Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Melanda, Pasokan Energi Surya Uni Eropa Naik 17 Persen

Kompas.com, 18 Agustus 2026, 11:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Riset dari lembaga kajian energi Ember menemukan bahwa produksi energi surya di Eropa melonjak 17 persen selama gelombang panas pada bulan Juni dan Juli 2026.

Tambahan energi matahari ini membantu memenuhi lonjakan kebutuhan listrik akibat penggunaan pendingin ruangan (AC) yang meningkat drastis saat cuaca panas.

Melansir Edie, Jumat (14/8/2026) kenaikan produksi ini antara lain terjadi di Italia (28 persen), Hungaria (23 persen), Prancis (14 persen), dan Spanyol (13 persen) dibandingkan hari-hari sebelum gelombang panas. Kebutuhan puncak listrik juga naik hingga 17 persen di Hungaria, 14 persen di Italia, dan 11 persen di Spanyol.

Keunggulan energi surya saat gelombang panas terletak pada dua hal yakni jumlah daya yang dihasilkan bertambah dan waktunya sangat tepat, yaitu saat puncak penggunaan AC.

Ember mencatat bahwa selama gelombang panas, panel surya atap rumah di Inggris mampu menghasilkan listrik yang cukup untuk menyalakan AC rumah selama lima jam.

Baca juga: Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental

Rumah tangga yang memiliki panel surya dan baterai penyimpan listrik berhasil menghasilkan energi yang cukup untuk kebutuhan rumah mereka sendiri, sekaligus menjual kelebihan listriknya ke jaringan nasional lewat program Smart Export Guarantee (SEG) saat gelombang panas di Inggris akhir Juni lalu.

Lewat program SEG ini, warga mendapat bayaran sekitar 12 p (sekitar Rp2.886) per kilowatt-jam (kWh) dari listrik yang dijual kembali.

Lembaga Uswitch menemukan bahwa rata-rata satu rumah menghasilkan 15,2 kWh listrik per hari selama gelombang panas. Kebanyakan rumah memakai sekitar 10 kWh untuk kebutuhan sendiri, yang artinya mereka berhasil menghemat tagihan listrik rata-rata 2,49 poundsterling (sekitar Rp60.082 ) per hari.

Secara keseluruhan, rata-rata ada 5 kWh listrik yang dijual ke jaringan nasional setiap harinya, menghasilkan tambahan penghematan sebesar 55p (sekitar Rp13.263 ). Selama tujuh hari gelombang panas, total penghematan yang didapat mencapai (sekitar Rp 506.728).

Sumber listrik lain terganggu

Panel surya menjadi satu-satunya sumber listrik utama yang kinerjanya justru meningkat saat gelombang panas. Pasokan listrik dari pembangkit tenaga nuklir, gas, dan batu bara di Uni Eropa malah terganggu.

Produksi nuklir di Prancis, Rumania, Swiss, dan Hungaria terpaksa dikurangi karena surutnya air di sungai-sungai seperti Sungai Danube, sehingga kekurangan air untuk mendinginkan mesin pembangkit.

Di Inggris, lima pembangkit listrik tenaga gas harus memangkas dayanya hingga 2,5 gigawatt (GW) pada bulan Juni akibat cuaca panas.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) juga berdampak buruk. Peringatan kekeringan di Eropa Tengah, Timur, dan Barat menyebabkan tujuh dari delapan negara produsen PLTA terbesar di Uni Eropa mencatat produksi di bawah rata-rata 5 tahun terakhir.

Sementara itu harga energi harian rata-rata selama gelombang panas melonjak sekitar 119 persen di Hungaria, 44 persen di Prancis, 13 persen di Italia, dan 7 persen di Spanyol dibandingkan hari-hari biasa. Harga listrik juga sempat melonjak drastis pada awal sore hingga malam hari di beberapa negara.

Baca juga: Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi

Ketahanan pasokan energi

Panas ekstrem berdampak pada semua jenis pembangkit listrik dan berpotensi membatasi pasokan energi. Karena peralatan jaringan listrik memiliki batas suhu, gelombang panas dapat menyebabkan kabel udara menyalurkan lebih sedikit listrik atau membuat trafo mengalami panas berlebih .

Melihat temuan ini, Ember menyatakan bahwa sistem tenaga listrik sangat membutuhkan fleksibilitas yang lebih besar, baik dari penyimpanan baterai, pengaturan penggunaan listrik, maupun peningkatan interkoneksi jaringan antar-negara dan wilayah.

Ember mencatat bahwa penyimpanan baterai juga dapat memperkuat ketahanan energi Uni Eropa selama gelombang panas. Baterai tambahan bisa menyimpan energi surya berbiaya murah untuk digunakan pada malam hari, sehingga cocok dengan kebutuhan pendingin ruangan dan mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

“Lonjakan produksi energi surya membantu menstabilkan jaringan listrik saat sumber energi lain kesulitan beroperasi. Panel surya sudah bekerja keras selama gelombang panas, tetapi tantangan sebenarnya dimulai setelah matahari terbenam. Di malam hari, saat kebutuhan pendingin ruangan masih tinggi, jaringan listrik paling rentan bergantung pada listrik berbahan bakar gas yang mahal,” ungkap Chris Rosslowe, analis energi senior Ember.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau