Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019

Kompas.com, 18 Juni 2026, 17:19 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Penelitian baru mengungkapkan bahwa komitmen untuk mengatasi perubahan iklim di antara 500 perusahaan terbesar di dunia telah melonjak tiga kali lipat sejak tahun 2019.

Hal ini berdasarkan laporan terbaru dari Climate Impact Partners, yang mengamati bagaimana perusahaan-perusahaan raksasa dalam daftar Fortune Global 500.

Perusahaan yang terdaftar dalam Fortune Global 500 ini jika digabungkan menguasai lebih dari sepertiga total kekayaan ekonomi di seluruh dunia (PDB global).

Dan menurut laporan perusahaan yang termasuk sektor teknologi, otomotif, layanan keuangan, energi, dan sektor lainnya itu sedang merombak total strategi iklim mereka.

Melansir Edie, Rabu (17/6/2026) menurut laporan tersebut, sebanyak 72 persen dari perusahaan-perusahaan raksasa ini sekarang sudah memiliki minimal satu janji nyata terkait iklim, jauh meningkat dibanding tahun 2019 yang hanya 24 persen. Bahkan, lebih dari separuhnya (51 persen) sudah memasang target untuk mencapai nol emisi karbon.

Baca juga: Akal-Akalan Perusahaan Hadapi Aturan Emisi, Pindahkan Pabrik Polutif ke Tempat Lain

Jika digabungkan, perusahaan-perusahaan di wilayah Eropa dan Amerika Utara menyumbang 64 persen dari total seluruh perusahaan dalam daftar yang memiliki komitmen iklim.

Sementara janji net-zero di antara perusahaan-perusahaan Amerika Utara telah melonjak sebesar 141 persen sejak tahun 2021, di mana saat ini sebanyak 54 persen dari mereka telah menerapkan sistem kerja nol emisi karbon.

Di antara semua perusahaan tersebut, sebanyak 63 persen target mereka sekarang dipasang untuk tahun 2030 atau lebih lama lagi, dibanding tahun 2019 yang hanya 11 persen. Hal ini mencerminkan bahwa rencana kerja mereka kini dibuat untuk jangka panjang yang membentang hingga tahun 2050 dan 2060.

Penggunaan kredit karbon makin meningkat

Laporan ini juga mencatat bahwa kredit karbon telah menjadi alat yang semakin umum digunakan dalam strategi iklim perusahaan, terutama di antara perusahaan-perusahaan yang memiliki target ramah lingkungan yang tinggi.

Lebih dari 44 persen perusahaan dalam daftar Fortune Global 500 sekarang secara tegas menyatakan rencana mereka untuk menggunakan kredit karbon. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 75 persen antara tahun 2022 dan 2025.

Analisis ini juga menemukan bahwa perusahaan yang memiliki target nol emisi karbon punya peluang 11 kali lebih besar untuk menggunakan kredit karbon dibandingkan dengan perusahaan lainnya.

Lebih lanjut, di antara 500 perusahaan terbesar di dunia, hanya ada 47 perusahaan yang menggabungkan janji nol emisi karbon dengan target jangka pendek berbasis standar ilmiah serta keanggotaan dalam kelompok RE100 atau kelompok yang berkomitmen memakai 100 energi terbarukan.

Baca juga: Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan

Sektor teknologi memimpin kelompok ini, diikuti oleh sektor kesehatan, telekomunikasi, dan layanan keuangan. Selain itu, ada juga perwakilan dari sektor makanan dan minuman, transportasi, ritel, serta otomotif.

Eropa tetap menjadi wilayah terdepan yang paling banyak menggunakan kredit karbon, dengan 82 perusahaan berencana memakainya dalam strategi iklim mereka. Sementara itu, tingkat penggunaan di Amerika Utara dan Asia cenderung mendatar setelah sempat melonjak tajam antara tahun 2023 dan 2024.

"Temuan dalam laporan FG500 tahun ini menandai momen yang sangat penting, tidak hanya bagi tindakan penyelamatan iklim tetapi juga bagi pasar karbon. Bagi perusahaan-perusahaan terkemuka, perdebatan sudah selesai, mereka kini fokus pada cara menggunakan pasar karbon dengan baik," kata Sheri Hickok, Kepala Eksekutif Climate Impact Partners.

"Masalahnya sekarang adalah kemampuan. Hal yang membedakan antar perusahaan bukan lagi soal apakah mereka menggunakan pasar karbon atau tidak, melainkan seberapa baik mereka menggunakannya untuk mencapai hasil. Sebab tanpa pasar karbon, banyak target nol emisi yang tidak akan bisa tercapai dengan kecepatan atau skala yang dibutuhkan saat ini," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau