KOMPAS.com - Laporan Center for Climate and Energy Solutions (C2ES) dan Systemiq menemukan perusahaan-perusahaan saat ini semakin sadar akan adanya risiko fisik dari perubahan iklim, tetapi mereka masih kesulitan untuk mengubah kesadaran itu menjadi tindakan nyata guna melindungi bisnis mereka.
Melansir ESG Dive, Kamis (18/6/2026) laporan pun mengungkapkan beberapa faktor yang menjadi penghambat, yaitu kesulitan menghitung kerugian iklim dalam bentuk uang, panduan yang membingungkan karena terpecah-pecah, serta kurangnya ketegasan dari pemimpin tertinggi perusahaan.
Bersamaan dengan laporan ini, C2ES dan Systemiq juga meluncurkan sebuah alat bantu agar perusahaan-perusahaan bisa menilai sendiri sejauh mana kesiapan mereka dalam menghadapi risiko krisis iklim.
Tucker Van Aken, Direktur Senior Systemiq sekaligus salah satu penulis laporan tersebut, menjelaskan bahwa dari hasil diskusi dengan berbagai perusahaan, terungkap bahwa mereka kekurangan panduan kerja yang jelas untuk membangun ketahanan iklim.
Panduan seperti ini padahal sudah ada untuk urusan pengurangan emisi, yang biasanya berfungsi menuntun perusahaan dalam mengambil setiap keputusan penting.
Baca juga: Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Kurangnya penerapan ketahanan iklim di seluruh bagian perusahaan ini membuat mereka rawan menghadapi berbagai risiko besar, mulai dari urusan strategi, operasional, hukum, hingga kerugian finansial yang jauh lebih besar daripada sekadar kerusakan fisik bangunan.
Berdasarkan analisis juga, setelah perusahaan terbuka mengumumkan kerugian akibat cuaca buruk dalam laporan keuangan mereka, lebih dari separuh perusahaan gagal mencapai target pertumbuhan pendapatan dalam waktu satu tahun, dan nilai saham mereka turun rata-rata 2,7 persen hanya dalam waktu 30 hari.
Laporan ini dibuat berdasarkan wawancara dengan lebih dari 40 organisasi, pengumpulan riset yang ada, serta penilaian terhadap 30 panduan dan alat ukur risiko iklim yang tersedia saat ini.
Tujuan dari laporan ini sendiri adalah untuk melihat sejauh mana kesiapan perusahaan dalam menghadapi krisis iklim, serta mencari tahu apa saja yang mereka butuhkan agar bisa beralih dari yang sekadar sadar akan risiko krisis iklim menjadi tindakan nyata yang menyeluruh di dalam operasional kantor, rantai pasok bisnis, hingga lingkungan masyarakat tempat mereka bekerja.
Lebih lanjut, Verena Radulovic, Wakil Presiden Keterlibatan Bisnis di C2ES yang juga salah satu penulis laporan ini juga mengatakan tujuan riset ini adalah untuk melihat alat bantuan apa saja yang bisa digunakan perusahaan dan memahami di mana letak kekurangannya.
"Ketika melihat kesiapan lebih mendalam yang dibutuhkan perusahaan saat mereka melangkah lebih jauh ternyata panduan dan bantuan yang tersedia di sana jauh lebih sedikit," katanya.
Menurut laporan tersebut, panduan ketahanan iklim yang ada saat ini sudah sangat bagus dalam membantu perusahaan mengenali jenis bahaya, menghitung seberapa besar risiko yang dihadapi, serta cara melaporkannya ke publik.
Namun, panduan ini justru sangat lemah pada bagian di mana kebanyakan perusahaan mulai kebingungan seperti cara menghitung keuntungan dari investasi ramah lingkungan, cara memasukkan rencana penyelamatan bumi ke dalam anggaran keuangan modal perusahaan, serta cara menyusun proyek nyata yang layak didanai.
Laporan menemukan pula bahwa ada kesadaran perusahaan terhadap risiko krisis iklim, di mana saat ini sudah ada 65 persen perusahaan terbuka yang menyebutkannya dalam laporan tahunan mereka.
Akan tetapi mereka belum membuat bagian dalam perusahaan benar-benar siap menghadapinya. Riset ini juga menemukan bahwa perusahaan masih asal-asalan dan kurang matang secara finansial saat menghitung ketahanan iklim mereka, di mana masalah utamanya adalah cara menentukan nilai uangnya.
"Perusahaan sering kali tidak bisa menjelaskan keuntungan dari investasi ketahanan iklim Ditambah lagi, keuntungan jangka panjang seperti memiliki daya saing yang kuat juga tidak digambarkan secara jelas," tulis laporan ini.
Di antara sulitnya menghitung nilai dari tindakan ketahanan iklim, Tucker Van Aken menjelaskan bahwa perusahaan biasanya hanya fokus menghitung biaya dari kerusakan yang berhasil dihindari.
Artinya, banyak perusahaan hanya fokus pada bencana itu sendiri dan cara memperbaiki kerusakan fisiknya, mereka tidak memikirkan berapa besar kerugian yang harus dibayar akibat hancurnya seluruh jalur pasokan barang mereka.
"Perusahaan-perusahaan yang lebih berpengalaman telah membuka cara pandang mereka dan mampu melihat keuntungan yang lebih besar, tetapi hitungan mereka masih sebatas pada rumus menghindari kerugian fisik saja," tambah Tucker Van Aken.
Baca juga: Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Menurut laporan ini, perusahaan biasanya tidak memiliki penyatuan sistem untuk urusan ketahanan iklim, dan jarang sekali ada perintah tegas dari pemimpin yang bisa menggerakkan tindakan di seluruh bagian perusahaan.
Selain itu, perusahaan umumnya hanya bersifat reaktif. Mereka baru mau mengeluarkan uang untuk membangun sistem yang kuat setelah tertimpa bencana besar.
Akibatnya, perusahaan hanya menyelesaikan setiap masalah satu per satu saat bencana datang, tetapi tidak pernah membangun kemampuan atau sistem manajemen yang kuat untuk menghadapi berbagai bencana yang datang bertubi-tubi dan terjadi secara bersamaan.
Selain meluncurkan alat ukur mandiri untuk organisasi, C2ES dan Systemiq juga mengumpulkan berbagai panduan, standar, dan contoh cara kerja terbaik mengenai ketahanan iklim ke dalam sebuah katalog yang mudah dibaca.
"Ketika risiko fisik akibat krisis iklim semakin parah, perusahaan yang mampu tetap mengirimkan barang atau jasa dengan lancar di tengah bencana, mampu melindungi jalur pasokan barang serta masyarakat tempat mereka bergantung, dan bisa menjaga kepercayaan dari pelanggan, pemerintah, serta investor, akan menjadi perusahaan yang paling unggul di antara para pesaingnya," papar Presiden C2ES, Nat Keohane.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya