Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Picu Lonjakan Kematian Penambang Kobalt di Kongo, Riset Ungkap Alasan Moral Mempercepat Transisi ke EV

Kompas.com, 8 Juli 2026, 07:58 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Percepatan transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dinilai memiliki manfaat kemanusiaan yang jauh lebih besar dibandingkan risiko yang ditimbulkan dari penambangan mineral kritis untuk baterai.

Temuan tersebut disampaikan dalam studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Global Sustainability.

Penelitian itu menyimpulkan bahwa percepatan adopsi kendaraan listrik berpotensi menyelamatkan lebih banyak nyawa melalui penurunan polusi udara dan dampak perubahan iklim dibandingkan korban yang dikaitkan dengan penambangan kobalt skala kecil di Republik Demokratik Kongo.

Baca juga: Produksi Batu Bara Kalsel Tinggi, Pertambangan Ilegal Masih Jadi Sorotan

Penulis studi sekaligus peneliti dari Global Systems Institute Universitas Exeter, Tim Lenton, mengatakan perdebatan mengenai keadilan dalam transisi energi tidak seharusnya menjadi alasan untuk memperlambat pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.

"Perubahan iklim sangat tidak adil. Dampaknya secara tidak proporsional dirasakan oleh masyarakat miskin di seluruh dunia, sementara sebagian besar emisinya dihasilkan oleh kelompok yang lebih kaya," ujar Lenton, dikutip dari laman resmi Universitas Exeter, Rabu (8/7/2026).

Menurut dia, fokus kebijakan seharusnya diarahkan pada peningkatan keselamatan dan perlindungan pekerja tambang, termasuk penambang tradisional di Republik Demokratik Kongo, tanpa menghambat transisi menuju transportasi rendah emisi.

"Tidak diragukan lagi bahwa manfaat transisi hijau jauh lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkannya," kata Lenton.

Bandingkan dampak kendaraan fosil dan EV

Dalam studi berjudul Why Accelerating Transformation is Just, Lenton menghitung dampak emisi kendaraan berbahan bakar fosil terhadap kematian akibat gelombang panas di masa depan.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan kendaraan listrik tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga menekan polusi udara yang selama ini menjadi penyebab jutaan kematian dini di seluruh dunia.

Analisis tersebut menunjukkan, emisi sepanjang masa pakai setiap 100 mobil berbahan bakar bensin atau diesel diperkirakan menyebabkan satu kematian akibat panas ekstrem di masa depan. Sementara itu, setiap sekitar 300 kendaraan berbahan bakar fosil diperkirakan menyebabkan satu kematian akibat polusi udara selama masa operasinya.

Sebaliknya, berdasarkan data produksi kendaraan listrik dan penambangan kobalt, setiap produksi sekitar 100.000 kendaraan listrik diperkirakan berkaitan dengan satu kematian penambang kobalt tradisional di Republik Demokratik Kongo.

Baca juga: Tambang Berkelanjutan Tak Cukup Komitmen, Audit Independen Jadi Ujian Sesungguhnya

Menurut Lenton, perbandingan tersebut menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari pengurangan emisi kendaraan fosil jauh lebih besar dibandingkan risiko yang muncul dalam rantai pasok mineral kritis.

Penambangan kobalt tetap perlu dibenahi

Studi tersebut juga membahas peran kobalt sebagai salah satu bahan baku baterai lithium-ion yang digunakan pada sebagian kendaraan listrik.

Republik Demokratik Kongo saat ini memasok sekitar 70 persen kebutuhan kobalt dunia. Namun, sekitar 12 persen produksi berasal dari pertambangan tradisional berskala kecil, yang selama ini menjadi sorotan karena persoalan keselamatan kerja dan kondisi sosial para penambangnya.

Lenton menegaskan bahwa risiko di sektor pertambangan harus dikelola melalui peningkatan standar keselamatan, bukan dengan memperlambat transisi energi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau