KOMPAS.com - Penelitian terbaru menemukan bahwa orang berusia 60 tahun ke atas menghadapi potensi bahaya kesehatan akibat cuaca panas lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.
Menurut studi dalam jurnal The Lancet Public Health, kelompok lansia akan menjadi pihak yang paling dirugikan akibat gelombang panas ekstrem yang makin sering terjadi seiring pemanasan global.
Melansir The Guardian, Senin (17/8/2026) gelombang panas akan membuat banyak orang dari segala usia mengalami stres panas (heat stress) berlebih. Ini adalah kondisi saat tubuh tidak lagi mampu mendinginkan suhunya sendiri, sehingga berisiko mengalami gangguan kesehatan serius hingga kematian.
“Hasil riset kami menunjukkan bahwa jika kita memperhitungkan kerentanan berdasarkan tingkat usia, cuaca panas yang tak tertahankan akan dirasakan dalam skala yang jauh lebih luas dan durasi yang lebih lama, memengaruhi jauh lebih banyak orang dari perkiraan sebelumnya,” ungkap studi yang dipimpin oleh akademisi kesehatan dari Stanford University tersebut.
Baca juga: Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Lansia memang sudah diketahui lebih rentan terhadap bahaya suhu yang sangat tinggi. Tubuh mereka mengeluarkan lebih sedikit keringat, jantung mereka bekerja lebih keras saat panas, dan pembuluh darah mereka tidak bisa melebar dengan maksimal, sehingga tubuh mereka makin sulit untuk mendinginkan diri.
Namun, penelitian-penelitian sebelumnya belum membedakan risiko secara tepat antara anak muda (15–39 tahun), usia paruh baya (40–59 tahun), dan lansia (60 tahun ke atas). Penelitian terdahulu menggunakan batas kemampuan menahan panas milik anak muda untuk semua umur, sehingga mengabaikan risiko besar yang dihadapi lansia, seperti serangan jantung.
Kombinasi antara kenaikan suhu bumi dan perkiraan lonjakan jumlah populasi lansia menjadi 2,1 miliar orang pada tahun 2050 membuat makin banyak lansia yang akan menderita masalah kesehatan akibat panas.
Risiko ini paling tinggi terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, seperti India dan Pakistan.
“Stres panas berlebih akan makin sering terjadi seiring pemanasan global di semua kelompok umur. Lansia diproyeksikan bakal menghadapi kondisi panas ekstrem yang jauh lebih sering dan meluas dibandingkan orang dewasa muda,” tulis studi tersebut.
“Ini adalah studi yang sangat penting. Temuan ini menunjukkan bahwa gelombang panas dan paparan suhu ekstrem akan menjadi ancaman kesehatan yang makin besar di tahun-tahun mendatang. Secara khusus, riset ini membuktikan bahwa dampak kesehatan dari gelombang panas tidaklah merata, dengan kelompok lansia sebagai pihak yang paling rentan,” jelas Dr. Simon Williams, pakar dampak panas terhadap kesehatan manusia dari Swansea University.
Dia menambahkan bahwa studi tersebut menunjukkan lansia sudah berisiko mengalami stres panas yang berbahaya dan berpotensi mematikan hanya pada kenaikan suhu 1,5 derajat C di atas tingkat pra-industri, dibandingkan dengan 4 derajat C pada orang dewasa muda.
Studi juga mengungkapkan setiap pemanasan global bertambah satu derajat, sekitar satu juta orang tambahan akan terpapar setidaknya 180 jam stres panas berlebih setiap tahunnya. Beban ini paling berat dirasakan oleh kelompok lansia.
Baca juga: Kematian Lansia akibat Gelombang Panas Melonjak 85 Persen Sejak 1990-an
Lebih lanjut, jika pemanasan terus meningkat, sebagian wilayah tropis dan subtropis bisa menjadi tidak layak huni, terutama bagi orang tua.
"Temuan ini sangat mengkhawatirkan. Studi ini membuktikan bahwa kita tidak bisa lagi memungkiri bahwa panas ekstrem menimbulkan ancaman kesehatan yang sangat nyata bagi populasi lansia," kata Caroline Abrahams, direktur badan amal Age UK.
Suhu tinggi juga dapat memperburuk masalah medis tertentu yang umum dialami orang tua dan, secara umum, tubuh lansia semakin sulit menyesuaikan diri dengan perubahan suhu panas maupun dingin yang ekstrem.
Dr. Hilary Williams, Wakil Presiden Klinis di Royal College of Physicians Inggris, menambahkan cuaca ekstrem, termasuk panas yang menyengat, adalah masalah keselamatan pasien.
“Kami tahu bahwa gelombang panas selalu memicu lonjakan jumlah pasien. Orang tua sering kali datang ke rumah sakit dalam kondisi dehidrasi, pingsan, atau dengan penyakit bawaan seperti sakit jantung dan ginjal yang makin memburuk akibat panas. Mengobati beberapa penyakit sekaligus sudah cukup sulit, dan kondisinya makin parah saat kemampuan tubuh pasien untuk mengatur suhunya sendiri sudah menurun,” paparnya lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya