Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Batu Bara Tembus Pegunungan Paling Terpencil di Dunia

Kompas.com, 29 Juni 2026, 15:33 WIB
Monika Novena,
Ni Luh Made Pertiwi F.

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian terbaru menunjukkan pegunungan Himalaya tidak kebal dengan polusi udara.

Ilmuwan menemukan bukti kuat bahwa polusi dari pembakaran batu bara bisa terbang melewati Himalaya selama musim hujan. Lalu, sampai ke bagian selatan Dataran Tinggi Tibet.

Melansir Phys, Jumat (26/6/2026) temuan ini didapat setelah meneliti lumut yang tumbuh di lereng gunung. Tim peneliti bisa membedakan mana polusi dari pabrik lokal dan mana partikel halus yang terbawa angin dari jarak ratusan kilometer.

Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan dataran tinggi yang paling terasing di dunia sekalipun kini mulai tercemar oleh polusi yang dihasilkan dari tempat yang sangat jauh.

Studi terhadap lumut

Dalam studi ini, peneliti menganalisis lumut untuk mengetahui bagaimana polusi batu bara sampai di pegunungan terpencil dunia.

Baca juga: Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia

Tidak seperti tanaman lain, lumut menyerap nutrisi dan air langsung dari udara, bukan lewat akar. Artinya, mereka juga menyerap partikel kecil yang ada di udara sehingga lumut bisa menjadi perekam alami yang menunjukkan tingkat polusi udara dari waktu ke waktu.

Xiaoyu Jiao dari China University of Geosciences bersama rekan-rekannya mengukur kadar beberapa logam berbahaya pada lumut tersebut, termasuk seng, timbal, arsenik, nikel, dan kobalt.

Mereka juga memeriksa jenis seng khusus yang disebut isotop seng. Isotop ini berfungsi seperti "sidik jari kimia" karena setiap jenis industri menghasilkan jejak seng yang berbeda.

Pembakaran batu bara biasanya menghasilkan jejak seng yang berat, sedangkan peleburan logam bersuhu tinggi menghasilkan seng yang ringan.

Dengan mengukur perbedaan tipis ini, para peneliti bisa memperkirakan dari mana polusi itu berasal dan bagaimana sumber utamanya berubah di sepanjang jalur pendakian dari ketinggian 750 hingga 4.100 meter di atas permukaan laut di Ngarai Besar Yarlung Tsangpo.

Perubahan jejak polusi

Di sisi selatan Himalaya, polanya terlihat sangat jelas. Di daerah yang lebih rendah, lumut mengandung logam berbahaya yang cukup tinggi dengan jejak seng yang ringan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar 42 hingga 50 persen polusi di daerah bawah ini berasal dari pabrik peleburan logam, yang memang berada di dekat wilayah tersebut.

Namun, ketika para peneliti naik ke tempat yang lebih tinggi, jumlah kandungan logam secara keseluruhan justru menurun. Sementara itu, jejak sengnya berubah menjadi lebih berat.

Temuan ini menunjukkan bahwa pembakaran batu bara menjadi penyumbang polusi utama di dataran tinggi, yakni berkontribusi sebesar 35 hingga 50 persen dari total polutan

Di sebelah utara puncak Himalaya, tingkat polusi secara keseluruhan umumnya lebih rendah. Namun, lumut yang diambil dari ketinggian di atas 3.500 meter secara konsisten menunjukkan jejak seng berat yang berasal dari pembakaran batu bara.

Menurut analisis tim peneliti, pembakaran batu bara menyumbang antara 43 hingga 54 persen polusi yang mencapai area tinggi tersebut. Sementara itu, polusi langsung dari pabrik peleburan logam hanya berpengaruh kecil.

Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun Pegunungan Himalaya mampu menahan sebagian besar polusi yang berukuran besar dan berat di dataran rendah, partikel halus dari pembakaran batu bara ternyata bisa terbang jauh lebih tinggi dan lebih jauh lewat udara.

Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara

Bagaimana polusi melewati pegunungan

Penelitian ini menunjukkan bahwa musim hujan di India menjadi penyebab utama polusi bisa terbawa sangat jauh.

Selama musim hujan, kumpulan udara bergerak ke utara dari Asia Selatan dan masuk melewati lembah-lembah yang dalam, termasuk Ngarai Besar Yarlung Tsangpo, sebelum akhirnya menyeberangi pegunungan tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa perputaran udara ini membuat partikel halus dari batu bara bisa mencapai tempat yang sangat tinggi, lalu jatuh ke bumi bersama awan, kabut, dan air hujan.

Sebaliknya, polusi dari pabrik peleburan logam biasanya berbentuk partikel yang lebih besar. Partikel ini tetap berada di dekat permukaan tanah dan lebih mudah jatuh atau hilang dari udara sebelum sempat melewati pegunungan.

Selain itu, bentuk alam dan tanaman di sekitar juga memengaruhi tempat polusi menumpuk. Hutan lebat di lereng sebelah selatan menyaring partikel di udara dan membilasnya ke lumut saat hujan turun.

Sementara itu, lereng sebelah utara yang lebih kering memiliki curah hujan yang lebih sedikit dan tanaman yang lebih jarang, sehingga lumut di sana langsung merekam polusi yang turun dari atmosfer.

Dampak bagi Dataran Tinggi Tibet

Dataran Tinggi Tibet sering dijuluki sebagai "Kutub Ketiga" karena memiliki cadangan es terbesar di dunia di luar wilayah kutub. Tempat ini juga berperan penting dalam mengatur iklim Asia dan menyediakan air bersih bagi miliaran orang.

Meskipun wilayah ini jauh lebih bersih daripada daerah industri, temuan baru menunjukkan bahwa tempat ini tidak sepenuhnya aman dari dampak aktivitas manusia.

Baca juga: Kapasitas PLTU Batu Bara Dunia Bertambah Tapi Konsumsinya Menurun

Logam berbahaya seperti timbal, arsenik, dan nikel bisa menumpuk di tanah, tanaman, serta aliran air. Logam-logam ini dapat bertahan dalam waktu lama dan masuk ke dalam rantai makanan, sehingga bisa membahayakan hewan liar maupun penduduk setempat.

Logam berbahaya seperti timbal, arsenik, dan nikel bisa menumpuk di tanah, tanaman, serta aliran air. Logam-logam ini dapat bertahan dalam waktu lama dan masuk ke dalam rantai makanan, sehingga bisa membahayakan hewan liar maupun penduduk setempat.

Penelitian ini tidak mengukur dampak lingkungan secara langsung. Namun bukti bahwa polusi batu bara telah mencapai Dataran Tinggi Tibet menunjukkan pentingnya memahami bagaimana zat berbahaya ini dapat merusak ekosistem yang rapuh serta masyarakat yang bergantung padanya.

Temuan ini juga dapat membantu para ilmuwan membuat perkiraan yang lebih baik tentang bagaimana polusi bergerak di udara. Dengan memahami kapan dan bagaimana polusi melewati Himalaya, ilmuwan bisa menilai kualitas udara dan penumpukan zat berbahaya di pegunungan tinggi.

Penilaian bisa dilakukan dengan lebih akurat terutama karena penggunaan energi, aktivitas industri, dan perubahan iklim terus mengubah pergerakan udara di seluruh Asia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau