KOMPAS.com - Perempuan sering kali terpaksa putus sekolah atau berhenti kerja karena harus melakukan pekerjaan domestik seperti mengurus anak atau orang tua yang sakit di rumah.
Lembaga PBB untuk urusan perempuan UN Women pun mengungkapkan berinvestasi pada sistem perawatan seperti tempat penitipan anak, perawan lansia, dan layanan kesehatan yang lebih kuat bisa menjadi solusi mengurangi beban pekerjaan domestik yang sering kali tanpa gaji dan mayoritas dibebankan pada perempuan.
Sistem perawatan yang lebih kuat tersebut pun dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, memajukan kesejahteraan gender dan menciptakan hampir 300 juta lapangan kerja yang layak pada 2035.
Baca juga: Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
Melansir Down to Earth, Kamis (25/6/2026) laporan UN Women mencatat bahwa sekitar 350 juta anak di dunia saat ini membutuhkan layanan penitipan anak.
Selain itu, jumlah orang yang membutuhkan perawatan seperti lansia dan orang sakit diperkirakan akan melonjak menjadi 2,3 miliar orang pada tahun 2030, naik dari 2,1 miliar pada tahun 2015.
Karena jumlah lansia terus bertambah dan kebutuhan perawatan makin tinggi, UN Women menyatakan bahwa investasi pada sistem perawatan sudah menjadi kebutuhan ekonomi yang mendesak.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa jika pekerjaan rumah tangga tanpa gaji ini dihitung dengan uang, nilainya bisa menyumbang hingga 40 persen dari total pendapatan negara (PDB) di beberapa negara.
Berinvestasi di sektor perawatan ini juga dinilai bisa menciptakan lapangan kerja dua hingga tiga kali lebih banyak dibandingkan jika uang tersebut diinvestasikan pada proyek pembangunan gedung atau konstruksi.
UN Women menegaskan bahwa mengatasi ketimpangan urusan perawatan ini sangat penting demi keadilan gender.
Saat ini, perempuan dan anak perempuan menghabiskan waktu 2,5 kali lebih banyak setiap harinya untuk mengurus rumah tangga tanpa dibayar dibandingkan laki-laki.
Akibatnya, secara global ada 708 juta perempuan usia produktif (atau sekitar 45 persen) yang tidak bisa ikut bekerja karena terjebak tanggung jawab mengurus rumah dan keluarga, sementara laki-laki yang mengalami hal serupa hanya 5 persen.
Sementara itu pekerjaan merawat yang dibayar seperti pengasuh atau perawat juga sebagian besar dilakukan oleh perempuan, dan sering kali mereka bekerja dalam kondisi dengan gaji rendah serta tidak aman.
Perempuan menyumbang dua pertiga dari total pekerja di sektor perawatan, termasuk di bidang kesehatan, penitipan anak, dan pekerjaan rumah tangga. Mereka juga mencakup 80 persen dari pekerja rumah tangga yang dibayar di seluruh dunia, di mana 90 persen dari para pekerja rumah tangga ini tidak memiliki perlindungan sosial dan jaminan kesehatan.
Lembaga PBB tersebut juga memperingatkan bahwa konflik perang dan bencana akibat perubahan iklim membuat sistem perawatan makin tertekan, di mana perempuan dan anak perempuan harus menanggung sebagian besar beban kerja tambahan tersebut.
Baca juga: Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja Toxic
Dalam situasi krisis atau bencana, perempuan menghabiskan waktu hampir empat kali lebih lama untuk melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa gaji dibandingkan laki-laki.
UN Women menyatakan bahwa investasi di sektor pelayanan perawatan dapat menciptakan hampir 300 juta lapangan kerja baru yang layak pada tahun 2035. Selain itu, investasi di bidang ini menghasilkan polusi 30 persen lebih sedikit dibandingkan jika uang tersebut dipakai untuk proyek pembangunan gedung atau jalanan.
UN Women mendesak pemerintah dan pihak swasta untuk segera mendanai sistem perawatan yang adil. Mereka menyebut langkah ini sebagai salah satu pilihan paling mendesak demi memajukan kesetaraan gender, memakmurkan ekonomi, serta membuat masyarakat lebih tahan banting terhadap krisis.
UN Women sendiri saat ini memiliki program bernama Transform Care Initiative yang bertujuan untuk memperkuat sistem perawatan di lebih dari 50 negara.
Menjelang tahun 2035, program ini diperkirakan bisa membantu 2,9 miliar perempuan dan anak perempuan, menciptakan 260 juta pekerjaan yang layak bagi wanita, serta menghemat 10 triliun jam waktu luang bagi perempuan agar bebas dari beban rumah tangga.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya