Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam

Kompas.com, 15 Agustus 2026, 17:35 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan marak terjadi di kawasan tropis, salah satunya di Indonesia.

Sebuah studi mencatat pemantauan suara di salah satu kepulauan di Sulawesi mencatat ada lebih dari 3.500 ledakan hanya dalam waktu 483 hari.

Melansir New Scientist, Jumat (14/8/2026) dalam radius hanya 17 kilometer di kepulauan tersebut, ledakan terjadi hampir setiap jam akibat praktik "bom ikan" oleh warga lokal. Hal ini menghancurkan terumbu karang dan memusnahkan kehidupan laut.

Selama 483 hari antara Mei 2023 hingga September 2024, Ben Williams dari University College London bersama timnya memasang alat pemantau suara di Kepulauan Spermonde, sebelah barat daya Sulawesi.

Baca juga: Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang

Selain menjadi pusat kekayaan keanekaragaman hayati terumbu karang dunia, lokasi ini juga menjadi tempat para nelayan meledakkan bahan peledak di bawah air untuk membuat pingsan dan membunuh ikan agar mudah ditangkap.

“Suara bom ikan itu sangat keras. Kalau Anda sedang menyelam, bunyinya bisa bikin kaget setengah mati. Anda lebih merasakannya daripada sekadar mendengarnya. Tapi kalau Anda menaikkan kepala ke permukaan, kemungkinan besar tidak akan melihat perahu pelakunya, karena suara bom ikan bisa merambat sangat jauh di dalam air,” kata Williams.

Alat perekam tersebut dipasang di kedalaman 17 meter dan mampu mendeteksi ledakan dalam radius hampir 17 kilometer. Tim peneliti menggunakan AI untuk menganalisis 3.650 jam rekaman suara. Mereka mencatat ada 3.567 ledakan, atau sekitar 23 ledakan lebih per hari selama alat tersebut berada di dalam air.

“Kami telah menunjukkan sejauh mana praktik ini terjadi di lokasi yang dikenal marak bom ikan untuk pertama kalinya. Kami berharap temuan ini memicu tindakan tegas untuk menghentikan perusakan ini,” ujar Williams.

"Salah satu masalah terbesarnya adalah adanya rantai pasok ilegal yang mendukung praktik bom ikan ini, yang biasanya melibatkan penyediaan pupuk kimia dan detonator atau pemicu ledakan. Di wilayah lain, bahan peledaknya bahkan bisa berasal dari hasil curian tambang atau milik militer,” tambahnya.

“Menangkap nelayan pemakai bom itu seperti permainan pukul tikus. Cara terbaik adalah memutus rantai pasok ilegal yang menyuplai bahan peledak ke para nelayan atau penjualnya,” kata Williams.

Melawan praktik bom ikan

Bom ikan adalah masalah di seluruh kawasan tropis, dan bagian dari solusinya adalah melatih warga lokal untuk beralih ke pariwisata berkelanjutan dan pemulihan terumbu karang.

Praktik ini sendiri tercatat terjadi di 34 negara, mulai dari Amerika Selatan, Laut Tengah, pantai timur Afrika, hingga Asia Tenggara.

Rinaldi Gotama, seorang peneliti yang tidak terlibat dalam riset ini dan sedang menempuh studi di University of Queensland, Australia mengungkapkan tidak terkejut melihat seberapa parah skala masalah ini.

Baca juga: Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak

“Saya memang menduga frekuensinya tinggi, tetapi penelitian tentang bom ikan relatif sedikit karena masalah ini terkenal sangat sulit dihitung jumlah pastinya,” kata Gotama yang telah banyak bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (NGO) di Indonesia di area terumbu karang yang menjadi sasaran bom ikan.

Ia menyampaikan bahwa metode baru yang digunakan para peneliti ini bisa membantu melawan praktik tersebut.

“Jika metode pemantauan suara ini bisa diterapkan di tempat lain, ini akan sangat membantu mendeteksi, menghitung jumlah ledakan, dan memetakan lokasi-lokasi yang paling rawan,” ujar Gotama.

“Metode ini berguna tidak hanya untuk memantau kondisi lingkungan, tetapi juga untuk membantu aparat memfokuskan pengawasan serta menilai apakah aturan yang dibuat benar-benar berhasil mengurangi penggunaan bom ikan,” tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau