Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh

Kompas.com, 20 Juni 2026, 18:57 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Laporan Center for Climate and Energy Solutions (C2ES) dan Systemiq menemukan perusahaan-perusahaan saat ini semakin sadar akan adanya risiko fisik dari perubahan iklim, tetapi mereka masih kesulitan untuk mengubah kesadaran itu menjadi tindakan nyata guna melindungi bisnis mereka.

Melansir ESG Dive, Kamis (18/6/2026) laporan pun mengungkapkan beberapa faktor yang menjadi penghambat, yaitu kesulitan menghitung kerugian iklim dalam bentuk uang, panduan yang membingungkan karena terpecah-pecah, serta kurangnya ketegasan dari pemimpin tertinggi perusahaan.

Bersamaan dengan laporan ini, C2ES dan Systemiq juga meluncurkan sebuah alat bantu agar perusahaan-perusahaan bisa menilai sendiri sejauh mana kesiapan mereka dalam menghadapi risiko krisis iklim.

Faktor penghambat penerapan strategi iklim

Tucker Van Aken, Direktur Senior Systemiq sekaligus salah satu penulis laporan tersebut, menjelaskan bahwa dari hasil diskusi dengan berbagai perusahaan, terungkap bahwa mereka kekurangan panduan kerja yang jelas untuk membangun ketahanan iklim.

Panduan seperti ini padahal sudah ada untuk urusan pengurangan emisi, yang biasanya berfungsi menuntun perusahaan dalam mengambil setiap keputusan penting.

Baca juga: Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019

Kurangnya penerapan ketahanan iklim di seluruh bagian perusahaan ini membuat mereka rawan menghadapi berbagai risiko besar, mulai dari urusan strategi, operasional, hukum, hingga kerugian finansial yang jauh lebih besar daripada sekadar kerusakan fisik bangunan.

Berdasarkan analisis juga, setelah perusahaan terbuka mengumumkan kerugian akibat cuaca buruk dalam laporan keuangan mereka, lebih dari separuh perusahaan gagal mencapai target pertumbuhan pendapatan dalam waktu satu tahun, dan nilai saham mereka turun rata-rata 2,7 persen hanya dalam waktu 30 hari.

Laporan ini dibuat berdasarkan wawancara dengan lebih dari 40 organisasi, pengumpulan riset yang ada, serta penilaian terhadap 30 panduan dan alat ukur risiko iklim yang tersedia saat ini.

Tujuan dari laporan ini sendiri adalah untuk melihat sejauh mana kesiapan perusahaan dalam menghadapi krisis iklim, serta mencari tahu apa saja yang mereka butuhkan agar bisa beralih dari yang sekadar sadar akan risiko krisis iklim menjadi tindakan nyata yang menyeluruh di dalam operasional kantor, rantai pasok bisnis, hingga lingkungan masyarakat tempat mereka bekerja.

Lebih lanjut, Verena Radulovic, Wakil Presiden Keterlibatan Bisnis di C2ES yang juga salah satu penulis laporan ini juga mengatakan tujuan riset ini adalah untuk melihat alat bantuan apa saja yang bisa digunakan perusahaan dan memahami di mana letak kekurangannya.

"Ketika melihat kesiapan lebih mendalam yang dibutuhkan perusahaan saat mereka melangkah lebih jauh ternyata panduan dan bantuan yang tersedia di sana jauh lebih sedikit," katanya.

Menurut laporan tersebut, panduan ketahanan iklim yang ada saat ini sudah sangat bagus dalam membantu perusahaan mengenali jenis bahaya, menghitung seberapa besar risiko yang dihadapi, serta cara melaporkannya ke publik.

Namun, panduan ini justru sangat lemah pada bagian di mana kebanyakan perusahaan mulai kebingungan seperti cara menghitung keuntungan dari investasi ramah lingkungan, cara memasukkan rencana penyelamatan bumi ke dalam anggaran keuangan modal perusahaan, serta cara menyusun proyek nyata yang layak didanai.

Ada kesadaran risiko iklim tapi belum maksimal

Laporan menemukan pula bahwa ada kesadaran perusahaan terhadap risiko krisis iklim, di mana saat ini sudah ada 65 persen perusahaan terbuka yang menyebutkannya dalam laporan tahunan mereka.

Akan tetapi mereka belum membuat bagian dalam perusahaan benar-benar siap menghadapinya. Riset ini juga menemukan bahwa perusahaan masih asal-asalan dan kurang matang secara finansial saat menghitung ketahanan iklim mereka, di mana masalah utamanya adalah cara menentukan nilai uangnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau