Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset

Kompas.com, 11 Agustus 2026, 08:29 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kepala badan keanekaragaman hayati PBB menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan masih gagal bertindak mengatasi kerusakan alam. Padahal, mereka sudah bertahun-tahun tahu bahwa kerusakan alam mengancam rantai pasokan dan keuntungan bisnis mereka sendiri.

Melansir Independent, Rabu (5/8/2026) Astrid Schomaker, Sekretaris Eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati, menyampaikan meski beberapa perusahaan sudah aktif, banyak perusahaan lain yang masih berdiam diri.

Hal ini terjadi di tengah persiapan pemerintah dunia menuju KTT lingkungan di Armendia untuk mengevaluasi target-target PBB yang hampir semuanya diperkirakan meleset.

"Perusahaan belum menginvestasikan cukup waktu, energi, dan sumber daya untuk menganalisis dampak, ketergantungan, serta risiko kerusakan alam terhadap rantai pasokan mereka," ujar Schomaker.

Padahal, hilangnya keanekaragaman hayati selalu masuk dalam daftar risiko global teratas World Economic Forum setiap tahun sejak 2020. Itu sebuah daftar yang disusun dari survei para pemimpin bisnis dan digunakan secara luas dalam perencanaan perusahaan.

Baca juga: Tren Sustainability 2026, Perusahaan Fokus pada Regulasi dan Kepatuhan

"Paradoksnya adalah risiko kerusakan alam dan hilangnya keanekaragaman hayati telah menjadi salah satu risiko terbesar selama lima atau enam tahun terakhir," kata Schomaker.

"Jadi, bisa dibilang mereka sebenarnya sadar akan risiko tersebut, tetapi perusahaan-perusahaan belum juga mengambil tindakan." paparnya.

Ia menjelaskan bahwa penundaan tindakan ini terjadi karena adanya kendala praktis dan keuangan. Perusahaan lambat dalam mengukur tingkat risiko bisnis mereka, sementara pemerintah juga lambat dalam mewajibkan perusahaan untuk melaporkannya.

Selain itu, mengukur risiko kerusakan alam memang jauh lebih rumit daripada mengukur emisi karbon. Risiko lingkungan sangat bergantung pada lokasi sehingga tidak bisa dihitung hanya dengan satu angka global.

Mengukur komitmen negara

Sementara itu, KTT di Armenia akan melakukan evaluasi menyeluruh pertama terhadap Kesepakatan Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal.

Kesepakatan yang dibuat di Montreal pada tahun 2022 ini berisi komitmen dari hampir semua negara untuk melindungi 30 persen wilayah darat dan laut pada tahun 2030, memulihkan ekosistem yang rusak, serta memangkas subsidi yang merusak alam.

Hampir seluruh negara di dunia bergabung dalam konvensi ini, kecuali Amerika Serikat dan Vatikan.

Baca juga: Praktik Greenwashing Perusahaan Naik di Tengah Anjloknya Kualitas Laporan ESG

Draf laporan global PBB menemukan bahwa negara-negara gagal memenuhi 22 dari 23 target yang ada. Laporan tersebut memperingatkan bahwa target untuk menghentikan dan memulihkan kerusakan alam pada tahun 2030 tidak akan tercapai kecuali tindakan nyata segera dipercepat.

Hasil analisis Carbon Brief terhadap 134 laporan nasional menemukan bahwa baru 21 negara yang tampaknya telah melakukan pendataan tersebut. Sementara itu, ada 62 negara yang belum menyerahkan laporan sama sekali.

Draf laporan ini telah melalui peninjauan oleh para ahli dan akan disunting kembali sebelum diterbitkan secara resmi menjelang KTT.

Lebih lanjut, komitmen yang tidak terlaksana di antaranya adalah negara seharusnya sudah mendata seluruh bentuk subsidi yang merusak alam pada tahun 2025, sebagai langkah awal untuk memangkas subsidi bernilai 500 miliar Dolar AS setiap tahunnya hingga 2030.

Subsidi merusak alam yang berhasil terdata oleh negara-negara tersebut mencapai sekitar 270 miliar Dolar AS per tahun, dan hampir separuhnya mengalir ke sektor bahan bakar fosil.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau