Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Pertobatan ini menuntut keberanian politik guna mengevaluasi izin usaha yang merusak, bukan hanya pemain kecil, tetapi juga menyasar korporasi besar yang selama ini kebal dari tindakan tegas, termasuk yang tengah membuka jutaan hektare hutan Papua Selatan.
Laudato Si' menemukan gaung dari kearifan yang sudah lama hidup dalam tradisi masyarakat adat penjaga hutan di Indonesia, jauh sebelum krisis iklim menjadi kosakata harian.
Bedanya, ensiklik ini menegaskannya kembali dalam bahasa lebih universal, agar bumi tidak lagi dipandang sebagai onggokan sumber daya yang habis dipakai, melainkan rumah yang harus diwariskan utuh kepada generasi berikutnya.
Namun pertobatan tidak boleh berhenti pada retorika, atau sekadar wacana yang ramai di media sosial ketika ada masalah.
Lebih dari itu, ia menuntut keberanian mengevaluasi ulang model pembangunan yang menempatkan pertumbuhan ekonomi di atas keselamatan warga lingkar tambang dan masyarakat adat.
Sebab tanpa itu, seruan menjaga rumah bersama hanya akan menjadi jargon peringatan hari lingkungan, sementara izin baru terus diterbitkan di balik lobi-lobi politik.
Gempa Venezuela dan Filipina mengingatkan bahwa bumi memiliki logikanya sendiri yang tidak selalu bisa dijinakkan manusia.
Namun gelombang panas Eropa dan deforestasi yang masif terjadi di Tanah Air menunjukkan sebaliknya, sebagian besar penderitaan yang kita saksikan hari ini lahir dari pilihan-pilihan yang bisa diubah.
Sebabnya, tugas yang mendesak bukan sekadar berduka atas bencana yang telah terjadi, melainkan menagih pertanggungjawaban atas kerusakan yang masih berlangsung, sebelum rumah bersama ini benar-benar kehilangan daya pulihnya.
Bumi, dalam bahasa Paus Fransiskus disebut sebagai "rumah bersama" ini telah lama merintih dan memberi pesan lewat gempa, suhu yang kian mendidih, bencana ekologis seperti di Sumatera akhir 2025 lalu, naiknya permukaan air laut, dan kebakaran hutan.
Gugatan bumi itu adalah pengingat bagi manusia. Dan yang masih tertunda hanyalah nurani yang bersedia mendengarkan, dan keberanian bertindak sebelum gugatan itu berubah menjadi kehancuran yang tak lagi bisa dipulihkan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya