KOMPAS.com-Penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan marak terjadi di kawasan tropis, salah satunya di Indonesia.
Sebuah studi mencatat pemantauan suara di salah satu kepulauan di Sulawesi mencatat ada lebih dari 3.500 ledakan hanya dalam waktu 483 hari.
Melansir New Scientist, Jumat (14/8/2026) dalam radius hanya 17 kilometer di kepulauan tersebut, ledakan terjadi hampir setiap jam akibat praktik "bom ikan" oleh warga lokal. Hal ini menghancurkan terumbu karang dan memusnahkan kehidupan laut.
Selama 483 hari antara Mei 2023 hingga September 2024, Ben Williams dari University College London bersama timnya memasang alat pemantau suara di Kepulauan Spermonde, sebelah barat daya Sulawesi.
Baca juga: Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Selain menjadi pusat kekayaan keanekaragaman hayati terumbu karang dunia, lokasi ini juga menjadi tempat para nelayan meledakkan bahan peledak di bawah air untuk membuat pingsan dan membunuh ikan agar mudah ditangkap.
“Suara bom ikan itu sangat keras. Kalau Anda sedang menyelam, bunyinya bisa bikin kaget setengah mati. Anda lebih merasakannya daripada sekadar mendengarnya. Tapi kalau Anda menaikkan kepala ke permukaan, kemungkinan besar tidak akan melihat perahu pelakunya, karena suara bom ikan bisa merambat sangat jauh di dalam air,” kata Williams.
Alat perekam tersebut dipasang di kedalaman 17 meter dan mampu mendeteksi ledakan dalam radius hampir 17 kilometer. Tim peneliti menggunakan AI untuk menganalisis 3.650 jam rekaman suara. Mereka mencatat ada 3.567 ledakan, atau sekitar 23 ledakan lebih per hari selama alat tersebut berada di dalam air.
“Kami telah menunjukkan sejauh mana praktik ini terjadi di lokasi yang dikenal marak bom ikan untuk pertama kalinya. Kami berharap temuan ini memicu tindakan tegas untuk menghentikan perusakan ini,” ujar Williams.
"Salah satu masalah terbesarnya adalah adanya rantai pasok ilegal yang mendukung praktik bom ikan ini, yang biasanya melibatkan penyediaan pupuk kimia dan detonator atau pemicu ledakan. Di wilayah lain, bahan peledaknya bahkan bisa berasal dari hasil curian tambang atau milik militer,” tambahnya.
“Menangkap nelayan pemakai bom itu seperti permainan pukul tikus. Cara terbaik adalah memutus rantai pasok ilegal yang menyuplai bahan peledak ke para nelayan atau penjualnya,” kata Williams.
Bom ikan adalah masalah di seluruh kawasan tropis, dan bagian dari solusinya adalah melatih warga lokal untuk beralih ke pariwisata berkelanjutan dan pemulihan terumbu karang.
Praktik ini sendiri tercatat terjadi di 34 negara, mulai dari Amerika Selatan, Laut Tengah, pantai timur Afrika, hingga Asia Tenggara.
Rinaldi Gotama, seorang peneliti yang tidak terlibat dalam riset ini dan sedang menempuh studi di University of Queensland, Australia mengungkapkan tidak terkejut melihat seberapa parah skala masalah ini.
Baca juga: Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak
“Saya memang menduga frekuensinya tinggi, tetapi penelitian tentang bom ikan relatif sedikit karena masalah ini terkenal sangat sulit dihitung jumlah pastinya,” kata Gotama yang telah banyak bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (NGO) di Indonesia di area terumbu karang yang menjadi sasaran bom ikan.
Ia menyampaikan bahwa metode baru yang digunakan para peneliti ini bisa membantu melawan praktik tersebut.
“Jika metode pemantauan suara ini bisa diterapkan di tempat lain, ini akan sangat membantu mendeteksi, menghitung jumlah ledakan, dan memetakan lokasi-lokasi yang paling rawan,” ujar Gotama.
“Metode ini berguna tidak hanya untuk memantau kondisi lingkungan, tetapi juga untuk membantu aparat memfokuskan pengawasan serta menilai apakah aturan yang dibuat benar-benar berhasil mengurangi penggunaan bom ikan,” tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya