Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar: Populasi Kerbau di Indonesia Semakin Menurun di Tengah Mekanisasi Pertanian

Kompas.com, 16 Juli 2026, 09:32 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Populasi kerbau di Indonesia terus menghadapi tekanan seiring modernisasi sektor pertanian yang menggeser perannya sebagai tenaga kerja di sawah.

Di tengah kondisi tersebut, pelestarian kerbau dinilai perlu dilakukan melalui penguatan budaya dan tradisi masyarakat, bukan hanya pendekatan peternakan semata.

Guru Besar IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, mengatakan kerbau bukan sekadar hewan ternak, melainkan bagian dari sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Indonesia. Karena itu, upaya pelestarian akan lebih efektif jika memanfaatkan ikatan budaya yang telah mengakar di berbagai daerah.

"Konservasi kerbau lewat jalur budaya lebih dekat karena ikatan emosional. Kerbau bukan sekadar ternak, tetapi juga bagian dari identitas bersama. Tradisi adat mengajak komunitas untuk berpartisipasi secara sukarela sehingga memperkuat kebersamaan," ujar Ronny dikutip dari website IPB University, Kamis (16/7/2026).

Baca juga: Jejak Muhsin, Kembangkan Peternakan Ramah Lingkungan

Menurut dia, menurunnya populasi kerbau dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah mekanisasi pertanian yang membuat traktor menggantikan fungsi kerbau sebagai tenaga pengolah sawah.

Selain itu, alih fungsi lahan akibat urbanisasi turut mengurangi habitat sawah dan rawa yang selama ini menjadi lingkungan hidup kerbau.

Di sisi lain, minat generasi muda untuk beternak kerbau juga terus menurun karena dianggap kurang menguntungkan dibandingkan komoditas peternakan lain.

"Peternak merasa minat generasi muda untuk beternak kerbau cenderung menurun karena dianggap kurang menguntungkan. Sementara itu, kebijakan pemerintah lebih banyak berfokus pada pengembangan sapi potong dan unggas yang dinilai memiliki prospek ekonomi lebih jelas," kata Ronny.

Ia menilai pelestarian kerbau perlu diiringi penguatan ekonomi berbasis peternakan agar masyarakat memiliki insentif untuk terus memeliharanya. Caranya antara lain dengan mengembangkan produk berbahan baku kerbau, seperti susu, daging, maupun kerajinan berbahan tanduk.

Selain itu, peningkatan kualitas populasi juga dapat dilakukan melalui inseminasi buatan dan program pemuliaan genetik.

Menurut Ronny, edukasi kepada masyarakat juga perlu diperkuat sejak dini melalui festival budaya, kurikulum berbasis kearifan lokal, hingga wisata edukasi yang mengenalkan nilai sejarah dan budaya kerbau. Di sisi lain, kawasan konservasi kerbau rawa di daerah endemik juga perlu diperluas untuk menjaga habitat alaminya.

Bagian dari sejarah Nusantara

Ronny menjelaskan, kerbau (genus Bubalus) berasal dari nenek moyang keluarga Bovidae di Asia sekitar satu hingga dua juta tahun lalu.

Hewan ini mulai didomestikasi sekitar 5.000–6.000 tahun lalu di Asia Selatan sebelum menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Nusantara, melalui jalur perdagangan dan migrasi.

"Kerbau masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dari India dan Indochina, kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Kerbau dimanfaatkan sebagai tenaga kerja di sawah, simbol status sosial, hingga hewan untuk berbagai ritual adat," ujarnya.

Baca juga: El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam

Sebelum mekanisasi pertanian berkembang, kerbau menjadi tulang punggung aktivitas pertanian di berbagai daerah. Perannya juga melekat dalam berbagai tradisi, seperti ritual memandikan kerbau sebelum musim tanam, upacara Rambu Solo di Tana Toraja, tradisi Kwangkey masyarakat Dayak, hingga simbol kerbau dalam budaya Minangkabau.

Selain menghadapi penurunan populasi, kerbau juga rentan terhadap sejumlah penyakit, seperti Septicaemia epizootica, malignant catarrhal fever (MCF), surra, fasciolosis, dan enterotoxemia.

Risiko tersebut diperbesar oleh kondisi lingkungan rawa, keberadaan serangga pembawa penyakit, serta pengelolaan kandang yang belum optimal.

Karena itu, Ronny menilai pelestarian kerbau tidak hanya penting dari sisi peternakan, tetapi juga sebagai upaya menjaga warisan budaya Indonesia.

"Kerbau adalah bagian berharga dari warisan budaya Indonesia. Meski jumlahnya menurun akibat modernisasi dan perubahan sosial, pelestarian melalui tradisi, ritual, dan nilai-nilai budaya menjadi cara terbaik agar kerbau tetap menjadi bagian dari identitas bangsa," ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau