Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?

Kompas.com, 13 Mei 2026, 12:46 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Sebuah penelitian terbaru di Australia menunjukkan kekhawatiran tentang semakin banyaknya penggunaan kata-kata bertema lingkungan pada kemasan makanan di supermarket.

Para peneliti memperingatkan bahwa banyak dari klaim tersebut mungkin hanya sekadar strategi pemasaran, bukan bukti keberlanjutan yang sesungguhnya.

Melansir Know ESG, Selasa (12/5/2026) peneliti dari George Institute for Global Health menyimpulkan temuan tersebut setelah memeriksa lebih dari 27.000 produk makanan kemasan yang dijual di berbagai jaringan supermarket besar di Sydney.

Klaim ramah lingkungan yang tak sesuai

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Public Health Nutrition ini menunjukkan bahwa hampir empat dari 10 produk makanan mencantumkan pesan tertentu terkait keberlanjutan lingkungan.

Baca juga: Indonesia Masuk Daftar Negara Penghasil Limbah Makanan Terbesar di Dunia

Peneliti menemukan 69 jenis klaim lingkungan yang berbeda di rak-rak supermarket. Beberapa istilah yang paling umum digunakan adalah "alami" dan "vegan".

Namun, para ahli yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa banyak dari label tersebut tidak memiliki definisi yang jelas atau bukti dari pihak luar yang independen.

Associate Professor Alexandra Jones, yang memimpin program tata kelola pangan di institut tersebut, mengatakan bahwa sebagian besar klaim dibuat sendiri oleh produsen, bukan didukung oleh sertifikasi dari pihak luar.

Ia memperingatkan bahwa kurangnya aturan mengenai pelabelan lingkungan dapat menciptakan risiko besar terjadinya greenwashing alias klaim ramah lingkungan yang palsu.

Menurut Jones, konsumen kini semakin berusaha memilih makanan yang ramah lingkungan, namun label yang tidak jelas membuat mereka sulit memahami produk mana yang benar-benar memberikan manfaat bagi alam.

Ia juga menunjukkan bahwa istilah seperti "alami" sering kali tidak memiliki definisi hukum yang pasti, meskipun banyak orang menganggapnya sebagai produk yang lebih sehat atau lebih ramah lingkungan.

Emisi tinggi makanan berlabel ramah lingkungan

Para peneliti melakukan studi kedua yang diterbitkan dalam jurnal Cleaner and Responsible Consumption untuk memeriksa apakah produk dengan klaim terkait iklim memang benar-benar memiliki emisi karbon yang lebih rendah.

Hasilnya menunjukkan gambaran yang beragam. Meskipun beberapa produk dengan label lingkungan umumnya memiliki jejak karbon yang lebih rendah, produk lainnya ternyata tidak sesuai dengan klaim mereka.

Dalam kategori seperti daging dan permen, produk yang memasang iklan ramah lingkungan ternyata ditemukan memiliki emisi gas buang yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk sejenis yang tidak memakai label tersebut.

Penulis utama penelitian, Mariel Keaney, mengatakan bahwa temuan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kepercayaan konsumen.

Baca juga: Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot

Ia mencatat bahwa ketika produk dengan emisi tinggi memakai pesan seperti "ramah karbon", pembeli mungkin akhirnya malah tertipu, bukannya mendapatkan informasi yang benar.

Para ahli di luar penelitian ini juga merasa khawatir dengan semakin banyaknya klaim keberlanjutan yang tidak jelas di sektor pangan.

Profesor Natalina Zlatevska dari University of Technology Sydney mengatakan bahwa konsumen kini semakin tertarik untuk memahami dampak lingkungan dari produk-produk yang mereka beli.

Ia menambahkan bahwa banyaknya jenis label yang berbeda dan tidak adanya definisi standar membuat pembeli yang ingin memilih produk ramah lingkungan menjadi bingung.

Penelitian ini menambah panjang perdebatan global mengenai klaim keberlanjutan pangan dan apakah pemerintah perlu membuat aturan yang lebih ketat untuk label lingkungan pada produk-produk di supermarket.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pembiayaan Hijau Global Dorong Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia
Pembiayaan Hijau Global Dorong Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia
BrandzView
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
LSM/Figur
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
Pemerintah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Pemerintah
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Pemerintah
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau