KOMPAS.com - Satu dekade hilirisasi menjadikan Indonesia sebagai raja nikel dunia, yang mampu memasok 60 persen ke rantai pasok global.
Di balik dominasi itu, industri turunan yang mengubah nikel menjadi produk jadi bernilai tinggi di Indonesia justru belum berkembang. Imbasnya, sebagian besar nilai tambah hilirisasi justru dinikmati oleh negara lain.
Laporan terbaru Energy Shift Institute (ESI) berjudul 'Dominance without depth: the smelting superpower that imports its own metal' mencatat, Indonesia menguasai sekitar 86 persen perdagangan global feronikel senilai sekitar 14 miliar dolar AS atau setara Rp 248 triliun pada 2025.
Baca juga: Konsumsi Nikel untuk Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035
Indonesia juga berkontribusi sebesar 75 persen setara sekitar 4 miliar dolar AS atau setara Rp 70,9 triliun untuk perdagangan mixed hydroxide precipitate (MHP), yang merupakan bahan perantara baterai.
Namun, pada produk baja tahan karat (stainless steel) jadi, pangsa Indonesia turun drastis menjadi hanya sekitar 15 persen atau kurang dari 1 miliar dolar AS atau setara Rp 17,7 triliun.
Kendati berhasil membangun pengolahan mineral di dalam negeri dalam 10 terakhir, skala di pabrik peleburan tidak sama dengan pembangunan industri.
Walhasil, Indonesia masih banyak mengimpor produk jadi turunan nikel sederhana, seperti peralatan masak, perlengkapan dan pengencang baja tahan karat dari luar negeri.
“Saat ini, kita mengekspor sebagian besar baja tahan karat dan mengimpornya kembali dalam bentuk peralatan dapur, keran, dan perlengkapan logam yang terbuat dari bahan tersebut. Inilah paradoks yang perlu kita hadapi,” ujar Associate Principal ESI, Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma dalam keterangan tertulis, Senin (25/5/2026).
Selama periode puncak hilirisasi nikel, kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) justru terkontraksi dari sekitar 32 persen pada 2002, menjadi hanya 19 persen pada 2024.
Pada periode yang sama, indeks kompleksitas ekonomi Indonesia juga mengalami penurunan, menunjukkan melemahnya industri nasional.
Berdasarkan laporan ESI, akar permasalahannya terletak pada tidak optimalnya struktur industri hilirisasi nikel. Sekitar 98 persen kapasitas stainless steel nasional masih terkonsentrasi di tahap hulu, seperti smelting dan produksi baja dasar.
Baca juga: Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional
Adapun 70 persen fasilitas pemrosesan berhenti pada produksi lempengan baja, dengan 85 persen kapasitas produksinya dialokasikan untuk ekspor.
Ini menggambarkan industri lanjutan, seperti pabrik pipa, produsen baut dan mur, pemotongan dan pencetakan baja, pusat layanan logam, sampai fasilitas pelapisan permukaan, masih sangat terbatas di dalam negeri.
Hingga saat ini, Indonesia mengimpor 80 persen konsumsi nikelnya, bahkan dalam bentuk barang yang paling sederhana.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya