Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Panas Ekstrem, Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 10:12 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Penelitian terbaru menemukan bahwa orang berusia 60 tahun ke atas menghadapi potensi bahaya kesehatan akibat cuaca panas lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.

Menurut studi dalam jurnal The Lancet Public Health, kelompok lansia akan menjadi pihak yang paling dirugikan akibat gelombang panas ekstrem yang makin sering terjadi seiring pemanasan global.

Melansir The Guardian, Senin (17/8/2026) gelombang panas akan membuat banyak orang dari segala usia mengalami stres panas (heat stress) berlebih. Ini adalah kondisi saat tubuh tidak lagi mampu mendinginkan suhunya sendiri, sehingga berisiko mengalami gangguan kesehatan serius hingga kematian.

“Hasil riset kami menunjukkan bahwa jika kita memperhitungkan kerentanan berdasarkan tingkat usia, cuaca panas yang tak tertahankan akan dirasakan dalam skala yang jauh lebih luas dan durasi yang lebih lama, memengaruhi jauh lebih banyak orang dari perkiraan sebelumnya,” ungkap studi yang dipimpin oleh akademisi kesehatan dari Stanford University tersebut.

Baca juga: Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia

Lansia yang paling terdampak

Lansia memang sudah diketahui lebih rentan terhadap bahaya suhu yang sangat tinggi. Tubuh mereka mengeluarkan lebih sedikit keringat, jantung mereka bekerja lebih keras saat panas, dan pembuluh darah mereka tidak bisa melebar dengan maksimal, sehingga tubuh mereka makin sulit untuk mendinginkan diri.

Namun, penelitian-penelitian sebelumnya belum membedakan risiko secara tepat antara anak muda (15–39 tahun), usia paruh baya (40–59 tahun), dan lansia (60 tahun ke atas). Penelitian terdahulu menggunakan batas kemampuan menahan panas milik anak muda untuk semua umur, sehingga mengabaikan risiko besar yang dihadapi lansia, seperti serangan jantung.

Kombinasi antara kenaikan suhu bumi dan perkiraan lonjakan jumlah populasi lansia menjadi 2,1 miliar orang pada tahun 2050 membuat makin banyak lansia yang akan menderita masalah kesehatan akibat panas.

Risiko ini paling tinggi terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, seperti India dan Pakistan.

“Stres panas berlebih akan makin sering terjadi seiring pemanasan global di semua kelompok umur. Lansia diproyeksikan bakal menghadapi kondisi panas ekstrem yang jauh lebih sering dan meluas dibandingkan orang dewasa muda,” tulis studi tersebut.

“Ini adalah studi yang sangat penting. Temuan ini menunjukkan bahwa gelombang panas dan paparan suhu ekstrem akan menjadi ancaman kesehatan yang makin besar di tahun-tahun mendatang. Secara khusus, riset ini membuktikan bahwa dampak kesehatan dari gelombang panas tidaklah merata, dengan kelompok lansia sebagai pihak yang paling rentan,” jelas Dr. Simon Williams, pakar dampak panas terhadap kesehatan manusia dari Swansea University.

Dia menambahkan bahwa studi tersebut menunjukkan lansia sudah berisiko mengalami stres panas yang berbahaya dan berpotensi mematikan hanya pada kenaikan suhu 1,5 derajat C di atas tingkat pra-industri, dibandingkan dengan 4 derajat C pada orang dewasa muda.

Studi juga mengungkapkan setiap pemanasan global bertambah satu derajat, sekitar satu juta orang tambahan akan terpapar setidaknya 180 jam stres panas berlebih setiap tahunnya. Beban ini paling berat dirasakan oleh kelompok lansia.

Baca juga: Kematian Lansia akibat Gelombang Panas Melonjak 85 Persen Sejak 1990-an

Wilayah tak layak huni lansia

Lebih lanjut, jika pemanasan terus meningkat, sebagian wilayah tropis dan subtropis bisa menjadi tidak layak huni, terutama bagi orang tua.

"Temuan ini sangat mengkhawatirkan. Studi ini membuktikan bahwa kita tidak bisa lagi memungkiri bahwa panas ekstrem menimbulkan ancaman kesehatan yang sangat nyata bagi populasi lansia," kata Caroline Abrahams, direktur badan amal Age UK.

Suhu tinggi juga dapat memperburuk masalah medis tertentu yang umum dialami orang tua dan, secara umum, tubuh lansia semakin sulit menyesuaikan diri dengan perubahan suhu panas maupun dingin yang ekstrem.

Dr. Hilary Williams, Wakil Presiden Klinis di Royal College of Physicians Inggris, menambahkan cuaca ekstrem, termasuk panas yang menyengat, adalah masalah keselamatan pasien.

“Kami tahu bahwa gelombang panas selalu memicu lonjakan jumlah pasien. Orang tua sering kali datang ke rumah sakit dalam kondisi dehidrasi, pingsan, atau dengan penyakit bawaan seperti sakit jantung dan ginjal yang makin memburuk akibat panas. Mengobati beberapa penyakit sekaligus sudah cukup sulit, dan kondisinya makin parah saat kemampuan tubuh pasien untuk mengatur suhunya sendiri sudah menurun,” paparnya lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau