Sementara itu, AC baru dinyalakan sebagai bantuan tambahan hanya ketika benar-benar dibutuhkan saja.
Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem
Laporan ini menguji berbagai teknologi baru yang inovatif, seperti bahan bangunan yang sangat dingin, lapisan cat khusus yang menggabungkan kemampuan memantulkan panas dan penguapan air, sistem tirai peneduh luar ruangan yang canggih, serta kipas angin pintar untuk kebutuhan personal.
Selain itu, laporan ini juga membahas teknologi alami yang sudah dikenal lama, seperti bahan pemantul panas yang bisa langsung membuang suhu panas ke luar atmosfer bumi, serta sistem pendingin campuran yang menggabungkan beberapa cara alami sekaligus.
Menurut studi, menggabungkan strategi pendinginan alami dengan desain bangunan yang hemat energi bisa memotong kebutuhan penggunaan AC hingga 80 persen di wilayah beriklim panas. Cara ini juga bisa menurunkan lonjakan beban listrik tertinggi serta menjaga rumah tetap aman saat terjadi mati lampu.
Kota yang lebih sejuk, masyarakat yang lebih sehat
Selain menghemat penggunaan energi, para peneliti mengatakan bahwa pendinginan alami dapat membuat kota-kota menjadi lebih sehat dan lebih kuat dalam bertahan ketika gelombang panas ekstrem semakin sering terjadi.
Menjaga bangunan dan lingkungan sekitar tetap sejuk bisa mengurangi risiko terkena penyakit akibat kepanasan, meredakan tekanan pada jaringan listrik saat terjadi gelombang panas, dan memberikan kenyamanan bagi orang-orang yang tidak mampu membeli atau menyalakan AC.
Cara pendinginan alami ini juga bisa membantu bangunan tetap aman dihuni saat mati lampu, yaitu ketika mesin pendingin ruangan tidak bisa digunakan.
Santamouris mengatakan bahwa keuntungan terbesar akan didapat jika kita menggabungkan pendinginan alami dengan penggunaan AC yang hemat energi, bukan malah menganggap keduanya sebagai pilihan yang saling bermusuhan.
"Tidak ada solusi tunggal untuk menjaga agar kota-kota tetap sejuk. Kita membutuhkan pendekatan menyeluruh yang dimulai dari desain bangunan yang ramah iklim, penyediaan peneduh, dan penggunaan bahan bangunan yang lebih baik, lalu menggunakan teknologi pendingin yang paling hemat energi hanya saat benar-benar dibutuhkan saja," katanya.
Laporan ini mendesak adanya standar bangunan dan kebijakan tata kota yang lebih ketat untuk mendukung desain rumah yang ramah iklim. Selain itu, diperlukan juga investasi pada teknologi yang bisa menahan panas agar tidak masuk ke dalam gedung, serta mengurangi beban pada jaringan listrik saat suhu kota terus memanas.
Baca juga: Permintaan AC Diprediksi Meningkat Tiga Kali Lipat pada Tahun 2050
Santamouris mengungkapkan pula gedung-gedung yang dirancang saat ini harus mampu bertahan menghadapi iklim yang jauh lebih panas dalam beberapa dekade mendatang.
"Bangunan yang kita bangun hari ini akan tetap berdiri pada tahun 2050 dan tahun-tahun berikutnya. Bangunan tersebut harus dirancang untuk menghadapi iklim yang akan terjadi di masa depan, bukan iklim yang kita rasakan di masa lalu," terangnya.
Untuk mencapai hal ini, pemerintah harus memperketat standar aturan bangunan, mendukung teknologi pendinginan alami, serta mempermudah akses pendingin yang murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Santamouris mengatakan bahwa langkah-langkah ini bisa memberikan manfaat yang besar bagi kesehatan masyarakat, keamanan pasokan listrik, dan ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim.
"Pendingin ruangan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang mampu membayar tagihan listrik yang terus naik. Desain bangunan yang lebih baik bisa memotong biaya, meningkatkan kenyamanan, dan membantu melindungi orang-orang yang paling rentan terhadap cuaca panas yang ekstrem," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya