KOMPAS.com - Krisis iklim diperkirakan akan menimbulkan kerugian ekonomi hingga miliaran dollar Amerika Serikat (AS) akibat kerusakan terumbu karang di Hawai'i.
Dampaknya tidak hanya mengancam ekosistem laut, tetapi juga aktivitas rekreasi masyarakat dan kelompok berpenghasilan rendah yang bergantung pada kawasan pesisir.
Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Ecological Economics memperkirakan degradasi terumbu karang dapat menyebabkan hilangnya manfaat ekonomi dari aktivitas berbasis terumbu karang senilai 1,8 miliar dollar AS hingga 3 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 32 triliun hingga Rp 54 triliun, pada 2100.
Penulis utama studi sekaligus peneliti dari Departemen Sumber Daya Alam dan Manajemen Lingkungan Universitas Hawai'i di M?noa, Ashley Lowe Mackenzie, mengatakan terumbu karang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Hawai'i, baik dari sisi budaya, ekologi, maupun ekonomi.
Baca juga: Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
"Terumbu karang merupakan fondasi kehidupan di Hawai'i secara budaya, ekologis, dan ekonomi. Penelitian ini menunjukkan kerugian kesejahteraan yang akan dialami masyarakat ketika ekosistem tersebut terus mengalami degradasi," ujar Mackenzie, dikutip dari laman resmi Universitas Hawai'i, Selasa (7/7/2026).
Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan model ekosistem biofisik Atlantis untuk memproyeksikan perubahan tutupan terumbu karang hingga akhir abad ini.
Simulasi dilakukan menggunakan tiga skenario perubahan iklim, yakni emisi gas rumah kaca rendah, menengah, dan tinggi. Hasil proyeksi ekologi tersebut kemudian dikombinasikan dengan model ekonomi yang mengukur nilai aktivitas rekreasi masyarakat, seperti berenang, snorkeling, dan menyelam, hingga resolusi spasial satu kilometer.
Menurut Mackenzie, nilai kerugian ekonomi yang diperkirakan dalam studi tersebut sebenarnya masih tergolong konservatif karena hanya menghitung aktivitas rekreasi masyarakat lokal.
"Perhitungan ini hanya mencakup penggunaan rekreasi lokal, sehingga nilai kerugian yang sesungguhnya kemungkinan lebih besar," katanya.
Hasil penelitian menunjukkan wilayah pesisir barat dan selatan Pulau Hawai'i serta Maui diproyeksikan menjadi kawasan yang pertama kali mengalami penurunan kualitas terumbu karang secara signifikan.
Seiring berjalannya waktu, dampak tersebut diperkirakan meluas hingga pesisir O'ahu pada pertengahan abad ini.
Baca juga: KLH Awasi Aktivitas Kapal Pesiar di Indonesia demi Terumbu Karang
Dalam skenario emisi gas rumah kaca tinggi, sebagian besar terumbu karang di kawasan pesisir diproyeksikan mengalami keruntuhan hampir total pada 2100. Sebaliknya, pada skenario emisi rendah, sejumlah terumbu di pesisir timur dan utara masih berpeluang mengalami pemulihan secara bertahap menjelang akhir abad.
Penelitian juga menemukan dampak ekonomi akibat kerusakan terumbu karang tidak akan dirasakan secara merata.
Dengan menggunakan perangkat analisis keadilan lingkungan (EJScreen) milik Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), para peneliti menemukan komunitas berpenghasilan rendah justru menghadapi kerugian kesejahteraan per kapita yang lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat lainnya.
Hal itu terjadi karena banyak komunitas rentan tinggal di wilayah yang diproyeksikan mengalami penurunan kualitas terumbu karang paling tajam.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya