"Ketika industri berkembang atau industri baru tercipta, risiko pasti muncul. Risiko-risiko itu harus dikelola dan dikurangi, sebagaimana pekerja di industri bahan bakar fosil juga menghadapi berbagai risiko," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kebutuhan mineral kritis berbeda dengan bahan bakar fosil. Mineral untuk baterai dapat digunakan berulang kali melalui proses daur ulang, sedangkan minyak, gas, dan batu bara harus terus ditambang karena habis setelah dibakar.
"Bahan-bahan ini dapat digunakan dalam jangka panjang, kemudian digunakan kembali dan didaur ulang. Dunia pasca-bahan bakar fosil bukanlah dunia dengan penambangan tanpa akhir," kata Lenton.
Baca juga: Nikel Jadi Motor Ekspor Indonesia, Komoditas Andalan Mulai Berubah
Menurut dia, biaya terbesar dari perubahan iklim, termasuk meningkatnya kematian akibat polusi udara dan gelombang panas, telah dirasakan saat ini dan paling banyak membebani kelompok rentan, seperti masyarakat berpenghasilan rendah, anak-anak, lansia, serta penyandang disabilitas.
Karena itu, ia menilai percepatan transisi menuju kendaraan listrik tetap menjadi langkah yang lebih adil, selama dibarengi dengan perlindungan yang lebih baik bagi para pekerja di sektor pertambangan mineral kritis.
"Meskipun kita harus segera memastikan kondisi kerja yang aman dan adil di seluruh rantai transisi hijau, memperlambat transisi tersebut tidak dapat dibenarkan dan tidak adil," ujar Lenton.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya