Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan

Kompas.com, 26 Juni 2026, 16:19 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perempuan sering kali terpaksa putus sekolah atau berhenti kerja karena harus melakukan pekerjaan domestik seperti mengurus anak atau orang tua yang sakit di rumah.

Lembaga PBB untuk urusan perempuan UN Women pun mengungkapkan berinvestasi pada sistem perawatan seperti tempat penitipan anak, perawan lansia, dan layanan kesehatan yang lebih kuat bisa menjadi solusi mengurangi beban pekerjaan domestik yang sering kali tanpa gaji dan mayoritas dibebankan pada perempuan.

Sistem perawatan yang lebih kuat tersebut pun dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, memajukan kesejahteraan gender dan menciptakan hampir 300 juta lapangan kerja yang layak pada 2035.

Baca juga: Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim

Kebutuhan perawatan makin tinggi

Melansir Down to Earth, Kamis (25/6/2026) laporan UN Women mencatat bahwa sekitar 350 juta anak di dunia saat ini membutuhkan layanan penitipan anak.

Selain itu, jumlah orang yang membutuhkan perawatan seperti lansia dan orang sakit diperkirakan akan melonjak menjadi 2,3 miliar orang pada tahun 2030, naik dari 2,1 miliar pada tahun 2015.

Karena jumlah lansia terus bertambah dan kebutuhan perawatan makin tinggi, UN Women menyatakan bahwa investasi pada sistem perawatan sudah menjadi kebutuhan ekonomi yang mendesak.

Lembaga tersebut menambahkan bahwa jika pekerjaan rumah tangga tanpa gaji ini dihitung dengan uang, nilainya bisa menyumbang hingga 40 persen dari total pendapatan negara (PDB) di beberapa negara.

Berinvestasi di sektor perawatan ini juga dinilai bisa menciptakan lapangan kerja dua hingga tiga kali lebih banyak dibandingkan jika uang tersebut diinvestasikan pada proyek pembangunan gedung atau konstruksi.

Perempuan terjebak urusan domestik

UN Women menegaskan bahwa mengatasi ketimpangan urusan perawatan ini sangat penting demi keadilan gender.

Saat ini, perempuan dan anak perempuan menghabiskan waktu 2,5 kali lebih banyak setiap harinya untuk mengurus rumah tangga tanpa dibayar dibandingkan laki-laki.

Akibatnya, secara global ada 708 juta perempuan usia produktif (atau sekitar 45 persen) yang tidak bisa ikut bekerja karena terjebak tanggung jawab mengurus rumah dan keluarga, sementara laki-laki yang mengalami hal serupa hanya 5 persen.

Sementara itu pekerjaan merawat yang dibayar seperti pengasuh atau perawat juga sebagian besar dilakukan oleh perempuan, dan sering kali mereka bekerja dalam kondisi dengan gaji rendah serta tidak aman.

Perempuan menyumbang dua pertiga dari total pekerja di sektor perawatan, termasuk di bidang kesehatan, penitipan anak, dan pekerjaan rumah tangga. Mereka juga mencakup 80 persen dari pekerja rumah tangga yang dibayar di seluruh dunia, di mana 90 persen dari para pekerja rumah tangga ini tidak memiliki perlindungan sosial dan jaminan kesehatan.

Lembaga PBB tersebut juga memperingatkan bahwa konflik perang dan bencana akibat perubahan iklim membuat sistem perawatan makin tertekan, di mana perempuan dan anak perempuan harus menanggung sebagian besar beban kerja tambahan tersebut.

Baca juga: Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja Toxic

Dalam situasi krisis atau bencana, perempuan menghabiskan waktu hampir empat kali lebih lama untuk melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa gaji dibandingkan laki-laki.

UN Women menyatakan bahwa investasi di sektor pelayanan perawatan dapat menciptakan hampir 300 juta lapangan kerja baru yang layak pada tahun 2035. Selain itu, investasi di bidang ini menghasilkan polusi 30 persen lebih sedikit dibandingkan jika uang tersebut dipakai untuk proyek pembangunan gedung atau jalanan.

UN Women mendesak pemerintah dan pihak swasta untuk segera mendanai sistem perawatan yang adil. Mereka menyebut langkah ini sebagai salah satu pilihan paling mendesak demi memajukan kesetaraan gender, memakmurkan ekonomi, serta membuat masyarakat lebih tahan banting terhadap krisis.

UN Women sendiri saat ini memiliki program bernama Transform Care Initiative yang bertujuan untuk memperkuat sistem perawatan di lebih dari 50 negara.

Menjelang tahun 2035, program ini diperkirakan bisa membantu 2,9 miliar perempuan dan anak perempuan, menciptakan 260 juta pekerjaan yang layak bagi wanita, serta menghemat 10 triliun jam waktu luang bagi perempuan agar bebas dari beban rumah tangga.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Pemerintah
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Pemerintah
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pemerintah
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
LSM/Figur
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Pemerintah
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Swasta
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Pemerintah
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau