KOMPAS.com - Padi merupakan makanan pokok bagi lebih dari separuh penduduk dunia, tetapi perkiraan mengenai seberapa parah perubahan iklim akan merusak produksi padi masih sangat beragam.
Salah satu alasannya adalah banyak analisis ilmiah yang belum membedakan antara dampak kenaikan suhu rata-rata yang bertahap dengan kerusakan mendadak akibat cuaca panas ekstrem.
Melansir laman resmi Potsdam Institute for Climate Impact Research, Rabu (29/7/2026) peneliti pun kemudian membandingkan 214 hasil eksperimen pemanasan langsung di lapangan dengan 7 simulasi komputer.
Baca juga: Pakar: Populasi Kerbau di Indonesia Semakin Menurun di Tengah Mekanisasi Pertanian
Hasilnya menunjukkan bahwa perkiraan komputer jauh lebih rendah dibanding kenyataan di lapangan. Komputer memperkirakan kenaikan suhu 1 derajat C hanya menurunkan hasil panen padi sebesar 3,8 persen, padahal bukti nyata di lapangan menunjukkan penurunan hingga 8,1 persen alias lebih dari dua kali lipatnya.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Advances ini dipimpin oleh Helmholtz Centre for Environmental Research bekerja sama dengan Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK).
Dalam studi baru ini, data dari 214 eksperimen membuktikan bahwa panas ekstrem dengan suhu di atas 30 derajat C menjadi faktor utama penyebab anjloknya hasil panen padi. Di lebih dari 70 persen lokasi penelitian, paparan suhu tinggi menjadi penyebab lebih dari separuh total penurunan panen.
Namun, ketika dibandingkan dengan tujuh model simulasi pertanian, model-model tersebut ternyata kurang peka terhadap dampak cuaca panas ekstrem jika dibandingkan dengan kondisi nyata di lapangan.
"Perbedaan antara hasil pengamatan lapangan dan simulasi komputer ini sebagian besar terjadi karena banyak model pertanian saat ini belum mampu mencatat kerusakan akibat suhu panas pada fase reproduksi padi dengan baik. Padahal, data lapangan menunjukkan bahwa di sinilah padi paling rentan terhadap panas ekstrem, yaitu saat tangkai bulir dan bulir padi sedang berkembang," jelas Yiwei Jian, penulis utama riset dari Helmholtz Centre for Environmental Research.
Baca juga: Kebijakan Perlindungan Tanah Terbukti Sehatkan Lahan Pertanian
Setelah model komputer diperbaiki agar sesuai dengan data nyata di lapangan, studi ini memperkirakan bahwa kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1 derajat C akan mengurangi hasil panen padi dunia rata-rata sebesar 8,1 persen.
Jumlah ini sekitar dua kali lipat dari perkiraan awal model komputer yang hanya 3,8 persen. Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa angka ini baru menghitung dampak suhu saja, sehingga jangan dianggap sebagai ramalan utuh untuk total produksi padi di masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya