"Melihat masyarakat secara aktif mengumpulkan dan memilah sampahnya sendiri merupakan perkembangan yang sangat positif," ujar Angelika.
Menurut dia, keberlanjutan program memerlukan kolaborasi jangka panjang antara masyarakat, bank sampah, pemerintah daerah, dan sektor swasta.
Sementara itu, Ketua Bank Sampah Jakarta Utara, Nurpiah, mengaku program PHINLA telah mengubah cara pandangnya terhadap sampah.
Melalui program tersebut, ia belajar memilah sampah, menjualnya ke bank sampah, sekaligus menabung dari hasil penjualannya.
Nurpiah juga merasakan manfaat langsung terhadap kondisi lingkungan di tempat tinggalnya.
"Sebelum hadirnya Program PHINLA, lingkungan saya sering terkena banjir saat musim hujan. Setelah ada program ini, lingkungan kami tidak pernah banjir lagi. Penghasilan tambahan dari bank sampah juga membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak," ujar Nurpiah.
Melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, sektor swasta, dan mitra pembangunan internasional, PHINLA diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga serta meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya