KOMPAS.com - Saat suhu udara meningkat di seluruh dunia, AC memang berhasil menyelamatkan banyak nyawa.
Namun, ketergantungan yang makin tinggi pada AC juga memberikan tekanan berat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mulai dari jaringan listrik, meningkatkan emisi gas rumah kaca, dan membuat udara perkotaan menjadi jauh lebih panas.
Sebuah tinjauan global yang dipimpin oleh Profesor Mat Santamouris dari UNSW Sydney menegaskan bahwa menjaga bangunan tetap sejuk tanpa hanya mengandalkan AC akan menjadi kunci penting untuk bertahan menghadapi perubahan iklim.
Melansir Phys, Kamis (2/6/2026) laporan yang diterbitkan di jurnal Nature Reviews Clean Technology ini membedah kemajuan terbaru dalam teknologi pendinginan alami.
Misalnya saja bahan-bahan baru yang bisa memantulkan panas ke langit, sistem penguapan air, tirai penahan matahari yang canggih, hingga teknologi ventilasi pintar yang bisa membantu bangunan membuang panas tanpa menggunakan listrik sama sekali.
Profesor Santamouris mengatakan bahwa sistem pendinginan alami tidak boleh lagi dianggap hanya sebagai pelengkap arsitektur yang mewah, melainkan sebagai infrastruktur penting untuk menghadapi dunia yang semakin panas.
Baca juga: AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?
"AC memang menyelamatkan nyawa dan akan tetap penting saat terjadi gelombang panas yang ekstrem," katanya.
"Tetapi, kita tidak bisa menyelesaikan masalah perubahan iklim ini hanya dengan terus-menerus menyalakan AC. Jika setiap gedung sepenuhnya bergantung pada mesin pendingin, kita akan menciptakan tekanan yang luar biasa pada jaringan listrik, sekaligus membuang lebih banyak panas ke kota-kota kita," paparnya lagi,
Laporan ini menyoroti pertumbuhan yang sangat cepat dalam kebutuhan pendingin ruangan di seluruh dunia.
Konsumsi listrik global untuk mendinginkan ruangan kini telah mencapai hampir 10 persen dari total penggunaan listrik di bumi, di mana sekitar 10 AC baru terjual setiap detiknya.
Pada tahun 2050, jumlah unit AC di rumah-rumah diperkirakan akan melonjak hingga hampir 5,6 miliar unit di seluruh dunia.
Di saat yang sama, miliaran orang yang tinggal di wilayah beriklim panas masih belum memiliki akses untuk mendapatkan pendingin ruangan yang harganya terjangkau.
Teknologi pendinginan alami menawarkan cara untuk menghemat penggunaan listrik sekaligus membuat bangunan menjadi lebih aman dan nyaman, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.
"Strategi pendinginan terbaik adalah mencegah panas yang tidak diinginkan masuk ke dalam bangunan sejak awal. Penggunaan peneduh, bahan bangunan yang memantulkan panas, ventilasi udara yang lebih pintar, serta bahan pendingin baru bisa menurunkan suhu ruangan secara drastis bahkan sebelum AC perlu dinyalakan," kata Santamouris.
Alih-alih membuang atau menggantikan fungsi AC secara total, Santamouris dan rekannya, Dr. Konstantina Vasilakopoulou dari RMIT, berpendapat bahwa pendinginan alami harus dijadikan sebagai benteng pertahanan pertama.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya