JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia sudah dapat mengolah biji nikel hingga ke tahap memproduksi baja tahan karat (stainless steel) dengan 80 persen diekspor dan hanya 20 persen diolah kembali di dalam negeri.
Di saat bersamaan, Indonesia justru mengimpor 80 persen produk turunan nikel, bahkan dalam bentuk barang yang paling sederhana.
"Ini yang membuat kami dilema. Kenapa sih enggak bisa diproduksi sendiri? Kenapa enggak bisa diolah sendiri stainless steel itu? Sementara kita mengimpor 80 persen lagi dari apa yang kita konsumsi, sendok garpu. Itu hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa kita produksi dalam negeri," ujar Associate Principal Energy Shift Institute (ESI), Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma dalam diskusi Mendorong Hilirisasi Nikel di Indonesia menjadi Mesin Pemerataan Nilai Tambah dan Pertumbuhan Industri Hijau, Senin (25/5/2026).
Baca juga: RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW
Di dalam industri stainless steel di Indonesia, hilirisasi nikelnya selama ini hanya menghasilkan produk tier-3, seperti lempengan baja (slab) dan hot rolled coil (HRC). Namun, untuk berlanjut ke produk tier-2, tidak ada industri di dalam negeri yang mampu mengolah slab, HRC, dan berbagai produk setengah jadi lainnya.
Padahal, kata dia, industri manufaktur untuk produk tier-2, seperti stamping, motong, dan rolling stainless steel, sebenarnya tidak terlalu membutuhkan modal banyak untuk diproduksi.
Tanpa tekanan dari pemerintah untuk menyalurkan stainless steel ke dalam negeri, industri manufaktur untuk produk tier-2 dan pasarnya tidak akan terbentuk.
Indonesia sebenarnya menargetkan untuk hilirisasi nikel dapat menghasilkan produk tier-1. Misalnya, kendaraan listrik (EV) made in Indonesia dengan baterai berbasis nikel.
"Target pemerintah, kita bisa bisa bikin produk sendiri, made in Indonesia. Tapi, tier-2-nya kosong, bagaimana kita mau masuk ke tier- 1-nya?, hal yang paling simpelnya tuh kita kosong. Kita langsung mau melompat ke tier-1, punya brand sendiri, bikin mobil sendiri dan segala macam. Itu sebuah leapfrog (melompati) yang mungkin butuh bertahun-tahun dilakukan oleh China," tutur Zuhdi.
Di sisi lain, produk tier-3 yang diproduksi dari hilirisasi nikel di Indonesia masih didominasi penanaman modal asing (Foreign Direct Investment/FDI) dari China. Kata dia, enggak ada alasan untuk FDI dari China mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Sementara itu, produk tier-2 dari hilirisasi nikel di Indonesia diproduksi oleh tiga perusahaan besar, dengan salah satu di antaranya berasal dari India dalam tahap proses likuidasi.
Zuhdi mempertanyakan mengapa Indonesia terlalu berfokus pada menghasilkan produk tier-1, justru ketika manufaktur untuk tier-2, dengan tiga perusahaan tersisa bukan dari China, terkesan diabaikan.
Ia memperingatkan potensi risiko Indonesia kalah dalam daya saing untuk produk turunan nikel di era industrialisasi hijau (green industrialization) karena faktor kesepadanan (fungibility).
Stainless steel yang diolah di Indonesia untuk diekspor justru berisiko kalah dengan produk serupa negara-negara lain dari aspek keberlanjutan atau produksinya kurang ramah lingkungan.
"Dengan membuat industri yang semakin kuat, green industrialization itu sebenarnya bukan lagi tantangan yang berat. Karena kita bisa saja request di dalam negeri untuk stainless steel producer untuk menyediakan stainless steel yang diproduksi dengan lebih bersih. Itu logika yang bisa dipakai di seluruh industri sebenarnya," ucapnya.
Menurut Zuhdi, teknologi untuk mendukung industri metalurgi dalam memproduksi stainless steel sudah matang. Itu berbeda dengan industri baterai EV yang masih relatif baru, yang membutuhkan penguatan Research and Development (R&D).
Baca juga: Nilai Tambah Hilirisasi Nikel RI Dinikmati Negara Lain
Senada, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, Imaduddin Abdullah mengatakan, mengolah stainless steel semestinya menjadi prioritas utama bagi Indonesia dalam hilirisasi nikel untuk produk tier-2.
"Sebenarnya salah satu yang menarik adalah ternyata opportunity gain dari produk-produk stainless steel tadi ya fabrication itu relatif tinggi gitu ya ketimbang baterai sebenarnya. Jadi, sebenarnya potensi diversifikasi dengan stainless steel itu relatif lebih tinggi dibandingkan baterai," ujar Imaduddin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya