KOMPAS.com - Masyarakat Pakistan ramai-ramai beralih menggunakan skuter listrik (electric scooter) setelah harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak tajam dan inflasi menekan anggaran rumah tangga.
Kenaikan harga ini dipicu oleh tidak stabilnya pasar minyak dunia akibat ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.
"Harga bensin meningkat dari hari ke hari. Menjadi sulit bagi saya untuk membeli bahan bakar dengan gaji saya, jadi akhirnya beralih ke skuter listrik," kata Misbah Younus, salah satu pekerja di Pakistan.
Younus, yang bekerja di Right To Play, sebuah organisasi nirlaba internasional yang mendukung anak-anak, hanya satu di antara semakin banyak warga Pakistan yang beralih ke skuter dan sepeda listrik untuk mencari cara yang lebih murah untuk bepergian.
Peralihan ini, melansir CNA, Minggu (28/6/2026) terjadi setelah kenaikan tajam yang disebabkan oleh tidak stabilnya pasar minyak dunia dan terganggunya pasokan minyak akibat ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.
Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Para dealer skuter listrik mengatakan bahwa permintaan tersebut melonjak tajam, terutama di kalangan pekerja kantor, pelajar, dan kurir pengantar barang. Beberapa toko dan bengkel modifikasi melaporkan penjualan mereka melonjak hingga 70 persen pada bulan Maret.
"Kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu, masalah rantai pasokan barang, semua hal itu pastinya mendorong tren orang-orang untuk beralih ke kendaraan listrik," kata Saad Farrukh, pemimpin EVEE Electric, sebuah perusahaan di kota Lahore yang merakit sepeda listrik secara lokal.
Dia menambahkan bahwa perbedaan biaya pemakaian sehari-hari sangatlah besar.
“Mengendarai motor biasa sejauh 50 km akan menghabiskan biaya sekitar 400 rupee Pakistan atau setara 1,50 dolar AS. Sedangkan jika menggunakan kendaraan listrik, biaya listriknya hanya sekitar 0,50 dolar AS,” katanya.
Hitung-hitungan hematnya kendaraan listrik ini menjadi makin menarik di negara tersebut, karena sepeda motor adalah alat transportasi utama bagi jutaan orang, sementara pilihan transportasi umum di sana masih sangat terbatas.
Menurut lembaga konsultan Renewables First, penjualan kendaraan roda dua listrik di Pakistan melonjak hampir tiga kali lipat tahun lalu menjadi sekitar 90.000 unit, atau menyumbang sekitar 5 persen dari total seluruh kendaraan roda dua yang terjual.
Tahun ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, kendaraan listrik berhasil menyumbang lebih dari 10 persen dari total penjualan bulanan kendaraan roda dua, menurut para analis industri.
Sebagian besar industri kendaraan listrik yang baru berkembang di Pakistan ini sangat bergantung pada teknologi, suku cadang, dan keahlian dari China.
Para pelaku industri mengatakan bahwa kerja sama tersebut membantu produsen lokal meningkatkan jumlah produksi dan mengembangkan sektor ini dengan lebih cepat.
Kevin Lee, pemegang saham asal China di perusahaan EVEE, mengatakan bahwa sektor kendaraan listrik di Pakistan masih memiliki ruang yang sangat besar untuk berkembang, mulai dari bagian penelitian dan pengembangan (R&D), pembuatan unit, hingga layanan servisnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya