Penulis
Tidak hanya memperbaiki tata cara berladang melalui terasering, Joko dan komunitas Kelompok Karya Muda melangkah lebih jauh dengan membudidaya anggrek endemik Merapi yang terancam punah.
Hingga saat ini, mereka telah berhasil mengidentifikasi dan melestarikan sekitar 45 spesies anggrek liar dari lereng Gunung Merapi. Salah satu yang berhasil diselamatkan adalah Vanda tricolor, spesies anggrek langka di Merapi.
Anggrek-anggrek ini tidak sekadar indah dipandang, melainkan juga menjadi benteng perlindungan ekosistem hulu. Kehadiran anggrek di alam lepas juga menjadi indikator atas sehatnya lingkungan sekitar.
"Anggrek juga sevara tidak langsung mencegah penebang menebang pohon. Dulu iya menebang, sekarang sudah tidak lagi," tutur Joko.
Program ini pun melibatkan partisipasi masyarakat luas, salah satunya melalui skema adopsi anggrek. Wisatawan atau donatur dapat berkontribusi secara finansial untuk mengadopsi anggrek.
Baca juga: WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
Dalam adopsi tersebut, anggrek akan ditanam kembali di habitat aslinya di dalam hutan Merapi yang masuk dalam zona tangkapan air.
Sebagai gantinya, para pengadopsi akan menerima laporan mengenai perkembangan dan kesehatan anggrek yang mereka asuh.
Desa Mriyan sendiri merupakan kawasan sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur yang memegang peranan krusial sebagai groundwater recharge area.
Air hujan yang jatuh di kawasan hulu ini diserap oleh tanah, ditahan oleh akar-akar vegetasi hutan, lalu bergerak jauh ke bawah tanah mengisi lapisan akuifer tertekan atau confined aquifer.
Lapisan inilah yang menyimpan air dengan tingkat kemurnian tinggi dan kaya akan mineral alami terlarut.
Baca juga: Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Pemandangan Bukit Emmon yang dilihat di Dusun Gumuk, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Selasa (7/7/2026).Air dari akuifer tertekan ini juga menjadi sumber air baku bagi produk air minum dalam kemasan (AMDK) AQUA. Sumur pengambilan airnya terletak di dekat pabrik, berjarak sekitar 25 kilometer dari zona tangkapan air di Desa Mriyan.
Untuk mencapainya, dilakukan pengeboran dalam menembus lapisan batuan kedap hingga menyentuh akuifer tertekan. Karena posisinya yang sangat dalam dan terisolasi dari polusi permukaan, air yang dihasilkan murni dan kaya mineral.
Karakteristik ini berbeda dengan air sumur masyarakat yang memanfaatkan akuifer bebas atau unconfined aquifer. Air di akuifer ini posisinya lebih dekat dengan permukaan tanah sehingga lebih rentan terhadap fluktuasi musim serta pencemaran.
Public Affairs and Sustainability Senior Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo menegaskan, keberadaan air murni ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses alamiah yang sangat kompleks.
Baca juga: Amazon Capai 75 Persen Target Penghematan Air Pusat Data
Public Affairs and Sustainability Senior Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo saat memberikan paparan di Dusun Gumuk, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Selasa (7/7/2026).Dia berujar, kawasan Sub-DAS Pusur berada dalam ancaman serius jika tutupan hutannya hilang akibat alih fungsi lahan yang tidak terkendali atau pertanian yang tidak berkelanjutan.
"Awalnya ini hutan, terus jadi agrikultur, sehingga harus dilakukan konservasi agar air bisa terserap maksimal di dalam sana (bawah tanah)," jelas Karyanto.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya