Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 08:20 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil analisis data Cek Kesehatan Gratis (CKG) anak selama satu tahun menunjukkan gejala masalah kesehatan jiwa cenderung meningkat seiring bertambahnya usia peserta didik.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), peningkatan tersebut terlihat dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Gejala kecemasan dan depresi yang terdeteksi melalui skrining mencapai tingkat tertinggi pada peserta didik jenjang SMA.

Data tersebut merupakan hasil analisis CKG terhadap 23,5 juta anak selama periode Februari 2025 hingga Februari 2026.

Direktur Reconstra, Iwan Ariawan mengatakan, gejala masalah kesehatan jiwa sudah mulai terdeteksi pada peserta didik kelas 4-6 SD. Namun, persentasenya meningkat cukup tajam ketika anak memasuki jenjang SMP dan SMA.

Baca juga: Mengapa Jatuh Cinta Bisa Memicu Rasa Takut dan Cemas?

"Ini kelas 4 sampai 6 SD. Di sini sudah ada juga skrining untuk masalah kejiwaan, masalah gejala depresi dan gejala cemas. Sama ya ini baru namanya juga skrining, baru gejala kita belum sampai diagnosis, tapi ini kan perlu tatalaksana, nih. Kita sudah ketemu secara dini di sini," ujar Iwan dalam seminar Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis Anak, Kamis (13/8/2026).

Gejala meningkat sejak SMP

Pada jenjang kelas 4-6 SD, sebanyak 5,3 juta anak telah mengikuti CKG selama satu tahun. Dari jumlah tersebut, 1,1 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 1,3 persen menunjukkan gejala depresi.

Persentase tersebut meningkat ketika anak memasuki kelas 7 SMP.

Sebanyak 1,7 juta anak kelas 7 SMP mengikuti CKG, dengan 7 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 7,4 persen menunjukkan gejala depresi.

Pada kelas 8 SMP, dari 1,49 juta anak yang mengikuti CKG, sebanyak 8,7 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 9,1 persen menunjukkan gejala depresi.

Sementara itu, pada kelas 9 SMP, sebanyak 1,42 juta anak mengikuti CKG. Hasil skrining menunjukkan 10,3 persen mengalami gejala kecemasan dan 10,7 persen mengalami gejala depresi.

"Masalah kesehatan jiwa yang sudah lumayan kelihatan dan kalau diperhatikan dari yang tadi, kalau ingat data yang tadi ini naik," tutur Iwan.

Kecenderungan peningkatan tersebut berlanjut ketika anak memasuki jenjang SMA. Pada kelas 10 SMA, sebanyak 1,45 juta anak mengikuti CKG. Hasil skrining menunjukkan 14,6 persen mengalami gejala kecemasan, sedangkan 15,5 persen menunjukkan gejala depresi.

Adapun pada kelas 11-12 SMA, sebanyak 1,9 juta anak mengikuti CKG. Sebanyak 15,3 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 15,9 persen menunjukkan gejala depresi.

Baca juga: Hasil CKG Ungkap Remaja Mulai Alami Depresi hingga Hipertensi

Dengan demikian, berdasarkan data skrining tersebut, gejala kecemasan dan depresi pada peserta didik menunjukkan kecenderungan meningkat dari jenjang SD hingga SMA.

"Kalau kita lihat masalah kejiwaan meskipun ini baru gejala, gejala cemas, gejala depresi makin naik. Jadi gimana program kesehatan mental kita nih di sekolah?" ucap Iwan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau