Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga

Kompas.com, 26 Juni 2026, 14:36 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Kelompok Tani Sinar Cabe, Sumbermulyo, Banyuwangi, mampu meraup keuntungan hingga Rp 30 juta per bulan dari perkebunan buah naga. Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe, Sumartini, menjelaskan omzet tersebut bukan didapatkan secara instan.

"Kami bertani buah naga mulai 2013, lalu di tahun 2016 kami beralih ke buah naga organik karena pertama kami pengin buah yang kami hasilkan kalau dimakan konsumen bisa sehat. Yang kedua, kami bisa bertani dengan berkelanjutan," kata Sumartini saat ditemui di kediamannya, Kamis (25/6/2026).

Ia masih mengingat masa ketika hasil panen petani nyaris tak bernilai sekitar tahun 2017-2018. Kala itu, harga buah naga grade A hanya dihargai Rp 1.000-Rp 2.000 per kilogram, sementara buah grade B dan C tak laku dijual.

Para petani pun berinisiatif menyulap buah busuk tak terjual menjadi pupuk cair organik. Sumartini bercerita, awalnya mereka bukan petani buah naga melainkan membudidayakan cabai merah besar. Namun fluktuasi harga membuat usaha ini sulit bertahan.

Baca juga: Asosiasi Petani Minta Pemerintah Evaluasi Keberadaan DSI dalam Tata Niaga Sawit

"Kalau cabai sekali tanam modalnya besar, tiga bulan panen. Kalau gagal, sudah tidak punya modal lagi. Kalau buah naga sekali tanam tinggal dirawat, hasilnya terus-menerus," tutur dia.

Seiring berjalannya waktu, Kelompok Tani Cabe mendapatkan pendampingan dari Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) guna memperluas akses pasar buah naga. Kelompok tani yang beranggotakan 30 petani mampu menembus pasar ekspor hingga Eropa dan Singapura.

"Kami dikasih pelatihan-pelatihan untuk aspek pasar, menuju pasar internasional. Selama ini kami tahunya hanya pasar lokal makanya kalau barang melimpah harganya pasti murah," jelas Sumartini.

Pendampingan saat hama menyerang

Kata dia, saat serangan lalat buah menyerang kebun pada 2021 petani juga memperoleh pendampingan pengendalian hama. Pendampingan itu perlahan membuka akses pasar yang lebih luas.

"Selama kami dibina dengan Desa Sejahtera Astra dan Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra akhirnya kami bisa menemui pasar-pasar modern. Sekarang kami sudah bisa kirim ke supermarket, ke hotel-hotel," tutur dia.

Baca juga: Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global

Pada 2023, ekspor ke Eropa melalui Nusa Fresh mencapai 1,7 ton sementara pengiriman ke Singapura pada 2023–2024 sebanyak 2,4 ton. Lalu di 2025-2026, ekspor ke Singapura dilakukan melalui Agro Resources Indonesia dengan total 11,8 ton buah naga.

Menurut Sumartini, perubahan terbesar bukan hanya soal pasar ekspor, tetapi meningkatnya posisi tawar petani. Jika dahulu harga sepenuhnya ditentukan pasar, kini petani dapat menetapkan harga berdasarkan biaya produksi dan keuntungan yang diharapkan.

Buah naga organik juga memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan buah konvensional, dengan perbedaan Rp 5.000 per kilogramnya. Buah naga organik pun memiliki masa simpan yang lebih lama.

Kelompok tani lantas mulai mengembangkan produk olahan buah naga yang sebelumnya masuk kategori rusak karena cacat ringan, kini diolah menjadi sale buah naga kering melalui kerja sama dengan PT Oreng Osing.

"Buah reject yang pecah sedikit atau benjol itu kami olah menjadi sale buah naga kering. Kelompok kami hanya mengeringkan, sedangkan yang menggoreng dilakukan oleh PT Oreng Osing," sebut Sumartini.

Sementara itu, Ketua Yayasan Astra-YDBA, Rahmat Samulo menjelaskan pendampingan itu dilakukan untuk mendukung Program Desa Sejahtera Astra sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Ia menyebut lewat pendirian Pusat Pendampingan UMKM (PPU) itu Kelompok Tani Sinar Cabe di Sumbermulyo diberikan pelbagai pelatihan untuk meningkatkan hasil panen buah naga yang dimiliki.

"PPU menjalankan program pelatihan dan pendampingan Mentalitas Dasar maupun teknis agar petani dalam proses budidaya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Cost, dan Delivery (QCD) pasar modern lokal maupun luar negeri," beber Rahmat. 

"Selain itu, fasilitasi pasar juga dilakukan agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya," lanjut dia. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
LSM/Figur
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Pemerintah
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
LSM/Figur
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
Pemadaman Bergilir Dinilai Ungkap Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
LSM/Figur
PLTG Dinilai Paling Rentan Krisis Iklim, Kapasitas Berpotensi Turun hingga 4 Persen
PLTG Dinilai Paling Rentan Krisis Iklim, Kapasitas Berpotensi Turun hingga 4 Persen
LSM/Figur
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Pemerintah
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
LSM/Figur
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Pemerintah
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Pemerintah
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
LSM/Figur
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Pemerintah
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Pemerintah
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Pemerintah
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau