Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir

Kompas.com, 15 Agustus 2026, 16:29 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Fenomena paus dan lumba-lumba semakin sering terdampar di kawasan pesisir disebabkan berbagai faktor.

Kejadian paus dan lumba-lumba semakin sering terdampar di kawasan pesisir dipicu kombinasi aspek biologis, perubahan lingkungan, dan aktivitas manusia. 

‎“Penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa penyebab mamalia laut terdampar sangat kompleks. Pada setiap kasus, faktor yang berperan bisa berbeda dan saling memengaruhi,” ujar Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Meutia Ismet, dilansir dari laman resmi IPB University, Sabtu (15/8/2026).

Baca juga: Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus

‎Menurut Meutia, salah satu penyebab paus dan lumba-lumba terdampar adalah kerentanan biologis, seperti infeksi bakteri dan parasit.

Sejumlah penelitian menemukan lumba-lumba yang terdampar, mengandung akumulasi parasit yang tinggi. Besarnya parasit dalam tubuh mamalia laut memicu gangguan sistem imun dan malnutrisi. 

‎Kondisi tersebut diduga bisa memengaruhi fungsi kognitif dan kemampuan navigasi mamalia laut, meski hubungan langsungnya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

‎Selain itu, infeksi bakteri, seperti meningitis yang menyerang jaringan selaput otak, juga dapat mempengaruhi atau mengganggu sistem sonar yang digunakan paus dan lumba-lumba untuk bernavigasi. 

‎Perubahan iklim dan jalur migrasi

‎Gangguan serupa juga bisa dipicu oleh racun yang dihasilkan harmful algal bloom atau ledakan alga berbahaya maupun akumulasi logam berat yang berdampak pada sistem saraf dan menyebabkan disorientasi.

‎Ia menganggap, perubahan iklim dan pemanasan laut turut memperbesar risiko gangguan terhadap mamalia laut.

Peningkatan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim mengubah distribusi fitoplankton, krill, dan ikan yang menjadi sumber pakan mamalia laut. Imbasnya, paus dan lumba-lumba harus mengubah jalur migrasi untuk mengikuti mangsanya.

‎“Perubahan jalur migrasi membuat mereka mengeluarkan energi lebih besar. Ketika memasuki wilayah yang kurang dikenali, risiko kelelahan, kesalahan navigasi, hingga akhirnya terdampar juga meningkat,” tutur Meutia.

‎Di sisi lain, aktivitas manusia, seperti pencemaran laut, sampah plastik, penangkapan ikan berlebih (bycatch), sqmpai masuknya limbah organik ke perairan ikut memperburuk kondisi ekosistem laut.

Limbah organik dapat memicu ledakan alga berbahaya yang menghasilkan neurotoksin dan mengganggu sistem saraf mamalia laut.

Baca juga: Paus Pembunuh Palsu Terdampar di Perairan Polewali Mandar, Dievakuasi ke Laut Lepas

‎Ia menggarisbawahi bahwa paus dan lumba-lumba merupakan mamalia sosial dengan tingkat kecerdasan tinggi. Saat satu individu mengalami disorientasi atau terdampar, anggota kelompok lainnya kerap mengikuti untuk memberikan pertolongan sehingga jumlah individu yang terdampar dapat bertambah.

‎Ia mengimbau masyarakat untuk memprioritaskan menjaga keselamatan diri, dengan segera melaporkan kejadian mamalia laut terdampar kepada instansi atau tim penyelamat yang berwenang. Ini untuk mengurangi keramaian di sekitar hewan, menjaga kulitnya tetap basah dan terlindung dari panas matahari, serta memastikan lubang pernapasannya tidak tertutup pasir sambil menunggu penanganan profesional.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau