KOMPAS.com - Penelitian dari Universitas Bonn, Universitas Warwick, dan Imperial College London yang diterbitkan di jurnal Nature Human Behaviour mengungkapkan kekeringan dan banjir yang menjadi dampak terbesar perubahan iklim seringkali dianggap tak memiliki nilai berita.
Ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang masih meremehkan dampak dari perubahan iklim.
Melansir Phys, Jumat (14/8/2026) temuan ini didapatkan setelah peneliti menganalisis data dari Europe Media Monitor, basis data milik Komisi Eropa yang mencatat berita harian dari 20.000 sumber media di 190 negara.
Baca juga: Pemerintah China Investasi Rp 5,71 Triliun untuk Cegah Bencana Sektor Pertanian
"Kami bertanya-tiga bencana alam mana yang paling menarik perhatian media luar negeri. Jadi kami berfokus pada seluruh bencana sejak tahun 2016 yang tercatat secara resmi dan totalnya ada lebih dari 2.600 bencana," jelas Profesor Thiemo Fetzer dari Departemen Ekonomi Universitas Bonn dan Universitas Warwick.
Hasil analisis para peneliti menemukan ada tiga aturan umum yang berlaku di seluruh dunia terkait berita bencana seperti apa yang sering ditayangkan media.
Pertama, media sangat cenderung memberitakan bencana mendadak yang disertai foto atau video dramatis, seperti gempa bumi, gunung meletus, longsor salju, atau kebakaran hutan.
Kedua, makin banyak korban jiwa dalam bencana tersebut, makin besar kemungkinannya untuk diberitakan di negara lain.
"Faktor ketiga yang sangat menonjol adalah peran besar dari hubungan sosial dengan negara yang terdampak. Uniknya, ini tidak ada hubungannya dengan jarak geografis yang dekat atau kemiripan bahasa. Sebaliknya, kami menemukan bukti bahwa ini terutama berkaitan erat dengan ikatan personal yang kuat," kata Fetzer.
Salah satu petunjuk dari keterkaitan ini terlihat pada Social Connectedness Index, yang dihitung berdasarkan jumlah pertemanan Facebook antara dua negara.
Kemiripan latar belakang keturunan antara kedua populasi juga berpengaruh. Dengan kata lain, makin erat ikatan kekerabatan masyarakat di dua negara, makin besar kemungkinan media di satu negara meliput bencana alam di negara lainnya.
Baca juga: Ketimpangan Iklim: Orang Kaya Nikmati AC, Orang Miskin Terancam Bencana
Ikatan pribadi menciptakan pula ketertarikan yang lebih besar serta empati tinggi sehingga respons media terhadap sebuah bencana alam di suatu negara lebih besar.
Namun, banyak dampak dari efek rumah kaca yang sepertinya sulit menembus berita utama internasional. Bencana kekeringan, misalnya, biasanya hanya diberitakan oleh media di negara yang terdampak. Hal serupa terjadi pada banjir, yang kurang menarik minat internasional dibanding bencana seperti tanah longsor atau gempa bumi.
"Hal ini membuat kita lebih mudah mengabaikan dampak pemanasan global, setidaknya sampai bencana itu terjadi tepat di depan rumah kita sendiri," pangkas Fetzer.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya