JAKARTA, KOMPAS.com - Dua startup internasional, Havoc dari Amerika Serikat dan blueOASIS dari Portugal, terpilih untuk mengembangkan serta menguji teknologi pemantauan laut dan pesisir di Indonesia melalui program Global Ocean Innovation Challenge.
Program ini merupakan inisiatif organisasi konservasi The Nature Conservancy (TNC) bersama Newlab, platform kolaborasi startup dan industri global yang mendorong inovasi teknologi di sektor konservasi laut.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Miftahul Huda menjelaskan, Havoc dan blueOasis terpilih karena dinilai mampu memberikan solusi atas tantangan yang dihadapi Indonesia.
“Wilayah laut kita sangat luas dan bahkan banyak yang terpencil. Kita membutuhkan inovasi teknologi untuk mengatasi hal tersebut, sekaligus membantu mencapai target komitmen nasional KKP melindungi 97,5 juta hektare kawasan perairan pada tahun 2045,” kata Huda dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).
Baca juga: Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Menurut dia, Havoc terpilih karena menghadirkan armada kapal permukaan tanpa awak (Autonomous Surface Vessel) yang dapat memantau kawasan konservasi.
Teknologi tersebut memungkinkan perluasan jangkauan pemantauan sekaligus mengurangi beban pada patroli konvensional yang membutuhkan biaya besar dan berisiko bagi petugas.
Sementara itu, blueOASIS mengembangkan stasiun pemantauan suara bawah laut bertenaga surya yang dilengkapi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Teknologi tersebut dapat mendeteksi mamalia laut seperti paus dan hiu serta aktivitas laut lainnya secara real time.
Global Ocean Innovation Challenge memilih Indonesia sebagai wilayah uji coba pertama penerapan teknologi ini, dengan fokus pada Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur.
Selain merupakan bagian dari kawasan Segitiga Karang Dunia wilayah ini dikenal sebagai jalur migrasi penting bagi mamalia laut, sehingga membutuhkan sistem pemantauan yang andal dan berkelanjutan.
Baca juga: Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air
Program Global Ocean Innovation Challenge sendiri diluncurkan pada Januari 2026, dan menerima lebih dari 60 proposal dari startup serta pengembang teknologi asal 24 negara. Seleksi dilakukan berdasarkan kelayakan teknis dan kesesuaian solusi dengan kebutuhan konservasi di lapangan.
Kedua startup dijadwalkan memulai uji coba teknologi pada Juni 2026 dengan melibatkan pemerintah, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dan masyarakat lokal.
“Pemanfaatan teknologi pemantauan yang andal sangat penting untuk memastikan pengelolaan ruang laut dan kawasan konservasi berjalan sesuai rencana. Data yang lebih akurat dan real time akan membantu proses perencanaan, pengawasan, dan pengambilan kebijakan yang lebih tepat dan responsif,” beber Huda.
Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman menyebut teknologi menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas.
“Kami berharap teknologi ini dapat menjembatani kesenjangan yang selama ini ada dalam hal pemantauan dan ketersediaan data, sekaligus memperkuat kapasitas lokal untuk pengelolaan kawasan konservasi laut dan perikanan secara lebih efektif,” ucap Ilman.
Melalui Global Ocean Innovation Challenge, ketiga startup terpilih akan menerima dukungan dana hibah hingga 200.000 dollar AS (Rp 3,53 miliar).
Selain itu, mendapatkan dukungan teknis, keahlian di bidang konservasi, serta akses ke jaringan investor dan berbagai sumber daya yang mendukung pengembangan prototipe teknologi mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya