JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi banyak petambak tradisional, meningkatkan produksi selama ini identik dengan membuka lahan baru. Cara tersebut memang dapat menambah kapasitas budidaya, tetapi di sisi lain juga berisiko menggerus kawasan pesisir, termasuk hutan mangrove.
Berangkat dari persoalan itu, perusahaan teknologi akuakultur Crustea memilih pendekatan berbeda. Alih-alih mendorong ekspansi tambak, perusahaan rintisan ini berupaya meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada melalui pemanfaatan teknologi.
CEO dan Founder Crustea Roikhanatun Nafi'ah mengatakan peningkatan produksi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan kualitas lingkungan di dalam tambak.
Perusahaannya mengembangkan sistem aerasi berbasis Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) yang mampu mengatur pasokan oksigen secara otomatis sesuai kebutuhan budidaya.
Baca juga: Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Mangrove, Perempuan Pesisir di Kaltara Dilatih Olah Hasil Tambak
Dengan sistem tersebut, kadar oksigen di kolam menjadi lebih stabil sehingga tingkat kematian ikan dan udang dapat ditekan hingga 50 persen.
"Dengan teknologi kami, lahan seluas 500 meter persegi yang sebelumnya menghasilkan sekitar 500 kilogram kini bisa mencapai satu ton. Kami tidak membutuhkan lahan baru yang belum tentu aman bagi lingkungan. Yang kami lakukan adalah membuat lahan yang sudah ada menjadi lebih produktif," ujar Nafi'ah dalam sesi Membuka Potensi Ekonomi Berbasis Alam Indonesia pada Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).
Selain meningkatkan produktivitas, Crustea juga berupaya menekan biaya operasional yang selama ini menjadi tantangan utama para petambak.
Melalui pemanfaatan panel surya dan sistem IoT, penggunaan aerator dapat diatur secara otomatis sesuai kondisi tambak. Teknologi berbasis AI juga membantu menentukan kapan alat bekerja secara optimal dan kapan intensitasnya dapat dikurangi.
Menurut Nafi'ah, pendekatan tersebut mampu memangkas biaya energi hingga sekitar 80 persen tanpa mengurangi kualitas budidaya.
Ia mengatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya dekarbonisasi sektor akuakultur melalui pemanfaatan energi terbarukan dan teknologi digital.
Di sisi lain, Nafi'ah melihat peluang besar untuk meningkatkan produksi perikanan nasional tanpa harus memperluas kawasan budidaya.
Menurut dia, kebutuhan udang dan ikan di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 10 juta ton per tahun, sementara pasokan yang tersedia saat ini baru sekitar 1 juta ton.
Karena itu, Crustea tidak hanya menawarkan teknologi kepada petambak, tetapi juga mengembangkan model revitalisasi tambak yang kurang produktif agar mampu menghasilkan panen lebih tinggi sekaligus membuka akses ke pasar.
"Kami tidak hanya menjual teknologi, tetapi juga membantu mengoptimalkan kawasan budidaya yang sudah ada agar mampu memenuhi permintaan pasar, baik domestik maupun internasional," kata Nafi'ah.
Baca juga: Koperasi Desa Merah Putih di Pati Berdiri di Tengah Tambak, Kades Sebut Bakal Jadi Wisata
Di balik inovasi tersebut, Nafi'ah mengaku perjalanan membangun perusahaan tidak selalu mudah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya