Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Plastik Makanan dan Minuman Dominasi Laut Indonesia

Kompas.com, 21 Mei 2026, 15:20 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Kemasan makanan plastik, tutup botol, dan botol plastik adalah jenis sampah yang paling banyak mengotori lautan di bumi. Ini merupakan hasil dari laporan pertama di dunia yang mengelompokkan sampah laut berdasarkan cara pemakaiannya.

Melansir Phys, Rabu (20/5/2026) penelitian baru ini mengumpulkan dan memeriksa lebih dari 5.000 data survei sampah di pantai.

Hasilnya, mereka berhasil mengungkap jenis sampah apa saja yang paling mendominasi di seluruh 7 benua, 9 sistem samudra, 13 wilayah laut, dan 112 negara yang mencakup wilayah yang ditinggali oleh 86 persen total penduduk dunia.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa sampah plastik yang berhubungan dengan makanan dan minuman mendominasi sampah di pinggir pantai seluruh dunia.

Sampah jenis ini masuk dalam tiga besar jenis sampah paling banyak di 93 persen negara, termasuk Inggris dan lima negara dengan penduduk terbanyak di dunia yaitu India, China, Amerika Serikat, Indonesia, dan Pakistan.

Baca juga: PBB: Plastik Daur Ulang untuk Bungkus Makanan Butuh Regulasi Ketat

Secara khusus, kemasan makanan plastik, tutup botol, dan botol plastik menjadi barang yang paling banyak ditemukan di lebih dari setengah jumlah negara di dunia, diikuti oleh kantong plastik dan puntung rokok di urutan berikutnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal One Earth ini dipimpin oleh tim peneliti dari Universitas Plymouth, bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Brunel London, dan Laboratorium Laut Plymouth.

Penelitian ini muncul saat perkiraan menunjukkan bahwa ada 20 juta metrik ton sampah plastik yang masuk ke lingkungan setiap tahunnya. Para penulis penelitian menyatakan bahwa sekarang sudah sangat jelas bahwa urusan mengelola sampah saja tidak akan mampu mengatasi masalah polusi plastik.

Oleh karena itu, diperlukan tindakan nyata yang mendesak untuk mengurangi jumlah plastik yang diproduksi sejak awal.

Tindakan nyata tersebut, misalnya, bisa berupa aturan yang memastikan bahwa pabrik-pabrik hanya boleh memproduksi jenis plastik yang benar-benar memberikan manfaat penting bagi masyarakat.

Usaha saat ini masih belum cukup

Profesor Richard Thompson, pendiri dan Kepala Unit Penelitian Sampah Laut Internasional di Universitas Plymouth sekaligus penulis utama penelitian ini, mengatakan polusi plastik adalah masalah lingkungan global yang memberikan dampak buruk yang sangat besar bagi lingkungan, ekonomi, dan kesehatan manusia.

"Penelitian ini untuk pertama kalinya berhasil memetakan jenis-jenis sampah yang paling banyak ditemukan di tingkat negara, wilayah, hingga seluruh dunia. Hal ini tidak hanya memberi tahu kita daerah mana saja yang harus diutamakan untuk dibersihkan, tetapi juga jenis barang spesifik apa saja yang harus kita kurangi produksinya," katanya.

Penelitian ini juga memberikan bukti penting untuk memandu pihak industri dan pembuat kebijakan tentang hal-hal khusus yang harus menjadi fokus utama dalam mengatasi polusi plastik.

Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa tindakan tegas terhadap plastik yang berhubungan dengan makanan dan minuman adalah prioritas utama di 93 persen negara di dunia.

Dr. Max Kelly, seorang Peneliti Pascadoktoral dan penulis utama penelitian ini, menambahkan mengumpulkan data sampah laut dalam skala sebesar ini adalah pekerjaan yang sangat rumit. Namun, hal ini memungkinkan untuk pertama kalinya memetakan barang apa saja yang paling banyak mengotori garis pantai di seluruh dunia.

Baca juga: Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau