KOMPAS.com - Harga bahan makanan yang terdampak cuaca buruk naik dua kali lipat lebih cepat dibandingkan barang belanjaan lainnya. Ini adalah hasil analisis terbaru dari lembaga Energy & Climate Intelligence Unit (ECIU).
Melansir Edie, Rabu (20/5/2026) analisis tersebut menemukan bahwa produk-produk yang paling mudah rusak akibat perubahan cuaca sebenarnya hanya memakan porsi sekitar 11 persen dari total daftar belanjaan kita.
Namun, produk yang sedikit ini justru menjadi biang kerok yang menyumbang sekitar 30 persen hingga 40 persen dari total kenaikan harga pangan selama dua tahun terakhir.
Barang-barang yang harganya naik gila-gilaan ini biasanya adalah bahan makanan pokok yang sangat penting dan wajib dibeli sehari-hari, sehingga masyarakat tidak punya pilihan selain tetap membelinya meski mahal.
Baca juga: Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran
Lembaga ini menyatakan bahwa perbedaan ini menunjukkan betapa tingginya tekanan kenaikan harga saat ini, karena menumpuk pada beberapa bahan makanan pokok yang jumlahnya sedikit tersebut.
Laporan juga menyoroti lima jenis bahan pangan utama yakni mentega, daging sapi, susu, kopi, dan cokelat.
Kenaikan harga kelompok ini mencapai puncaknya sebesar 16 persen pada bulan Juli 2025, yang berarti enam kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan harga makanan dan minuman lainnya.
Guncangan akibat iklim terhadap hasil panen, jalur pengiriman barang, dan pasar perdagangan dunia kini mulai berdampak langsung pada harga eceran di toko-toko. Hal ini membuat perkiraan harga-harga di masa depan menjadi semakin tidak menentu dan tidak stabil.
Lembaga ECIU berpendapat bahwa perubahan iklim sekarang telah menjadi penyebab utama yang permanen atas kenaikan harga pangan, bukan lagi sekadar gangguan sementara.
Hal ini menciptakan tekanan yang terus-menerus pada dompet atau anggaran rumah tangga, serta menyulitkan tugas pemerintah yang sedang berusaha menstabilkan harga-harga barang.
Selain iklim, pasar pangan dunia juga harus menghadapi gangguan besar akibat faktor global lainnya, termasuk ketegangan politik antarnegara yang berkaitan dengan konflik Iran serta naik-turunnya harga energi.
Tekanan-tekanan ini bisa memperparah kelangkaan pasokan barang yang sudah rusak akibat cuaca buruk, sehingga akhirnya mendongkrak biaya pembuatan produk, biaya transportasi hingga biaya pengolahan di pabrik.
Baca juga: Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
"Meskipun angka kenaikan harga saat ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah belum berdampak langsung pada harga makanan, namun tekanan di dalam jalur pengiriman barang sebenarnya terus menumpuk," ungkap Chris Jaccarini, seorang analis bidang lahan, pangan, dan pertanian dari ECIU.
Harga makanan diperkirakan akan menjadi 50 persen lebih mahal dibandingkan saat krisis biaya hidup dimulai pada pertengahan tahun 2021. Sementara itu, biaya listrik atau bensin, asuransi, dan air sudah lebih dulu naik sebesar itu,
Dan selama kita belum bisa menstabilkan iklim, masyarakat akan terus menanggung biaya yang mahal ini.
"Jika kita tidak segera menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi hingga bersih, tekanan harga ini akan semakin parah. Hanya dengan mencapai net-zero kita bisa mengembalikan keseimbangan iklim dan melindungi diri kita dari keputusan-keputusan tak terduga dari para pemimpin dunia," tambah Jaccarini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya