Editor
Menurut dia, penerapan standar tersebut memang membutuhkan investasi yang tidak kecil. Karena itu, perusahaan biasanya akan menghitung manfaat ekonomi yang diperoleh dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan.
Baca juga: RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW
"Pada akhirnya perusahaan akan melihat cost and benefit analysis. Tetapi bagi perusahaan yang menjual produknya ke pasar global, sebenarnya tidak banyak pilihan. Kalau tidak mengikuti standar global, produknya bisa saja tidak diterima pasar," ujarnya.
Ia menambahkan, tekanan terhadap industri tambang kini tidak hanya datang dari regulator atau organisasi lingkungan, tetapi juga dari investor dan lembaga pembiayaan internasional yang semakin memperhatikan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).
Menurut Sonny, perubahan tersebut sudah terlihat pada sektor batu bara yang semakin sulit memperoleh pembiayaan internasional.
Selain memenuhi standar lingkungan, Sonny menilai perusahaan tambang perlu memperkuat pendekatan sosial sejak tahap awal operasi.
Ia mengatakan, konflik antara perusahaan dan masyarakat hampir selalu muncul ketika proyek memasuki fase operasi apabila perusahaan hanya mengandalkan pendekatan teknis tanpa memahami dinamika sosial di sekitar tambang.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan pemetaan sosial berbasis riset yang tidak hanya mengumpulkan data statistik, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat mengakses layanan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, serta dinamika politik lokal.
"Pengelolaan aspek sosial juga harus science based. Jangan hanya mengandalkan pendekatan teknis. Perusahaan harus memahami dinamika masyarakat secara utuh agar program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan mereka," kata Sonny.
Baca juga: Daur Ulang Nikel Stainless Steel untuk Baterai Boros Energi
Ia menilai, praktik pertambangan berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya bergantung pada keberadaan standar internasional, tetapi juga pada konsistensi manajemen perusahaan dalam menerapkannya di seluruh rantai operasional.
"Kalau ditanya saya optimistis atau pesimistis, saya memilih realistis dan kritis. Masih banyak yang harus diperbaiki, baik di internal perusahaan, pendampingnya, maupun dalam hubungan dengan masyarakat," ujar Sonny.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya