KOMPAS.com - Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, sangat berisiko menjadi ruang penularan hantavirus.
"Sangat berisiko sekali, terutama mungkin kaitannya dengan pekerjaan sebagai pemulung. Ini mungkin high risk untuk bisa tertular ortho hantavirus," ujar peneliti pusat kesehatan masyarakat dan gizi BRIN, Arif Mulyono, dalam sebuah webinar Sabtu (16/5/2026).
Tikus memang sudah lama hidup berasosiasi dengan manusia. Semua aktivitas manusia bisa dimanfaatkan tikus sebagai sumber makanannya, seperti sampah. Khususnya, sampah yang tidak dikelola dengan benar atau asal ditumpuk tanpa di tempat tertutup akan jadi sumber makanan tikus.
Baca juga: Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?
"Tikus berkumpul di situ dengan jumlah yang cukup banyak, berak di situ, kencing di situ, mungkin beranak pinak di situ," tutur Arif.
Aktivitas mengaduk-aduk dan memilah sampah untuk dijual yang berulang sangat berisiko tinggi terpapar hantavirus. Jika dilakukan survei secara antibodi, maka kemungkinan pemulung menjadi pekerjaan paling berisiko tertular hantavirus, di mana tempat pembuangan sampah ini banyak ditemukan tikus.
Urin, kotoran, dan air liur tikus yang tertinggal di sisa-sisa makanan atau limbah di tempat pembuangan sampah akan teraerosol dan terhirup oleh manusia.
Populasi tikus menjadi faktor risiko utama penularan hantavirus ke manusia. Lingkungan yang kurang higienis menyebabkan populasi tikus semakin banyak, karena kebiasaan manusia menyediakan makanan dan tempat tinggal bagi hewan pengerat ini. Manusia berisiko terinfeksi hantavirus ketika beraktivitas di wilayah yang menjadi habitat tikus.
Lingkungan yang kurang higienis menyebabkan populasi tikus cukup tinggi, seperti kasus di Kota Semarang. Dalam penelitiannya pada 2014 lalu, Arif menemukan dua kasus infeksi hantavirus terhadap manusia. Temuan dari studi ini mengungkapkan bahwa sebesar 12 persen tikus yang tertangkap positif hantavirus secara serologi dengan pemeriksaan ELISA.
Saat itu, tingkat kepadatan tikus di Kota Semarang cukup tinggi atau sekitar 21 dari 100 perangkap berhasil menangkap tikus. Padahal, merujuk pada standar baku mutu lingkungan Kementerian Kesehatan, kepadatan hewan pengerat di lingkungan pemukiman dan fasilitas umum harus kurang dari 1 persen
"Penularan Ortho hantavirus akibat lingkungan yang kurang higienis di mana lingkungan tersebut menyediakan sumber makanan bagi tikus, maupun menyediakan tikus untuk tempat tinggal maupun berkembang biak, sehingga terjadilah kasus-kasus infeksi pada manusia," ucapnya.
Sebagai virus RNA, mutasi ortho-hantavirus tergolong rendah jika dibandingkan flu burung atau coronavirus.
"Jadi, memang ketika virus ini jumping ke bukan inang alamiahnya, seperti tadi yang sudah saya sampaikan, Seoul virus itu dia mempunyai inang alamiah itu Rattus norvegicus atau tikus got. Ketika jumping ke Rattus tanezumi, ini mengalami mutasi karena mungkin ada tekanan imun dari inang baru sehingga dia mutasi dan menghasilkan serang virus seperti itu," tutur Arif.
Untuk penularan hantavirus antar tikus memang lebih mudah ketimbang dengan manusia. Selain dengan aerosol, penularan antar tikus dapat melalui perkelahian, saling menggigit, sampai perkawinan.
Baca juga: Waspada Hantavirus, Ini Cara Mencegah Tikus Masuk ke Dalam Rumah
Sebelumnya, epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman mengatakan, beberapa kelompok masyarakat memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap paparan hantavirus yang ditularkan hewan pengerat.
Kelompok tersebut yaitu, petugas kebersihan, tukang sampah, pekerja gudang dan pelabuhan, petani, orang-orang yang sering terpapar lingkungan tertutup dan kotor, serta masyarakat di daerah banjir.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat perlu mewaspadai beberapa faktor yang mendukung penyebaran hantavirus di Indonesia. Faktor yang dimaksud adalah hewan pengerat (rodensia) yang di Indonesia tergolong tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan yang kotor, serta kepadatan pelabuhan dan pergudangan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya