Editor
KOMPAS.com - Para guru besar IPB University mengusulkan sejumlah solusi berbasis sains dan teknologi untuk menjawab tantangan global mulai dari krisis energi, ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga penguatan ekonomi nasional.
Sebagaimana disampaikan Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB Prof Edy Hartulistiyoso dalam konferensi pers pra orasi ilmiah yang dilaksanakan secara daring, Rabu (20/5/2026). Dia menyoroti ancaman kenaikan suhu bumi akibat emisi karbon dari energi fosil yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Ia menyebut suhu global pada 2025 telah meningkat sekitar 1,5 derajat Celsius dibanding era pra-industri atau melampaui batas aman yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015.
Baca juga: IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
Menurut dia, Indonesia perlu mempercepat pemanfaatan energi terbarukan melalui pengembangan sistem termal berbasis biomassa, panas bumi, limbah industri hingga energi surya.
“Pengembangan teknologi pemanfaatan biomassa sangat penting untuk mengatasi tantangan perubahan iklim dan mendukung keberlanjutan energi nasional,” kata Edy.
Edy juga mengusulkan konsep CHPP (Combined Heat, Power and Product) yang tidak hanya menghasilkan listrik dari biomassa, tetapi juga menghasilkan biochar dan bio-oil bernilai ekonomi tinggi untuk kebutuhan industri maju.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Prof Kukuh Nirmala menilai pengelolaan lingkungan budidaya menjadi kunci peningkatan produktivitas perikanan nasional secara berkelanjutan.
Ia menyoroti tingginya serangan penyakit pada budidaya udang dan rumput laut yang menyebabkan kerugian besar bagi pembudidaya.
“Rekayasa lingkungan akuakultur secara proaktif menjadi kunci peningkatan produktivitas budidaya yang berkelanjutan,” ujar Kukuh.
Dalam penelitiannya, pemberian mineral lengkap pada tambak udang mampu meningkatkan produksi dari 14,45 ton per hektare menjadi 20,976 ton per hektare.
Selain itu, teknologi perendaman bibit rumput laut menggunakan kalsium dan silikat disebut mampu menekan serangan penyakit “ice-ice” dari 91 persen menjadi hanya 17,77 persen.
Pada sektor perikanan tangkap, Guru Besar FPIK IPB Prof. Mochammad Riyanto menekankan pentingnya pendekatan etologi ikan atau studi perilaku ikan untuk mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan.
Baca juga: Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran
Menurut dia, pemanfaatan teknologi lampu LED pada alat tangkap dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan dampak ekologis.
“Pengelolaan perikanan perlu beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” terang Riyanto.
Ia menyebut penggunaan lampu LED hijau pada jaring insang mampu mengurangi tangkapan sampingan penyu hingga 60 persen tanpa mengurangi hasil tangkapan utama.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya