Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon

Kompas.com, 11 Agustus 2026, 19:46 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengidentifikasi sekitar 6,28 juta hektare area Perhutanan Sosial yang berpotensi dikembangkan untuk perdagangan karbon sekaligus mendukung target Indonesia mencapai FOLU Net Sink 2030.

Dari luasan tersebut, sekitar 2,68 juta hektare diprioritaskan untuk perdagangan karbon domestik. Sementara 3,60 juta hektare lainnya disiapkan untuk skema perdagangan karbon yang melibatkan pembeli dari luar negeri.

Meski melibatkan pembeli internasional, pengurangan emisi dari kegiatan tersebut tetap akan diperhitungkan sebagai bagian dari kontribusi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia.

Baca juga: RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kemenhut, Catur Endah Prasetiani mengatakan, pemetaan dilakukan secara digital menggunakan sistem informasi geografis untuk memastikan potensi karbon di setiap wilayah dapat diidentifikasi secara lebih akurat.

"Jadi, antara REDD dan juga ARR baik untuk di area indikatif FOLU Net Sink maupun area non-indikatif FOLU Net Sink. Artinya, angka-angka ini yang di merah ini, ini sudah ada persetujuan pengelolaan perhutanan sosialnya. Jadi, sebenarnya kami sudah mulai memetakan KPS-KPS-nya, kami juga memetakan mitra-mitra yang ada," ujar Catur dalam sebuah webinar, Selasa (11/8/2026).

Menurut dia, pemetaan tersebut juga penting untuk mencegah terjadinya double claim atau klaim ganda dalam perdagangan karbon melalui pencatatan pada Sistem Registri Unit Karbon (SRUK).

Selain area yang telah dipetakan untuk perdagangan karbon, Kemenhut masih melakukan harmonisasi data terhadap potensi kegiatan Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) serta Afforestation, Reforestation, and Revegetation (ARR) yang mencakup sekitar 2,06 juta hektare.

Target Perhutanan Sosial 12,7 juta hektare

Pengembangan perdagangan karbon tersebut merupakan bagian dari upaya Kemenhut mencapai target Perhutanan Sosial seluas 12,7 juta hektare pada 2030.

Hingga saat ini, area definitif Perhutanan Sosial yang telah terealisasi mencapai sekitar 8,34 juta hektare. Kemenhut masih mengidentifikasi potensi tambahan sekitar 4,36 juta hektare yang tercantum dalam Peta Indikatif Area Perhutanan Sosial (PIAPS).

Potensi tersebut kemudian dipetakan berdasarkan kondisi tutupan lahan dan peluang pengembangan kegiatan mitigasi perubahan iklim.

Untuk mengoptimalkan nilai ekonomi karbon (NEK) dari kawasan tersebut, Kemenhut menyiapkan tiga klaster pengembangan.

Klaster pertama adalah mengaktifkan kembali 40 proyek aksi mitigasi perubahan iklim yang telah ada. Dari jumlah tersebut, 23 proyek telah diidentifikasi masih sangat aktif.

Seluruh proyek tersebut akan dioptimalkan secara bertahap dalam periode 2026-2030.

Klaster kedua berupa pengembangan inisiatif baru yang menyesuaikan dengan dinamika regulasi perdagangan karbon. Kemenhut membuka peluang bagi pihak-pihak yang memiliki potensi untuk mengembangkan model perdagangan karbon baru sesuai dengan standar nasional.

Baca juga: Perhutanan Sosial di Sikka Hasilkan Produk Kopi Unggulan

Sementara klaster ketiga difokuskan pada pengembangan perdagangan karbon di wilayah Hutan Adat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau