Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Wajah paling telanjang dari ironi ini terekam dalam Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, film dokumenter investigatif karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale.
Film ini merekam rencana konversi hutan seluas 2,5 juta hektare di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan, untuk perkebunan tebu bioetanol, sawit biodiesel, dan proyek food estate berlindung di bawah label Proyek Strategis Nasional.
Lewat kesaksian suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu, film ini memperlihatkan hutan sagu sebagai sumber kehidupan turun-temurun berubah menjadi lahan industri dan sungai tercemar, sementara tanah adat berpindah tangan tanpa persetujuan bebas dari pemiliknya.
Pemutaran film ini sempat dibubarkan aparat di sejumlah daerah, namun pembungkaman ini justru memperluas diskusi publik tentang model pembangunan yang mengorbankan masyarakat adat.
Kasus Papua Selatan menegaskan, krisis ekologis di Indonesia tidak berdiri sendiri dari krisis keadilan sosial dan budaya.
Ketika hutan sagu ditebang, yang hilang bukan hanya pohon dan karbon yang terserapnya, tetapi juga kehilangan bahasa, ritual, dan pengetahuan lokal yang tumbuh bersama hutan itu selama ratusan tahun.
Paus Fransiskus, dalam ensiklik Laudato Si' yang dirilis pada 18 Juni 2015, tentang kepedulian terhadap lingkungan dan bumi sebagai "rumah Kita Bersama", menyebut kehilangan semacam ini sebagai erosi ekologi budaya, karena hilangnya kekayaan khas kelompok manusia yang lenyap bersama habitat fisiknya.
Baca juga: Bayang-bayang Lelucon Gusdur dan Tantangan Profesionalisme Polri
Ensiklik ini menolak memisahkan keprihatinan ekologis dari keprihatinan sosial, dan menyebutnya ekologi integral, sebuah cara pandang yang menegaskan, jeritan bumi dan jeritan orang miskin adalah satu jeritan yang sama.
Prinsip itu berlaku pula bagi gempa dan gelombang panas.
Bangunan yang runtuh di La Guaira mencerminkan lemahnya standar konstruksi dan tata kota yang mengabaikan kelompok rentan, sementara gelombang panas Eropa paling ganas menimpa lansia dan pekerja luar ruangan tanpa pendingin udara memadai.
Ensiklik itu juga mengingatkan bahaya paradigma teknokratis, di mana cara berpikir yang menilai alam semata sebagai sumber daya untuk dieksploitasi demi pertumbuhan ekonomi, tanpa mempertimbangkan daya dukung dan keseimbangannya.
Lubang-lubang tambang nikel dan batu bara, sebagaimana kapal ekskavator yang merangsek ke hutan sagu Papua Selatan, adalah wujud paling telanjang dari paradigma ini.
Logika efisiensi ditempatkan paling utama dan mengalahkan hak masyarakat adat atas tanah, air, serta pangan mereka sendiri.
Yang kerap luput dari perbincangan publik, Laudato Si' bukan sekadar seruan moral yang berhenti pada kesalehan personal, semisal menghemat listrik atau mengurangi sampah plastik.
Ensiklik itu menuntut pertobatan ekologis, dan perubahan mendasar dalam cara manusia memandang relasinya dengan bumi, dari penguasa menjadi penjaga, dari pengeksploitasi menjadi perawat rumah bersama.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya