KOMPAS.com - Fenomena paus dan lumba-lumba semakin sering terdampar di kawasan pesisir disebabkan berbagai faktor.
Kejadian paus dan lumba-lumba semakin sering terdampar di kawasan pesisir dipicu kombinasi aspek biologis, perubahan lingkungan, dan aktivitas manusia.
“Penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa penyebab mamalia laut terdampar sangat kompleks. Pada setiap kasus, faktor yang berperan bisa berbeda dan saling memengaruhi,” ujar Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Meutia Ismet, dilansir dari laman resmi IPB University, Sabtu (15/8/2026).
Baca juga: Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Menurut Meutia, salah satu penyebab paus dan lumba-lumba terdampar adalah kerentanan biologis, seperti infeksi bakteri dan parasit.
Sejumlah penelitian menemukan lumba-lumba yang terdampar, mengandung akumulasi parasit yang tinggi. Besarnya parasit dalam tubuh mamalia laut memicu gangguan sistem imun dan malnutrisi.
Kondisi tersebut diduga bisa memengaruhi fungsi kognitif dan kemampuan navigasi mamalia laut, meski hubungan langsungnya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Selain itu, infeksi bakteri, seperti meningitis yang menyerang jaringan selaput otak, juga dapat mempengaruhi atau mengganggu sistem sonar yang digunakan paus dan lumba-lumba untuk bernavigasi.
Gangguan serupa juga bisa dipicu oleh racun yang dihasilkan harmful algal bloom atau ledakan alga berbahaya maupun akumulasi logam berat yang berdampak pada sistem saraf dan menyebabkan disorientasi.
Ia menganggap, perubahan iklim dan pemanasan laut turut memperbesar risiko gangguan terhadap mamalia laut.
Peningkatan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim mengubah distribusi fitoplankton, krill, dan ikan yang menjadi sumber pakan mamalia laut. Imbasnya, paus dan lumba-lumba harus mengubah jalur migrasi untuk mengikuti mangsanya.
“Perubahan jalur migrasi membuat mereka mengeluarkan energi lebih besar. Ketika memasuki wilayah yang kurang dikenali, risiko kelelahan, kesalahan navigasi, hingga akhirnya terdampar juga meningkat,” tutur Meutia.
Di sisi lain, aktivitas manusia, seperti pencemaran laut, sampah plastik, penangkapan ikan berlebih (bycatch), sqmpai masuknya limbah organik ke perairan ikut memperburuk kondisi ekosistem laut.
Limbah organik dapat memicu ledakan alga berbahaya yang menghasilkan neurotoksin dan mengganggu sistem saraf mamalia laut.
Baca juga: Paus Pembunuh Palsu Terdampar di Perairan Polewali Mandar, Dievakuasi ke Laut Lepas
Ia menggarisbawahi bahwa paus dan lumba-lumba merupakan mamalia sosial dengan tingkat kecerdasan tinggi. Saat satu individu mengalami disorientasi atau terdampar, anggota kelompok lainnya kerap mengikuti untuk memberikan pertolongan sehingga jumlah individu yang terdampar dapat bertambah.
Ia mengimbau masyarakat untuk memprioritaskan menjaga keselamatan diri, dengan segera melaporkan kejadian mamalia laut terdampar kepada instansi atau tim penyelamat yang berwenang. Ini untuk mengurangi keramaian di sekitar hewan, menjaga kulitnya tetap basah dan terlindung dari panas matahari, serta memastikan lubang pernapasannya tidak tertutup pasir sambil menunggu penanganan profesional.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya