Penulis
BOYOLALI, KOMPAS.com – Di ketinggian 1.130 meter di atas permukaan laut (MDPL), dinginnya embusan angin pegunungan menusuk kulit di Dusun Gumuk, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali. Di lereng Gunung Merapi yang subur ini, tanaman mawar merah dan putih menyembul memamerkan kemolekannya.
Bagi warga setempat, keindahan kelopak mawar bukan sekadar pemandangan alam. Mawar menjadi urat nadi perekonomian yang berkelindan dengan sejarah tanah leluhur mereka.
Mawar adalah komoditas magis di tanah Jawa. Permintaannya nyaris tidak pernah surut karena didorong oleh tradisi nyekar, tabur bunga saat ziarah makam.
Baca juga: Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim
Di dekat mulut pintu rimba Taman Nasional Gunung Merapi, mata Marwoto memandang hamparan mawar di depannya. Budidaya mawar telah digelutinya secara turun-temurun dan dipraktikkan secara tumpang sari dengan tembakau.
Bagi Marwoto, mawar menjadi penopang hidup keluarganya, di samping tembakau yang dia tanam.
"Dua hari sekali bisa panen. Mawar ini jadi (penghasilan) harian-lah isitilahnya," kata Marwoto kepada Kompas.com, Selasa (7/7/2026).
Mawar memberikan kepastian arus kas harian di saat tembakau belum memasuki musim petik. Walau harganya kerap berfluktuasi, bagi Marwoto, mawar adalah penyelamat.
Namun, di balik wanginya mawar dan tembakau, kedua komoditas tersebut menuntut pembukaan lahan yang cukup ekstensif. Dorongan ekonomi membuat vegetasi hutan penyangga di lereng Merapi tersebut perlahan berganti menjadi petak-petak pertanian. Tak jarang, ladang-ladang dibuka di lereng curam tanpa.
Joko Susanto, tokoh masyarakat Desa Mriyan sekaligus organisator Padepokan Konservasi Ekologi Masyarakat (PAKEM), menyaksikan langsung perubahan lanskap di sana.
Baca juga: ICM Kelola 10 Juta Liter Air Limbah Per Hari dari 35 Kawasan Properti
Sebagai insan yang lahir dan tumbuh besar di sana, Joko mengingat betul bagaimana hutan yang dulunya lebat dan dipenuhi pepohonan berakar dalam, berangsur-angsur rata menjadi ladang.
"Dahulu, ladang dibuka di lereng-lereng tanpa adanya terasering," ujar Joko yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Karya Muda.
Ketidakberlanjutan itu akhirnya dibayar mahal. Pada 2010, longsor besar mengguncang Desa Mriyan. Material tanah menutup total akses jalan utama dan memutus mobilitas menuju desa tetangga.
Bencana tersebut menjadi bukti bahwa kerusakan ekologis menimbulkan dampak yang nyata bagi mereka yang tinggal di sana.
Baca juga: Rahasia Microsoft Capai Target Penghematan Air 4 Tahun Lebih Awal
Berkaca dari bencana tersebut, kesadaran kolektif warga perlahan mulai bangkit. Joko bersama Kelompok Karya Muda mulai mengedukasi warga untuk mengubah metode berladang. Secara bertahap, mereka mengubah ladang di lereng-lereng curam menjadi tangga-tangga terasering.
"Sekarang dengan adanya terasering, masyarakat mulai percaya dan menggunakannya untuk mencegah longsor," papar Joko.
Bagi Joko, mengubah kebiasaan petani tidak bisa dilakukan dengan pemaksaan, melainkan dengan pendekatan yang perlahan dan memperhatikan perekonomian mereka.
Menurutnya, konservasi yang ideal harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat di sekitar Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur tersebut.
Joko menambahkan, menjaga lingkungan juga harus berbanding lurus dengan menjaga perekonomian petani. Prinsip inilah yang kemudian membuka jalan bagi program konservasi yang lebih besar.
Baca juga: Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Anggrek adopsi yang ditempel di sebuah pohon di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi di Kabupaten Boyolali, Selasa (7/7/2026).Tidak hanya memperbaiki tata cara berladang melalui terasering, Joko dan komunitas Kelompok Karya Muda melangkah lebih jauh dengan membudidaya anggrek endemik Merapi yang terancam punah.
Hingga saat ini, mereka telah berhasil mengidentifikasi dan melestarikan sekitar 45 spesies anggrek liar dari lereng Gunung Merapi. Salah satu yang berhasil diselamatkan adalah Vanda tricolor, spesies anggrek langka di Merapi.
Anggrek-anggrek ini tidak sekadar indah dipandang, melainkan juga menjadi benteng perlindungan ekosistem hulu. Kehadiran anggrek di alam lepas juga menjadi indikator atas sehatnya lingkungan sekitar.
"Anggrek juga sevara tidak langsung mencegah penebang menebang pohon. Dulu iya menebang, sekarang sudah tidak lagi," tutur Joko.
Program ini pun melibatkan partisipasi masyarakat luas, salah satunya melalui skema adopsi anggrek. Wisatawan atau donatur dapat berkontribusi secara finansial untuk mengadopsi anggrek.
Baca juga: WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
Dalam adopsi tersebut, anggrek akan ditanam kembali di habitat aslinya di dalam hutan Merapi yang masuk dalam zona tangkapan air.
Sebagai gantinya, para pengadopsi akan menerima laporan mengenai perkembangan dan kesehatan anggrek yang mereka asuh.
Desa Mriyan sendiri merupakan kawasan sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur yang memegang peranan krusial sebagai groundwater recharge area.
Air hujan yang jatuh di kawasan hulu ini diserap oleh tanah, ditahan oleh akar-akar vegetasi hutan, lalu bergerak jauh ke bawah tanah mengisi lapisan akuifer tertekan atau confined aquifer.
Lapisan inilah yang menyimpan air dengan tingkat kemurnian tinggi dan kaya akan mineral alami terlarut.
Baca juga: Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Pemandangan Bukit Emmon yang dilihat di Dusun Gumuk, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Selasa (7/7/2026).Air dari akuifer tertekan ini juga menjadi sumber air baku bagi produk air minum dalam kemasan (AMDK) AQUA. Sumur pengambilan airnya terletak di dekat pabrik, berjarak sekitar 25 kilometer dari zona tangkapan air di Desa Mriyan.
Untuk mencapainya, dilakukan pengeboran dalam menembus lapisan batuan kedap hingga menyentuh akuifer tertekan. Karena posisinya yang sangat dalam dan terisolasi dari polusi permukaan, air yang dihasilkan murni dan kaya mineral.
Karakteristik ini berbeda dengan air sumur masyarakat yang memanfaatkan akuifer bebas atau unconfined aquifer. Air di akuifer ini posisinya lebih dekat dengan permukaan tanah sehingga lebih rentan terhadap fluktuasi musim serta pencemaran.
Public Affairs and Sustainability Senior Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo menegaskan, keberadaan air murni ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses alamiah yang sangat kompleks.
Baca juga: Amazon Capai 75 Persen Target Penghematan Air Pusat Data
Public Affairs and Sustainability Senior Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo saat memberikan paparan di Dusun Gumuk, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Selasa (7/7/2026).Dia berujar, kawasan Sub-DAS Pusur berada dalam ancaman serius jika tutupan hutannya hilang akibat alih fungsi lahan yang tidak terkendali atau pertanian yang tidak berkelanjutan.
"Awalnya ini hutan, terus jadi agrikultur, sehingga harus dilakukan konservasi agar air bisa terserap maksimal di dalam sana (bawah tanah)," jelas Karyanto.
Tanpa adanya pohon berakar kuat, air hujan yang turun akan langsung menjadi aliran permukaan atau surface runoff yang memicu erosi, mengikis tanah subur, dan gagal meresap ke dalam bumi.
Karyanto berujar, sejak beroperasi pada 2002, pabrik Danone AQUA di Klaten secara konsisten melakukan studi komprehensif yang dibarengi dengan aksi konservasi hulu. Perusahaan memperkenalkan pertanian berkelanjutan kepada warga Desa Mriyan.
Dia menambahkan, perusahaan juga memfasilitasi pembuatan terasering dan membagikan bibit pohon bernilai ekonomi tinggi yang memiliki akar menghujam dalam, seperti kopi dan alpukat.
Baca juga: Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
"Di daerah gumuk ini, Danone terus mempromosikan sebagai daerah edukasi, living lab. Sehingga kita bisa mengundang kampus, mahasiswa, sekolah, pemerintah atau NGO (non governmental organization) untuk bisa ke seini belajar konservasi sehingga bisa berkembang dan menumbuhkan ekonomi juga," jelas Karyanto.
Danone AQUA juga menginisiasi forum lintas masyarakat yang menghubungkan pemangku kepentingan di wilayah hulu dan hilir. Komunitas hilir sebagai penikmat air didorong berkontribusi nyata melalui mekanisme pembayaran jasa lingkungan demi kelestarian di hulu.
"Ada aspek ekonomi yang membuat program pemberdayaan masyarakat dan program konservasi menjadi sustain (berkelanjutan) dan selalu berlangsung," ucap Karyanto.
Bangunan tempat sumur AQUA berasal di Taman Kehati Aqua Klaten, Selasa (7/7/2026).Operational Water Resources & Watershed Science Senior Manager AQUA Arif Fadillah mengungkapkan bahwa berdasarkan pengujian isotop, air baku yang digunakan AQUA terbukti memiliki jejak hidrologis yang berasal dari resapan air di Sub-DAS Pusur.
Sejak awal beroperasi hingga kini, pemantauan hidrologi menunjukkan tekanan air bawah tanah di sumur dalam mereka tetap stabil dan tidak berubah, menandakan tidak adanya penyusutan debit.
Validasi ilmiah ini diperkuat oleh penjelasan Ahli Hidrogeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Heru Hendrayana. Menurut Heru, karakteristik batuan vulkanik yang membentuk Gunung Merapi memiliki kemampuan luar biasa dalam menyimpan air bawah tanah.
Baca juga: Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
"Dengan potensi yang baik, pas untuk sumber air minum," kata Heru.
Selain air baku untuk AQUA, air dari Sub-DAS pusur juga dimanfaatkan sebagai penunjang utama pertanian, perikanan, dan industri
Dia juga menepis kekhawatiran mengenai perebutan air antara industri dan masyarakat lokal.
Heru menerangkan bahwa lapisan air yang diambil oleh AQUA berada di kedalaman akuifer tertekan yang sangat dalam. Lokasinya terpisah secara geologis oleh lapisan batuan kedap air dari lapisan akuifer bebas yang digunakan untuk sumur warga sehari-hari.
Dengan demikian, pengambilan air dalam tersebut sama sekali tidak memengaruhi ketersediaan air sumur milik masyarakat.
Kendati demikian, Heru memberikan catatan penting bahwa keberlanjutan pemanfaatan air bawah tanah ini mutlak bergantung pada seberapa efektif air hujan dapat meresap di Sub-DAS Pusur saat ini.
"Intinya kita tidak mengubah fungsi lahan seperti dulu-dulu sehingga air meresap secara alamiah," ucap Heru.
Baca juga: Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya