BANYUWANGI, KOMPAS.com - Kelompok Tani Sinar Cabe, Sumbermulyo, Banyuwangi, mampu meraup keuntungan hingga Rp 30 juta per bulan dari perkebunan buah naga. Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe, Sumartini, menjelaskan omzet tersebut bukan didapatkan secara instan.
"Kami bertani buah naga mulai 2013, lalu di tahun 2016 kami beralih ke buah naga organik karena pertama kami pengin buah yang kami hasilkan kalau dimakan konsumen bisa sehat. Yang kedua, kami bisa bertani dengan berkelanjutan," kata Sumartini saat ditemui di kediamannya, Kamis (25/6/2026).
Ia masih mengingat masa ketika hasil panen petani nyaris tak bernilai sekitar tahun 2017-2018. Kala itu, harga buah naga grade A hanya dihargai Rp 1.000-Rp 2.000 per kilogram, sementara buah grade B dan C tak laku dijual.
Para petani pun berinisiatif menyulap buah busuk tak terjual menjadi pupuk cair organik. Sumartini bercerita, awalnya mereka bukan petani buah naga melainkan membudidayakan cabai merah besar. Namun fluktuasi harga membuat usaha ini sulit bertahan.
Baca juga: Asosiasi Petani Minta Pemerintah Evaluasi Keberadaan DSI dalam Tata Niaga Sawit
"Kalau cabai sekali tanam modalnya besar, tiga bulan panen. Kalau gagal, sudah tidak punya modal lagi. Kalau buah naga sekali tanam tinggal dirawat, hasilnya terus-menerus," tutur dia.
Seiring berjalannya waktu, Kelompok Tani Cabe mendapatkan pendampingan dari Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) guna memperluas akses pasar buah naga. Kelompok tani yang beranggotakan 30 petani mampu menembus pasar ekspor hingga Eropa dan Singapura.
"Kami dikasih pelatihan-pelatihan untuk aspek pasar, menuju pasar internasional. Selama ini kami tahunya hanya pasar lokal makanya kalau barang melimpah harganya pasti murah," jelas Sumartini.
Kata dia, saat serangan lalat buah menyerang kebun pada 2021 petani juga memperoleh pendampingan pengendalian hama. Pendampingan itu perlahan membuka akses pasar yang lebih luas.
"Selama kami dibina dengan Desa Sejahtera Astra dan Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra akhirnya kami bisa menemui pasar-pasar modern. Sekarang kami sudah bisa kirim ke supermarket, ke hotel-hotel," tutur dia.
Baca juga: Fenomena Super El Nino Ancam Nasib 500 Juta Petani Global
Pada 2023, ekspor ke Eropa melalui Nusa Fresh mencapai 1,7 ton sementara pengiriman ke Singapura pada 2023–2024 sebanyak 2,4 ton. Lalu di 2025-2026, ekspor ke Singapura dilakukan melalui Agro Resources Indonesia dengan total 11,8 ton buah naga.
Menurut Sumartini, perubahan terbesar bukan hanya soal pasar ekspor, tetapi meningkatnya posisi tawar petani. Jika dahulu harga sepenuhnya ditentukan pasar, kini petani dapat menetapkan harga berdasarkan biaya produksi dan keuntungan yang diharapkan.
Buah naga organik juga memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan buah konvensional, dengan perbedaan Rp 5.000 per kilogramnya. Buah naga organik pun memiliki masa simpan yang lebih lama.
Kelompok tani lantas mulai mengembangkan produk olahan buah naga yang sebelumnya masuk kategori rusak karena cacat ringan, kini diolah menjadi sale buah naga kering melalui kerja sama dengan PT Oreng Osing.
"Buah reject yang pecah sedikit atau benjol itu kami olah menjadi sale buah naga kering. Kelompok kami hanya mengeringkan, sedangkan yang menggoreng dilakukan oleh PT Oreng Osing," sebut Sumartini.
Sementara itu, Ketua Yayasan Astra-YDBA, Rahmat Samulo menjelaskan pendampingan itu dilakukan untuk mendukung Program Desa Sejahtera Astra sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Ia menyebut lewat pendirian Pusat Pendampingan UMKM (PPU) itu Kelompok Tani Sinar Cabe di Sumbermulyo diberikan pelbagai pelatihan untuk meningkatkan hasil panen buah naga yang dimiliki.
"PPU menjalankan program pelatihan dan pendampingan Mentalitas Dasar maupun teknis agar petani dalam proses budidaya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Cost, dan Delivery (QCD) pasar modern lokal maupun luar negeri," beber Rahmat.
"Selain itu, fasilitasi pasar juga dilakukan agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya," lanjut dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya