Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AC Bukan Jawaban Hadapi Ancaman Suhu Bumi yang Kian Memanas

Kompas.com, 10 Juli 2026, 20:52 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Saat suhu udara meningkat di seluruh dunia, AC memang berhasil menyelamatkan banyak nyawa.

Namun, ketergantungan yang makin tinggi pada AC juga memberikan tekanan berat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mulai dari jaringan listrik, meningkatkan emisi gas rumah kaca, dan membuat udara perkotaan menjadi jauh lebih panas.

Sebuah tinjauan global yang dipimpin oleh Profesor Mat Santamouris dari UNSW Sydney menegaskan bahwa menjaga bangunan tetap sejuk tanpa hanya mengandalkan AC akan menjadi kunci penting untuk bertahan menghadapi perubahan iklim.

Melansir Phys, Kamis (2/6/2026) laporan yang diterbitkan di jurnal Nature Reviews Clean Technology ini membedah kemajuan terbaru dalam teknologi pendinginan alami.

Misalnya saja bahan-bahan baru yang bisa memantulkan panas ke langit, sistem penguapan air, tirai penahan matahari yang canggih, hingga teknologi ventilasi pintar yang bisa membantu bangunan membuang panas tanpa menggunakan listrik sama sekali.

Profesor Santamouris mengatakan bahwa sistem pendinginan alami tidak boleh lagi dianggap hanya sebagai pelengkap arsitektur yang mewah, melainkan sebagai infrastruktur penting untuk menghadapi dunia yang semakin panas.

Baca juga: AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?

"AC memang menyelamatkan nyawa dan akan tetap penting saat terjadi gelombang panas yang ekstrem," katanya.

"Tetapi, kita tidak bisa menyelesaikan masalah perubahan iklim ini hanya dengan terus-menerus menyalakan AC. Jika setiap gedung sepenuhnya bergantung pada mesin pendingin, kita akan menciptakan tekanan yang luar biasa pada jaringan listrik, sekaligus membuang lebih banyak panas ke kota-kota kita," paparnya lagi,

Mendinginkan bangunan tanpa bergantung AC

Laporan ini menyoroti pertumbuhan yang sangat cepat dalam kebutuhan pendingin ruangan di seluruh dunia.

Konsumsi listrik global untuk mendinginkan ruangan kini telah mencapai hampir 10 persen dari total penggunaan listrik di bumi, di mana sekitar 10 AC baru terjual setiap detiknya.

Pada tahun 2050, jumlah unit AC di rumah-rumah diperkirakan akan melonjak hingga hampir 5,6 miliar unit di seluruh dunia.

Di saat yang sama, miliaran orang yang tinggal di wilayah beriklim panas masih belum memiliki akses untuk mendapatkan pendingin ruangan yang harganya terjangkau.

Teknologi pendinginan alami menawarkan cara untuk menghemat penggunaan listrik sekaligus membuat bangunan menjadi lebih aman dan nyaman, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.

"Strategi pendinginan terbaik adalah mencegah panas yang tidak diinginkan masuk ke dalam bangunan sejak awal. Penggunaan peneduh, bahan bangunan yang memantulkan panas, ventilasi udara yang lebih pintar, serta bahan pendingin baru bisa menurunkan suhu ruangan secara drastis bahkan sebelum AC perlu dinyalakan," kata Santamouris.

Alih-alih membuang atau menggantikan fungsi AC secara total, Santamouris dan rekannya, Dr. Konstantina Vasilakopoulou dari RMIT, berpendapat bahwa pendinginan alami harus dijadikan sebagai benteng pertahanan pertama.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau