KOMPAS.com - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 15,5 persen atau setara sekitar 2 juta ton CO2 ekuivalen (CO2e) pada 2030.
Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi, tantangan dekarbonisasi sektor pertambangan semakin kompleks, karena dilakukan di tengah ekspansi program hilirisasi yang menjadi mandat utama perusahaan sektor industri pertambangan.
"Dengan mandat hilirisasi yang diberikan kepada MIND ID, kebutuhan energi operasional kami diperkirakan meningkat hampir dua kali lipat pada 2030. Terlebih, emisi ini diproyeksikan bisa meningkat sekitar 2,1 kali lipat apabila tidak dilakukan intervensi," ujar Binahidra dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).
Baca juga: Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun
Berdasarkan proyeksi perusahaan, kebutuhan energi Grup MIND ID akan meningkat dari sekitar 149.000 terajoule (TJ) pada 2026 menjadi 293.000 TJ pada 2030 atau naik lebih dari 90 persen. Tanpa intervensi, emisi GRK diproyeksikan meningkat dari 6.100 kiloton CO2e, menjadi 12.900 kiloton CO2e dalam periode yang sama.
Lonjakan emisi GRK ini mencerminkan skala ekspansi yang sedang dijalankan. Mulai dari pengembangan tambang di Kalimantan, proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Halmahera Timur, ekspansi fasilitas aluminium, pembangunan smelter, hingga proyek penambangan bawah laut.
Untuk menekan lonjakan emisi, kata dia, MIND ID mengintegrasikan pertumbuhan program hilirisasi dengan program lingkungan yang berdampak nyata melalui sejumlah langkah dekarbonisasi.
Pertama, konversi menuju bahan bakar rendah karbon. Di antaranya, peningkatan penggunaan biodiesel dari B35 menuju B40, penggantian High Speed Diesel (HSD) menjadi liquefied natural gas (LNG), sampai optimalisasi pemanfaatan listrik dari jaringan PLN.
Misalnya, PT Bukit Asam Tbk mengganti dump truck berbahan bakar fosil dengan Bucket Wheel Excavator (BWE) untuk coal handling di Unit Pertambangan Tanjung Enim. Konversi ke bahan bakar rendah karbon tersebut menurunkan emisi sekitar 5.200 ton CO2e per tahun.
Kemudian PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) mengkonversi dari HSD ke LNG pada fasilitas baking plant, menghasilkan penurunan emisi sekitar 3.700 ton CO2e sekaligus meningkatkan efisiensi energi operasional.
Di sisi lain, MIND ID jugamemperluas pemanfaatan biomassa dan energi surya. Misalnya, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) telah menerapkan co-firing menggunakan biomassa cangkang kelapa sawit sebagai pengganti sebagian batu bara, menurunkan emisi sekitar 560 ton CO2e.
Baca juga: Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
PT Timah Tbk mengoperasikan instalasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 300 kilowatt peak (kWp) yang mampu mengurangi emisi sekitar 300 ton CO2e sekaligus mendorong penggunaan energi bersih di kawasan industri.
Sebagai pelengkap strategi reduksi emisi GRK, MIND ID mengembangkan skema offset karbon melalui proyek berbasis alam atau nature-based solutions (NBS), pemanfaatan Renewable Energy Certificate (REC), serta berpartisipasi dalam perdagangan karbon.
Binahidra menggarisbawahi bahwa dekarbonisasi menjadi faktor penentu daya saing produk mineral Indonesia di pasar global, bukan sekadar kewajiban lingkungan. Apalagi, investor, lembaga keuangan, dan rantai pasok internasional saat ini semakin ketat mensyaratkan aspek keberlanjutan sebagai syarat akses pasar.
"Kami mendukung target Indonesia dalam mencapai Second NDC tahun 2030 serta aspirasi Net Zero Emissions Indonesia. Karena itu seluruh strategi kami harus mengintegrasikan aspek ESG ke dalam operasional perusahaan," tutur Binahidra.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya