Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejumlah Guru Besar IPB Tawarkan Solusi Ilmiah untuk Atasi Krisis Global

Kompas.com, 20 Mei 2026, 21:40 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Para guru besar IPB University mengusulkan sejumlah solusi berbasis sains dan teknologi untuk menjawab tantangan global mulai dari krisis energi, ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga penguatan ekonomi nasional.

Sebagaimana disampaikan Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB Prof Edy Hartulistiyoso dalam konferensi pers pra orasi ilmiah yang dilaksanakan secara daring, Rabu (20/5/2026). Dia menyoroti ancaman kenaikan suhu bumi akibat emisi karbon dari energi fosil yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Ia menyebut suhu global pada 2025 telah meningkat sekitar 1,5 derajat Celsius dibanding era pra-industri atau melampaui batas aman yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015.

Baca juga: IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat

Menurut dia, Indonesia perlu mempercepat pemanfaatan energi terbarukan melalui pengembangan sistem termal berbasis biomassa, panas bumi, limbah industri hingga energi surya.

“Pengembangan teknologi pemanfaatan biomassa sangat penting untuk mengatasi tantangan perubahan iklim dan mendukung keberlanjutan energi nasional,” kata Edy.

Edy juga mengusulkan konsep CHPP (Combined Heat, Power and Product) yang tidak hanya menghasilkan listrik dari biomassa, tetapi juga menghasilkan biochar dan bio-oil bernilai ekonomi tinggi untuk kebutuhan industri maju.

Sektor perikanan

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Prof Kukuh Nirmala menilai pengelolaan lingkungan budidaya menjadi kunci peningkatan produktivitas perikanan nasional secara berkelanjutan.

Ia menyoroti tingginya serangan penyakit pada budidaya udang dan rumput laut yang menyebabkan kerugian besar bagi pembudidaya.

“Rekayasa lingkungan akuakultur secara proaktif menjadi kunci peningkatan produktivitas budidaya yang berkelanjutan,” ujar Kukuh.

Dalam penelitiannya, pemberian mineral lengkap pada tambak udang mampu meningkatkan produksi dari 14,45 ton per hektare menjadi 20,976 ton per hektare.

Selain itu, teknologi perendaman bibit rumput laut menggunakan kalsium dan silikat disebut mampu menekan serangan penyakit “ice-ice” dari 91 persen menjadi hanya 17,77 persen.

Pada sektor perikanan tangkap, Guru Besar FPIK IPB Prof. Mochammad Riyanto menekankan pentingnya pendekatan etologi ikan atau studi perilaku ikan untuk mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Baca juga: Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran

Menurut dia, pemanfaatan teknologi lampu LED pada alat tangkap dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan dampak ekologis.

“Pengelolaan perikanan perlu beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” terang Riyanto.

Ia menyebut penggunaan lampu LED hijau pada jaring insang mampu mengurangi tangkapan sampingan penyu hingga 60 persen tanpa mengurangi hasil tangkapan utama.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
Pemerintah
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Swasta
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Pemerintah
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Pemerintah
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
LSM/Figur
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Pemerintah
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
LSM/Figur
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
BUMN
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau