Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah yang Tak Terkelola di Bantargebang Potensial Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Kompas.com, 20 Mei 2026, 13:35 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, sangat berisiko menjadi ruang penularan hantavirus.

‎"Sangat berisiko sekali, terutama mungkin kaitannya dengan pekerjaan sebagai pemulung. Ini mungkin high risk untuk bisa tertular ortho hantavirus," ujar peneliti pusat kesehatan masyarakat dan gizi BRIN, Arif Mulyono, dalam sebuah webinar Sabtu (16/5/2026).

‎Tikus memang sudah lama hidup berasosiasi dengan manusia. Semua aktivitas manusia bisa dimanfaatkan tikus sebagai sumber makanannya, seperti sampah. Khususnya, sampah yang tidak dikelola dengan benar atau asal ditumpuk tanpa di tempat tertutup akan jadi sumber makanan tikus.

Baca juga: Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?

‎"Tikus berkumpul di situ dengan jumlah yang cukup banyak, berak di situ, kencing di situ, mungkin beranak pinak di situ," tutur Arif.

‎Aktivitas mengaduk-aduk dan memilah sampah untuk dijual yang berulang sangat berisiko tinggi terpapar hantavirus. Jika dilakukan survei secara antibodi, maka kemungkinan pemulung menjadi pekerjaan paling berisiko tertular hantavirus, di mana tempat pembuangan sampah ini banyak ditemukan tikus.

Urin, kotoran, dan air liur tikus yang tertinggal di sisa-sisa makanan atau limbah di tempat pembuangan sampah akan teraerosol dan terhirup oleh manusia.

‎Populasi tikus menjadi faktor risiko utama penularan hantavirus ke manusia. Lingkungan yang kurang higienis menyebabkan populasi tikus semakin banyak, karena kebiasaan manusia menyediakan makanan dan tempat tinggal bagi hewan pengerat ini. Manusia berisiko terinfeksi hantavirus ketika beraktivitas di wilayah yang menjadi habitat tikus.

‎Lingkungan yang kurang higienis menyebabkan populasi tikus cukup tinggi, seperti kasus di Kota Semarang. Dalam penelitiannya pada 2014 lalu, Arif menemukan dua kasus infeksi hantavirus terhadap manusia. Temuan dari studi ini mengungkapkan bahwa sebesar 12 persen tikus yang tertangkap positif hantavirus secara serologi dengan pemeriksaan ELISA.

‎Saat itu, tingkat kepadatan tikus di Kota Semarang cukup tinggi atau sekitar 21 dari 100 perangkap berhasil menangkap tikus. Padahal, merujuk pada standar baku mutu lingkungan Kementerian Kesehatan, kepadatan hewan pengerat di lingkungan pemukiman dan fasilitas umum harus kurang dari 1 persen

‎"Penularan Ortho hantavirus akibat lingkungan yang kurang higienis di mana lingkungan tersebut menyediakan sumber makanan bagi tikus, maupun menyediakan tikus untuk tempat tinggal maupun berkembang biak, sehingga terjadilah kasus-kasus infeksi pada manusia," ucapnya.

‎Mutasi virus pada tikus

‎Sebagai virus RNA, mutasi ortho-hantavirus tergolong rendah jika dibandingkan flu burung atau coronavirus.

‎"Jadi, memang ketika virus ini jumping ke bukan inang alamiahnya, seperti tadi yang sudah saya sampaikan, Seoul virus itu dia mempunyai inang alamiah itu ‎Rattus norvegicus atau tikus got. Ketika jumping ke Rattus tanezumi, ini mengalami mutasi karena mungkin ada tekanan imun dari inang baru sehingga dia mutasi dan menghasilkan serang virus seperti itu," tutur Arif.

‎Untuk penularan hantavirus antar tikus memang lebih mudah ketimbang ‎dengan manusia. Selain dengan aerosol, penularan antar tikus dapat melalui perkelahian, saling menggigit, sampai perkawinan.

Baca juga: Waspada Hantavirus, Ini Cara Mencegah Tikus Masuk ke Dalam Rumah

Sebelumnya, epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman mengatakan, beberapa kelompok masyarakat memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap paparan hantavirus yang ditularkan hewan pengerat.

Kelompok tersebut yaitu, petugas kebersihan, tukang sampah, pekerja gudang dan pelabuhan, petani, orang-orang yang sering terpapar lingkungan tertutup dan kotor, serta masyarakat di daerah banjir.

‎Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat perlu mewaspadai beberapa faktor yang mendukung penyebaran hantavirus di Indonesia. Faktor yang dimaksud adalah hewan pengerat (rodensia) yang di Indonesia tergolong tinggi, banjir musiman, sanitasi perkotaan yang kotor, serta kepadatan pelabuhan dan pergudangan. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Pemerintah
Sampah yang Tak Terkelola di Bantargebang Potensial Jadi Sarang Penularan Hantavirus
Sampah yang Tak Terkelola di Bantargebang Potensial Jadi Sarang Penularan Hantavirus
LSM/Figur
Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional
Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional
LSM/Figur
Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?
Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?
LSM/Figur
J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Dorong Keberlanjutan lewat Teknologi dan Aksi Sosial
J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Dorong Keberlanjutan lewat Teknologi dan Aksi Sosial
BrandzView
Gandeng SPE UI, Pertamina Internasional EP Tanam Mangrove di Pesisir Pantai Bekasi
Gandeng SPE UI, Pertamina Internasional EP Tanam Mangrove di Pesisir Pantai Bekasi
BUMN
East Ventures Catat Penurunan Emisi 23 Persen sepanjang 2025
East Ventures Catat Penurunan Emisi 23 Persen sepanjang 2025
Swasta
Dampak Tersembunyi Krisis Iklim, dari Kemiskinan hingga Kerja Paksa
Dampak Tersembunyi Krisis Iklim, dari Kemiskinan hingga Kerja Paksa
LSM/Figur
Sektor Kehutanan RI dan Lembaga Verra Percepat Perdagangan Karbon
Sektor Kehutanan RI dan Lembaga Verra Percepat Perdagangan Karbon
Pemerintah
Polusi Batu Bara Hambat Produktivitas Panel Surya
Polusi Batu Bara Hambat Produktivitas Panel Surya
Pemerintah
Jerman Diprediksi Gagal Mencapai Target Iklim 2045
Jerman Diprediksi Gagal Mencapai Target Iklim 2045
Pemerintah
Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran
Kekeringan Parah Dorong Hutan Tropis ke Ambang Kehancuran
Pemerintah
Survei: Kinerja Lingkungan Kini Jadi Pilar Inti Strategi Bisnis
Survei: Kinerja Lingkungan Kini Jadi Pilar Inti Strategi Bisnis
Pemerintah
Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT
Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT
Pemerintah
Kabupaten Sigi Jadi Laboratorium Adaptasi Perubahan Iklim
Kabupaten Sigi Jadi Laboratorium Adaptasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau