KOMPAS.com - Penelitian terbaru menunjukkan pegunungan Himalaya tidak kebal dengan polusi udara.
Ilmuwan menemukan bukti kuat bahwa polusi dari pembakaran batu bara bisa terbang melewati Himalaya selama musim hujan. Lalu, sampai ke bagian selatan Dataran Tinggi Tibet.
Melansir Phys, Jumat (26/6/2026) temuan ini didapat setelah meneliti lumut yang tumbuh di lereng gunung. Tim peneliti bisa membedakan mana polusi dari pabrik lokal dan mana partikel halus yang terbawa angin dari jarak ratusan kilometer.
Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan dataran tinggi yang paling terasing di dunia sekalipun kini mulai tercemar oleh polusi yang dihasilkan dari tempat yang sangat jauh.
Dalam studi ini, peneliti menganalisis lumut untuk mengetahui bagaimana polusi batu bara sampai di pegunungan terpencil dunia.
Baca juga: Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Tidak seperti tanaman lain, lumut menyerap nutrisi dan air langsung dari udara, bukan lewat akar. Artinya, mereka juga menyerap partikel kecil yang ada di udara sehingga lumut bisa menjadi perekam alami yang menunjukkan tingkat polusi udara dari waktu ke waktu.
Xiaoyu Jiao dari China University of Geosciences bersama rekan-rekannya mengukur kadar beberapa logam berbahaya pada lumut tersebut, termasuk seng, timbal, arsenik, nikel, dan kobalt.
Mereka juga memeriksa jenis seng khusus yang disebut isotop seng. Isotop ini berfungsi seperti "sidik jari kimia" karena setiap jenis industri menghasilkan jejak seng yang berbeda.
Pembakaran batu bara biasanya menghasilkan jejak seng yang berat, sedangkan peleburan logam bersuhu tinggi menghasilkan seng yang ringan.
Dengan mengukur perbedaan tipis ini, para peneliti bisa memperkirakan dari mana polusi itu berasal dan bagaimana sumber utamanya berubah di sepanjang jalur pendakian dari ketinggian 750 hingga 4.100 meter di atas permukaan laut di Ngarai Besar Yarlung Tsangpo.
Di sisi selatan Himalaya, polanya terlihat sangat jelas. Di daerah yang lebih rendah, lumut mengandung logam berbahaya yang cukup tinggi dengan jejak seng yang ringan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar 42 hingga 50 persen polusi di daerah bawah ini berasal dari pabrik peleburan logam, yang memang berada di dekat wilayah tersebut.
Namun, ketika para peneliti naik ke tempat yang lebih tinggi, jumlah kandungan logam secara keseluruhan justru menurun. Sementara itu, jejak sengnya berubah menjadi lebih berat.
Temuan ini menunjukkan bahwa pembakaran batu bara menjadi penyumbang polusi utama di dataran tinggi, yakni berkontribusi sebesar 35 hingga 50 persen dari total polutan
Di sebelah utara puncak Himalaya, tingkat polusi secara keseluruhan umumnya lebih rendah. Namun, lumut yang diambil dari ketinggian di atas 3.500 meter secara konsisten menunjukkan jejak seng berat yang berasal dari pembakaran batu bara.
Menurut analisis tim peneliti, pembakaran batu bara menyumbang antara 43 hingga 54 persen polusi yang mencapai area tinggi tersebut. Sementara itu, polusi langsung dari pabrik peleburan logam hanya berpengaruh kecil.
Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun Pegunungan Himalaya mampu menahan sebagian besar polusi yang berukuran besar dan berat di dataran rendah, partikel halus dari pembakaran batu bara ternyata bisa terbang jauh lebih tinggi dan lebih jauh lewat udara.
Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara
Penelitian ini menunjukkan bahwa musim hujan di India menjadi penyebab utama polusi bisa terbawa sangat jauh.
Selama musim hujan, kumpulan udara bergerak ke utara dari Asia Selatan dan masuk melewati lembah-lembah yang dalam, termasuk Ngarai Besar Yarlung Tsangpo, sebelum akhirnya menyeberangi pegunungan tersebut.
Para peneliti menemukan bahwa perputaran udara ini membuat partikel halus dari batu bara bisa mencapai tempat yang sangat tinggi, lalu jatuh ke bumi bersama awan, kabut, dan air hujan.
Sebaliknya, polusi dari pabrik peleburan logam biasanya berbentuk partikel yang lebih besar. Partikel ini tetap berada di dekat permukaan tanah dan lebih mudah jatuh atau hilang dari udara sebelum sempat melewati pegunungan.
Selain itu, bentuk alam dan tanaman di sekitar juga memengaruhi tempat polusi menumpuk. Hutan lebat di lereng sebelah selatan menyaring partikel di udara dan membilasnya ke lumut saat hujan turun.
Sementara itu, lereng sebelah utara yang lebih kering memiliki curah hujan yang lebih sedikit dan tanaman yang lebih jarang, sehingga lumut di sana langsung merekam polusi yang turun dari atmosfer.
Dataran Tinggi Tibet sering dijuluki sebagai "Kutub Ketiga" karena memiliki cadangan es terbesar di dunia di luar wilayah kutub. Tempat ini juga berperan penting dalam mengatur iklim Asia dan menyediakan air bersih bagi miliaran orang.
Meskipun wilayah ini jauh lebih bersih daripada daerah industri, temuan baru menunjukkan bahwa tempat ini tidak sepenuhnya aman dari dampak aktivitas manusia.
Baca juga: Kapasitas PLTU Batu Bara Dunia Bertambah Tapi Konsumsinya Menurun
Logam berbahaya seperti timbal, arsenik, dan nikel bisa menumpuk di tanah, tanaman, serta aliran air. Logam-logam ini dapat bertahan dalam waktu lama dan masuk ke dalam rantai makanan, sehingga bisa membahayakan hewan liar maupun penduduk setempat.
Logam berbahaya seperti timbal, arsenik, dan nikel bisa menumpuk di tanah, tanaman, serta aliran air. Logam-logam ini dapat bertahan dalam waktu lama dan masuk ke dalam rantai makanan, sehingga bisa membahayakan hewan liar maupun penduduk setempat.
Penelitian ini tidak mengukur dampak lingkungan secara langsung. Namun bukti bahwa polusi batu bara telah mencapai Dataran Tinggi Tibet menunjukkan pentingnya memahami bagaimana zat berbahaya ini dapat merusak ekosistem yang rapuh serta masyarakat yang bergantung padanya.
Temuan ini juga dapat membantu para ilmuwan membuat perkiraan yang lebih baik tentang bagaimana polusi bergerak di udara. Dengan memahami kapan dan bagaimana polusi melewati Himalaya, ilmuwan bisa menilai kualitas udara dan penumpukan zat berbahaya di pegunungan tinggi.
Penilaian bisa dilakukan dengan lebih akurat terutama karena penggunaan energi, aktivitas industri, dan perubahan iklim terus mengubah pergerakan udara di seluruh Asia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya