Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AC Bukan Jawaban Hadapi Ancaman Suhu Bumi yang Kian Memanas

Kompas.com, 10 Juli 2026, 20:52 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

Sementara itu, AC baru dinyalakan sebagai bantuan tambahan hanya ketika benar-benar dibutuhkan saja.

Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem

Laporan ini menguji berbagai teknologi baru yang inovatif, seperti bahan bangunan yang sangat dingin, lapisan cat khusus yang menggabungkan kemampuan memantulkan panas dan penguapan air, sistem tirai peneduh luar ruangan yang canggih, serta kipas angin pintar untuk kebutuhan personal.

Selain itu, laporan ini juga membahas teknologi alami yang sudah dikenal lama, seperti bahan pemantul panas yang bisa langsung membuang suhu panas ke luar atmosfer bumi, serta sistem pendingin campuran yang menggabungkan beberapa cara alami sekaligus.

Menurut studi, menggabungkan strategi pendinginan alami dengan desain bangunan yang hemat energi bisa memotong kebutuhan penggunaan AC hingga 80 persen di wilayah beriklim panas. Cara ini juga bisa menurunkan lonjakan beban listrik tertinggi serta menjaga rumah tetap aman saat terjadi mati lampu.

Kota yang lebih sejuk, masyarakat yang lebih sehat

Selain menghemat penggunaan energi, para peneliti mengatakan bahwa pendinginan alami dapat membuat kota-kota menjadi lebih sehat dan lebih kuat dalam bertahan ketika gelombang panas ekstrem semakin sering terjadi.

Menjaga bangunan dan lingkungan sekitar tetap sejuk bisa mengurangi risiko terkena penyakit akibat kepanasan, meredakan tekanan pada jaringan listrik saat terjadi gelombang panas, dan memberikan kenyamanan bagi orang-orang yang tidak mampu membeli atau menyalakan AC.

Cara pendinginan alami ini juga bisa membantu bangunan tetap aman dihuni saat mati lampu, yaitu ketika mesin pendingin ruangan tidak bisa digunakan.

Santamouris mengatakan bahwa keuntungan terbesar akan didapat jika kita menggabungkan pendinginan alami dengan penggunaan AC yang hemat energi, bukan malah menganggap keduanya sebagai pilihan yang saling bermusuhan.

"Tidak ada solusi tunggal untuk menjaga agar kota-kota tetap sejuk. Kita membutuhkan pendekatan menyeluruh yang dimulai dari desain bangunan yang ramah iklim, penyediaan peneduh, dan penggunaan bahan bangunan yang lebih baik, lalu menggunakan teknologi pendingin yang paling hemat energi hanya saat benar-benar dibutuhkan saja," katanya.

Laporan ini mendesak adanya standar bangunan dan kebijakan tata kota yang lebih ketat untuk mendukung desain rumah yang ramah iklim. Selain itu, diperlukan juga investasi pada teknologi yang bisa menahan panas agar tidak masuk ke dalam gedung, serta mengurangi beban pada jaringan listrik saat suhu kota terus memanas.

Baca juga: Permintaan AC Diprediksi Meningkat Tiga Kali Lipat pada Tahun 2050

Merancang bangunan untuk iklim masa depan

Santamouris mengungkapkan pula gedung-gedung yang dirancang saat ini harus mampu bertahan menghadapi iklim yang jauh lebih panas dalam beberapa dekade mendatang.

"Bangunan yang kita bangun hari ini akan tetap berdiri pada tahun 2050 dan tahun-tahun berikutnya. Bangunan tersebut harus dirancang untuk menghadapi iklim yang akan terjadi di masa depan, bukan iklim yang kita rasakan di masa lalu," terangnya.

Untuk mencapai hal ini, pemerintah harus memperketat standar aturan bangunan, mendukung teknologi pendinginan alami, serta mempermudah akses pendingin yang murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Santamouris mengatakan bahwa langkah-langkah ini bisa memberikan manfaat yang besar bagi kesehatan masyarakat, keamanan pasokan listrik, dan ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim.

"Pendingin ruangan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang mampu membayar tagihan listrik yang terus naik. Desain bangunan yang lebih baik bisa memotong biaya, meningkatkan kenyamanan, dan membantu melindungi orang-orang yang paling rentan terhadap cuaca panas yang ekstrem," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau