KOMPAS.com - Ayam hutan Indonesia menghadapi ancaman yang tidak hanya berasal dari penyusutan habitat dan perburuan, tetapi juga persilangan dengan berbagai jenis ayam peliharaan.
Persilangan yang dilakukan tanpa pengendalian berisiko menyebabkan erosi genetik dan menghilangkan kemurnian ayam hutan asli Indonesia sebagai bagian dari kekayaan biodiversitas.
Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University, Nyoto Santoso mengatakan, populasi ayam hutan secara umum mengalami penurunan seiring semakin menyempitnya habitat.
Baca juga: Ahli Ungkap Sidik Jari Genetik Penyu, Penting untuk Kompas Konservasi
"Perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan, pertanian, pertambangan, maupun penggunaan lainnya memberikan tekanan terhadap ruang hidup ayam hutan," ujar Nyoto, dikutip Senin (17/8/2026).
Meski demikian, ayam hutan masih memiliki kemampuan beradaptasi di lingkungan yang berdekatan dengan aktivitas manusia. Satwa ini masih dapat ditemukan di kawasan perkebunan selama tersedia ruang terbuka atau area berhutan yang dapat menjadi habitat.
"Kalau manusia tidak mengganggu, walaupun itu perkebunan sawit, ayam hutan masih bisa tumbuh dan berkembang karena makanannya banyak, seperti serangga dan biji-bijian," tutur Nyoto.
Menurut Nyoto, ancaman yang semakin serius terhadap populasi ayam hutan justru berasal dari perburuan.
Ayam hutan jantan yang responsif terhadap suara kokok ayam hutan lain kerap dimanfaatkan pemburu untuk memancing dan menangkapnya. Tingginya permintaan dari penghobi kemudian semakin meningkatkan tekanan terhadap populasi ayam hutan di alam.
Ayam hutan yang diburu juga tidak hanya dimanfaatkan untuk dikonsumsi. Sebagian ditangkap untuk dipelihara dan dijadikan indukan persilangan dengan ayam kampung untuk menghasilkan ayam bekisar.
Persilangan juga dilakukan dengan ayam kate, ayam ketawa, dan jenis ayam lainnya. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengancam kemurnian genetik ayam hutan asli Indonesia.
"Jika berlangsung tanpa pengendalian, kondisi ini dapat menyebabkan erosi genetik dan membuat kemurnian ayam hutan asli semakin sulit dipertahankan," ucap Nyoto.
Indonesia memiliki dua jenis ayam hutan asli, yakni ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius).
Ayam hutan merah tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara ayam hutan hijau ditemukan di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Nyoto, menjaga galur murni kedua jenis ayam hutan tersebut merupakan bagian penting dari upaya konservasi.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui penangkaran. Namun, penangkaran perlu dilakukan secara resmi dengan memperhatikan asal-usul genetik indukan.
Pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan dinilai perlu mendorong penangkaran berizin sekaligus menyediakan indukan yang sesuai bagi masyarakat maupun perguruan tinggi.
Perguruan tinggi juga memiliki peran dalam penelitian mengenai pembiakan, perilaku, adaptasi, dan pemeliharaan ayam hutan di penangkaran.
Baca juga: Sudah Berapa Banyak Generasi Manusia yang Hidup di Bumi? Ini Jawaban Ahli Genetika
"Yang sangat penting adalah adaptasi terhadap tempat itu dan bagaimana mereka bisa menjalani hidup di dalam kandang. Hasil penangkaran juga dapat diarahkan untuk meningkatkan populasi dan mendukung pelepasliaran kembali," ujar Nyoto.
Karena itu, konservasi ayam hutan tidak cukup hanya dengan menjaga populasi di alam. Perlindungan habitat, pengendalian perburuan, penangkaran berizin, serta penjagaan kemurnian genetik perlu dilakukan secara bersamaan.
Tekanan terhadap habitat ayam hutan juga terjadi di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Kerusakan kawasan hutan membuat keberadaan ayam hutan semakin sulit ditemukan, termasuk ayam hutan jantan yang memiliki ciri khas bulu berwarna-warni.
Kepala Balai TNKS Pesisir Selatan, Kamaruzzaman mengatakan, terdapat dua jenis ayam hutan yang menyebar secara alami di kawasan tersebut.
Ayam hutan merah cenderung menyukai bagian hutan yang relatif tertutup. Sementara ayam hutan hijau lebih menyukai hutan terbuka dan wilayah berbukit.
"Diyakini para ahli, ayam hutan merah dan hijau adalah moyang dari ayam piaraan sekarang, sedangkan keturunan F1 dari persilangan antara ayam hutan merah dan ayam hutan hijau menghasilkan ayam bekisar," ujar Kamaruzzaman, dilansir dari laman resmi TNKS Pesisir Selatan.
Menurut Kamaruzzaman, populasi ayam hutan di kawasan TNKS Pesisir Selatan kemungkinan menurun seiring dengan pembabatan hutan.
Kondisi tersebut juga dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNKS.
Aprisal, warga Koto Pulai yang tinggal di pinggiran TNKS, mengatakan, dahulu suara kokok ayam hutan masih sering terdengar pada pagi hari. Suara ayam hutan tersebut dikenal tinggi, berlenggek, dan melengking.
Baca juga: Ilmuwan Ciptakan Kayu Super Lewat Rekayasa Genetika, Diklaim Bisa Serap Karbon
"Namun, kini kami di pinggir hutan tak mendengar lagi suara seperti itu, mungkin salah satu penyebabnya hutan yang layak untuk hidup ayam hutan sudah jauh ke tengah TNKS, wilayah TNKS yang memiliki hutan lebat dan tertutup semakin berkurang," tutur Aprisal pada 2013 lalu.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan ayam hutan membutuhkan perlindungan habitat sekaligus pengendalian aktivitas yang mengambil satwa dari alam.
Di saat yang sama, pengelolaan penangkaran dan persilangan perlu dilakukan dengan memperhatikan asal-usul genetik agar upaya pemanfaatan ayam hutan tidak justru mengancam keberadaan galur aslinya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya