JAKARTA, KOMPAS.com - Kucing yang memangsa tikus yang terinfeksi hantavirus berpotensi ikut tertular virus tersebut. Namun, hingga saat ini kucing tidak diketahui dapat menularkan hantavirus ke hewan lain maupun ke manusia.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, menjelaskan bahwa kucing tergolong sebagai dead-end host atau inang akhir, sama seperti manusia.
"Boleh dikatakan si hanta ini akan hilang karena antibodi si kucing. Sama dengan manusia," ujar Ristiyanto dalam sebuah webinar, Sabtu (16/5/2026).
Baca juga: Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Sebagai inang akhir, virus tidak berkembang cukup lama di dalam tubuh kucing untuk kemudian ditularkan kembali. Pada manusia, penularan hantavirus juga sangat jarang terjadi, kecuali pada strain Andes yang langka dan membutuhkan kontak sangat dekat.
"Sejauh ini belum ada laporan kucing menularkan hantavirus karena diduga kucing merupakan inang akhir dari hantavirus," kata Ristiyanto.
Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus, yang menjadi reservoir atau inang utama virus tersebut.
Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Risiko penularan meningkat ketika partikel-partikel tersebut mengering dan terhirup bersama debu.
Karena itu, pengendalian populasi tikus menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran hantavirus.
Menurut Ristiyanto, upaya pencegahan tidak cukup hanya dengan memasang perangkap tikus. Masyarakat juga perlu memperbaiki sanitasi, menutup celah masuk tikus ke rumah, serta membersihkan area yang terkontaminasi dengan cara yang aman.
Ia menekankan bahwa pengendalian tikus harus dilakukan secara kolektif di tingkat komunitas.
"Kalau satu rumah tangga mengendalikan tikus, tetapi rumah lainnya tidak, maka pengendalian itu tidak akan efektif," ujarnya.
Ristiyanto juga menyarankan pembangunan rumah yang lebih tahan terhadap serangan tikus (rat-proof) untuk menekan risiko penularan penyakit.
Berdasarkan pengamatan BRIN, sekitar 20 persen tikus yang tertangkap dalam surveilans dapat membawa penyakit seperti hantavirus atau leptospirosis.
Sementara itu, standar baku mutu lingkungan Kementerian Kesehatan menetapkan kepadatan tikus di permukiman dan fasilitas umum seharusnya kurang dari 1 persen. Namun, di lapangan, angka kepadatan tikus rata-rata masih mencapai sekitar 5 persen.
Baca juga: WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko penularan penyakit dari hewan pengerat masih cukup tinggi, terutama di kawasan dengan sanitasi buruk dan permukiman padat.
Ristiyanto mengatakan, keterbatasan anggaran pemerintah membuat pengendalian tikus tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
Ia menilai upaya ini harus melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat.
Selain itu, penggunaan rodentisida juga perlu diawasi. Menurut dia, tikus dapat mengalami bait shyness, yaitu kondisi ketika tikus jera dan tidak lagi mau memakan umpan beracun yang sama.
Karena itu, pengendalian tikus membutuhkan strategi yang berkelanjutan dan dilakukan secara bersama-sama agar efektif menekan risiko penularan hantavirus dan penyakit lain yang dibawa hewan pengerat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya