Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Picu Kerugian Besar akibat Hilangnya Kesempatan Karang Bertumbuh

Kompas.com, 7 Juli 2026, 09:45 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

‎KOMPAS.com - Krisis iklim diperkirakan akan menimbulkan kerugian ekonomi hingga miliaran dollar Amerika Serikat (AS) akibat kerusakan terumbu karang di Hawai'i.

Dampaknya tidak hanya mengancam ekosistem laut, tetapi juga aktivitas rekreasi masyarakat dan kelompok berpenghasilan rendah yang bergantung pada kawasan pesisir.

Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Ecological Economics memperkirakan degradasi terumbu karang dapat menyebabkan hilangnya manfaat ekonomi dari aktivitas berbasis terumbu karang senilai 1,8 miliar dollar AS hingga 3 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 32 triliun hingga Rp 54 triliun, pada 2100.

Penulis utama studi sekaligus peneliti dari Departemen Sumber Daya Alam dan Manajemen Lingkungan Universitas Hawai'i di M?noa, Ashley Lowe Mackenzie, mengatakan terumbu karang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Hawai'i, baik dari sisi budaya, ekologi, maupun ekonomi.

Baca juga: Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim

"Terumbu karang merupakan fondasi kehidupan di Hawai'i secara budaya, ekologis, dan ekonomi. Penelitian ini menunjukkan kerugian kesejahteraan yang akan dialami masyarakat ketika ekosistem tersebut terus mengalami degradasi," ujar Mackenzie, dikutip dari laman resmi Universitas Hawai'i, Selasa (7/7/2026).

Kerugian dipetakan hingga tingkat komunitas

Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan model ekosistem biofisik Atlantis untuk memproyeksikan perubahan tutupan terumbu karang hingga akhir abad ini.

Simulasi dilakukan menggunakan tiga skenario perubahan iklim, yakni emisi gas rumah kaca rendah, menengah, dan tinggi. Hasil proyeksi ekologi tersebut kemudian dikombinasikan dengan model ekonomi yang mengukur nilai aktivitas rekreasi masyarakat, seperti berenang, snorkeling, dan menyelam, hingga resolusi spasial satu kilometer.

Menurut Mackenzie, nilai kerugian ekonomi yang diperkirakan dalam studi tersebut sebenarnya masih tergolong konservatif karena hanya menghitung aktivitas rekreasi masyarakat lokal.

"Perhitungan ini hanya mencakup penggunaan rekreasi lokal, sehingga nilai kerugian yang sesungguhnya kemungkinan lebih besar," katanya.

Hasil penelitian menunjukkan wilayah pesisir barat dan selatan Pulau Hawai'i serta Maui diproyeksikan menjadi kawasan yang pertama kali mengalami penurunan kualitas terumbu karang secara signifikan.

Seiring berjalannya waktu, dampak tersebut diperkirakan meluas hingga pesisir O'ahu pada pertengahan abad ini.

Baca juga: KLH Awasi Aktivitas Kapal Pesiar di Indonesia demi Terumbu Karang

Dalam skenario emisi gas rumah kaca tinggi, sebagian besar terumbu karang di kawasan pesisir diproyeksikan mengalami keruntuhan hampir total pada 2100. Sebaliknya, pada skenario emisi rendah, sejumlah terumbu di pesisir timur dan utara masih berpeluang mengalami pemulihan secara bertahap menjelang akhir abad.

Kelompok rentan diperkirakan paling terdampak

Penelitian juga menemukan dampak ekonomi akibat kerusakan terumbu karang tidak akan dirasakan secara merata.

Dengan menggunakan perangkat analisis keadilan lingkungan (EJScreen) milik Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), para peneliti menemukan komunitas berpenghasilan rendah justru menghadapi kerugian kesejahteraan per kapita yang lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat lainnya.

Hal itu terjadi karena banyak komunitas rentan tinggal di wilayah yang diproyeksikan mengalami penurunan kualitas terumbu karang paling tajam.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau