KOMPAS.com - Gelombang panas yang melanda Eropa Barat pada awal musim panas mendorong lonjakan produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Kondisi tersebut menyebabkan harga listrik di sejumlah negara Eropa turun hingga di bawah nol atau menjadi negatif karena pasokan energi melebihi permintaan.
Fenomena harga listrik negatif terjadi di pasar grosir energi, tempat produsen dan pembeli listrik melakukan transaksi harian.
Baca juga: Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Meski demikian, kondisi ini tidak serta-merta menurunkan tagihan listrik rumah tangga karena harga negatif hanya terjadi pada perdagangan antar pelaku pasar energi.
Harga listrik per jam di Inggris sempat menjadi negatif pada Minggu (24/5/2026), disusul Prancis pada Selasa (26/5/2026), ketika suhu udara meningkat tajam dan produksi listrik tenaga surya melonjak.
Dikutip dari Euronews dan DW, Selasa (2/6/2026), di Semenanjung Iberia yang mencakup Spanyol dan Portugal, frekuensi harga listrik negatif bahkan mencetak rekor baru pada kuartal pertama 2026.
Dalam pasar listrik harian Eropa, produsen energi bersaing menawarkan listrik dengan harga tertentu.
Ketika pasokan melimpah dan permintaan tidak mampu menyerap seluruh produksi, sebagian produsen memilih tetap menjual listrik dengan harga sangat rendah, bahkan negatif, karena biaya menghentikan dan menghidupkan kembali pembangkit dinilai lebih mahal.
Fenomena ini menyoroti tantangan baru dalam transisi energi Eropa. Di satu sisi, kapasitas energi terbarukan terus bertambah.
Namun di sisi lain, infrastruktur jaringan listrik dan fasilitas penyimpanan energi belum berkembang secepat peningkatan produksi listrik dari sumber energi terbarukan.
Menurut laporan lembaga riset energi Ember, jaringan listrik di Eropa saat ini belum sepenuhnya siap mengakomodasi lonjakan pasokan dari energi surya dan angin.
Sebagian besar jaringan yang ada dirancang untuk melayani pembangkit listrik konvensional yang terpusat, bukan pembangkit energi terbarukan yang tersebar di berbagai lokasi.
Akibat keterbatasan tersebut, listrik yang dihasilkan PLTS dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) tidak selalu dapat disalurkan ke wilayah yang membutuhkan. Ember memperkirakan lebih dari 120 gigawatt kapasitas energi terbarukan yang direncanakan berisiko terhambat akibat keterbatasan jaringan listrik.
Selain jaringan, kapasitas penyimpanan energi juga menjadi tantangan utama. Ketika produksi listrik meningkat tajam pada siang hari, kelebihan energi sulit disimpan untuk digunakan pada malam hari atau saat permintaan meningkat.
Baca juga: RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW
Data SolarPower Europe menunjukkan Uni Eropa memasang kapasitas baru sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau battery energy storage system (BESS) sebesar 27,1 gigawatt-hour (GWh) sepanjang 2025.
Meski menjadi rekor pertumbuhan selama 12 tahun berturut-turut, angka tersebut masih jauh dari kebutuhan untuk menopang sistem energi berbasis energi terbarukan.
Saat ini kapasitas penyimpanan baterai di Eropa telah mencapai lebih dari 77 GWh. Namun, untuk mencapai target transisi energi pada 2030, kapasitas tersebut diperkirakan perlu meningkat hingga sekitar 750 GWh dalam lima tahun ke depan.
Jerman dan Italia menjadi negara dengan penambahan kapasitas baterai terbesar di Eropa pada 2025. Sementara Bulgaria tercatat sebagai pasar dengan pertumbuhan tercepat, disusul Belanda dan Spanyol.
Profesor sistem penyimpanan energi dari RWTH Aachen University, Jerman, Dirk Uwe Sauer, mengatakan negara-negara Eropa perlu mempercepat modernisasi jaringan listrik dan mengintegrasikannya dengan pembangkit energi terbarukan serta fasilitas penyimpanan energi.
Baca juga: Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Menurut dia, pemerintah perlu merencanakan pembangunan jaringan listrik dalam jangka panjang agar mampu mengakomodasi sistem energi masa depan yang semakin bergantung pada sumber energi terbarukan.
Selain itu, Uni Eropa juga berupaya memperkuat pasokan bahan baku baterai seperti litium, nikel, kobalt, dan logam kritis lainnya guna mengurangi ketergantungan terhadap impor dan mendukung pengembangan industri penyimpanan energi di kawasan tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya