KOMPAS.com - Percepatan transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dinilai memiliki manfaat kemanusiaan yang jauh lebih besar dibandingkan risiko yang ditimbulkan dari penambangan mineral kritis untuk baterai.
Temuan tersebut disampaikan dalam studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Global Sustainability.
Penelitian itu menyimpulkan bahwa percepatan adopsi kendaraan listrik berpotensi menyelamatkan lebih banyak nyawa melalui penurunan polusi udara dan dampak perubahan iklim dibandingkan korban yang dikaitkan dengan penambangan kobalt skala kecil di Republik Demokratik Kongo.
Baca juga: Produksi Batu Bara Kalsel Tinggi, Pertambangan Ilegal Masih Jadi Sorotan
Penulis studi sekaligus peneliti dari Global Systems Institute Universitas Exeter, Tim Lenton, mengatakan perdebatan mengenai keadilan dalam transisi energi tidak seharusnya menjadi alasan untuk memperlambat pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.
"Perubahan iklim sangat tidak adil. Dampaknya secara tidak proporsional dirasakan oleh masyarakat miskin di seluruh dunia, sementara sebagian besar emisinya dihasilkan oleh kelompok yang lebih kaya," ujar Lenton, dikutip dari laman resmi Universitas Exeter, Rabu (8/7/2026).
Menurut dia, fokus kebijakan seharusnya diarahkan pada peningkatan keselamatan dan perlindungan pekerja tambang, termasuk penambang tradisional di Republik Demokratik Kongo, tanpa menghambat transisi menuju transportasi rendah emisi.
"Tidak diragukan lagi bahwa manfaat transisi hijau jauh lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkannya," kata Lenton.
Dalam studi berjudul Why Accelerating Transformation is Just, Lenton menghitung dampak emisi kendaraan berbahan bakar fosil terhadap kematian akibat gelombang panas di masa depan.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan kendaraan listrik tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga menekan polusi udara yang selama ini menjadi penyebab jutaan kematian dini di seluruh dunia.
Analisis tersebut menunjukkan, emisi sepanjang masa pakai setiap 100 mobil berbahan bakar bensin atau diesel diperkirakan menyebabkan satu kematian akibat panas ekstrem di masa depan. Sementara itu, setiap sekitar 300 kendaraan berbahan bakar fosil diperkirakan menyebabkan satu kematian akibat polusi udara selama masa operasinya.
Sebaliknya, berdasarkan data produksi kendaraan listrik dan penambangan kobalt, setiap produksi sekitar 100.000 kendaraan listrik diperkirakan berkaitan dengan satu kematian penambang kobalt tradisional di Republik Demokratik Kongo.
Baca juga: Tambang Berkelanjutan Tak Cukup Komitmen, Audit Independen Jadi Ujian Sesungguhnya
Menurut Lenton, perbandingan tersebut menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari pengurangan emisi kendaraan fosil jauh lebih besar dibandingkan risiko yang muncul dalam rantai pasok mineral kritis.
Studi tersebut juga membahas peran kobalt sebagai salah satu bahan baku baterai lithium-ion yang digunakan pada sebagian kendaraan listrik.
Republik Demokratik Kongo saat ini memasok sekitar 70 persen kebutuhan kobalt dunia. Namun, sekitar 12 persen produksi berasal dari pertambangan tradisional berskala kecil, yang selama ini menjadi sorotan karena persoalan keselamatan kerja dan kondisi sosial para penambangnya.
Lenton menegaskan bahwa risiko di sektor pertambangan harus dikelola melalui peningkatan standar keselamatan, bukan dengan memperlambat transisi energi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya