Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Indonesia sebenarnya punya logika yang sama. Hanya saja arah kebijakannya kadang terlihat campur aduk.
RAPBN 2027 masih mengalokasikan subsidi BBM tertentu sekitar 20 juta kiloliter. Pada saat yang sama, pemerintah juga berbicara tentang reformasi subsidi dan penguatan belanja produktif.
Menurut Saya, persoalannya bukan apakah subsidi harus dihapus mendadak. Itu tidak realistis. Persoalannya adalah ke mana arah subsidi tersebut bergerak.
Apakah kita terus memakai ruang fiskal untuk menahan harga energi fosil, atau mulai menggunakannya untuk membuat masyarakat lebih tahan terhadap gejolak energi?
Contohnya sederhana. Anggaran besar bisa dipakai untuk terus menahan harga BBM ketika harga minyak naik.
Namun, sebagian anggaran itu juga bisa dipakai untuk mempercepat transportasi publik listrik, jaringan pengisian kendaraan listrik, efisiensi energi rumah tangga, atau pengembangan energi surya dan penyimpanan energi.
Hasilnya memang tidak langsung terasa dalam satu tahun anggaran. Namun, ketika krisis energi berikutnya datang, ketergantungan terhadap minyak akan lebih kecil.
Di sinilah hubungan RAPBN 2027 dan NZE 2060 menjadi penting.
Target pertumbuhan ekonomi 6 persen membutuhkan energi yang cukup, stabil, dan terjangkau. Pemerintah juga memasukkan pengembangan 100 GW energi surya sebagai salah satu transformasi besar nasional.
Arah ini menjanjikan, tetapi pembangkit bersih saja tidak cukup. Kalau transportasi, industri, dan rumah tangga masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, emisi dan kerentanan energi akan tetap tinggi.
Karena itu, ukuran keberhasilan transisi energi seharusnya tidak berhenti pada berapa gigawatt pembangkit terpasang. Yang lebih penting adalah apakah konsumsi energi fosil dalam aktivitas ekonomi sehari-hari mulai turun secara nyata.
B50 punya manfaat dari sisi pengurangan impor solar. Namun, B50 tidak otomatis sama dengan NZE. Manfaat iklimnya bergantung pada keseluruhan rantai produksinya, termasuk penggunaan lahan dan proses produksinya.
Saya melihat ada tiga hal yang sering tercampur dalam diskusi energi: swasembada energi, ketahanan energi, dan transisi energi.
Swasembada berarti mampu memenuhi kebutuhan energi dari dalam negeri. Ketahanan berarti mampu bertahan saat terjadi guncangan pasokan atau harga. Transisi berarti bergerak menuju sistem energi rendah emisi. Ketiganya bisa saling mendukung, tetapi tidak selalu otomatis sejalan.
Indonesia punya peluang besar. Potensi surya, panas bumi, hidro, dan pasar domestik kita sangat besar.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya