

Para penulis menegaskan bahwa penelitian ini tidak bermaksud menyimpulkan bahwa menghapus total bahan bakar fosil adalah satu-satunya jalan untuk mencapai target suhu 1.5 derajat C sesuai Perjanjian Paris.

Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan adanya pilihan antara rencana penurunan emisi yang hemat biaya dengan rencana "nol fosil" yang lebih ambisius.

Yang tidak kalah penting, para peneliti mencatat bahwa jalan menuju penghapusan total bahan bakar fosil juga harus memikirkan masalah keadilan dan transisi yang adil, terutama bagi negara-negara yang hidupnya sangat bergantung pada produksi dan ekspor bahan bakar fosil.

Penelitian ini menunjukkan perlunya kerja sama internasional, perencanaan peralihan yang kompak, serta kebijakan pendukung untuk membantu wilayah dan para pekerja yang terdampak.

Selain itu para penulis berharap temuan ini akan mendukung diskusi internasional dan penilaian di masa mendatang oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau