"Perusahaan sering kali tidak bisa menjelaskan keuntungan dari investasi ketahanan iklim Ditambah lagi, keuntungan jangka panjang seperti memiliki daya saing yang kuat juga tidak digambarkan secara jelas," tulis laporan ini.
Di antara sulitnya menghitung nilai dari tindakan ketahanan iklim, Tucker Van Aken menjelaskan bahwa perusahaan biasanya hanya fokus menghitung biaya dari kerusakan yang berhasil dihindari.
Artinya, banyak perusahaan hanya fokus pada bencana itu sendiri dan cara memperbaiki kerusakan fisiknya, mereka tidak memikirkan berapa besar kerugian yang harus dibayar akibat hancurnya seluruh jalur pasokan barang mereka.
"Perusahaan-perusahaan yang lebih berpengalaman telah membuka cara pandang mereka dan mampu melihat keuntungan yang lebih besar, tetapi hitungan mereka masih sebatas pada rumus menghindari kerugian fisik saja," tambah Tucker Van Aken.
Baca juga: Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Menurut laporan ini, perusahaan biasanya tidak memiliki penyatuan sistem untuk urusan ketahanan iklim, dan jarang sekali ada perintah tegas dari pemimpin yang bisa menggerakkan tindakan di seluruh bagian perusahaan.
Selain itu, perusahaan umumnya hanya bersifat reaktif. Mereka baru mau mengeluarkan uang untuk membangun sistem yang kuat setelah tertimpa bencana besar.
Akibatnya, perusahaan hanya menyelesaikan setiap masalah satu per satu saat bencana datang, tetapi tidak pernah membangun kemampuan atau sistem manajemen yang kuat untuk menghadapi berbagai bencana yang datang bertubi-tubi dan terjadi secara bersamaan.
Selain meluncurkan alat ukur mandiri untuk organisasi, C2ES dan Systemiq juga mengumpulkan berbagai panduan, standar, dan contoh cara kerja terbaik mengenai ketahanan iklim ke dalam sebuah katalog yang mudah dibaca.
"Ketika risiko fisik akibat krisis iklim semakin parah, perusahaan yang mampu tetap mengirimkan barang atau jasa dengan lancar di tengah bencana, mampu melindungi jalur pasokan barang serta masyarakat tempat mereka bergantung, dan bisa menjaga kepercayaan dari pelanggan, pemerintah, serta investor, akan menjadi perusahaan yang paling unggul di antara para pesaingnya," papar Presiden C2ES, Nat Keohane.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya