Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Namun, peluang itu sangat bergantung pada konsistensi kebijakan. Investor akan melihat apakah arah kebijakan energi tetap sama dalam jangka panjang, bukan hanya dalam satu periode anggaran.
RAPBN 2027, menurut Saya, sudah menunjukkan kesadaran terhadap tantangan global. Pemerintah mencoba menghubungkan pertumbuhan, ketahanan energi, dan transformasi ekonomi dalam satu paket.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai ketahanan energi yang dibangun hari ini justru menciptakan ketergantungan baru pada energi fosil untuk puluhan tahun ke depan.
Indonesia tentu perlu mengurangi impor BBM. Namun, dalam dunia yang semakin tidak pasti, tujuan yang lebih besar seharusnya adalah membuat ekonomi Indonesia semakin sulit diguncang oleh gejolak energi global.
Kalau hanya berhenti pada penghematan devisa, kita mungkin berhasil mengurangi impor hari ini.
Kalau berhasil mempercepat elektrifikasi, efisiensi, dan energi terbarukan, dampaknya bisa jauh lebih besar: pertumbuhan tetap berjalan, ruang fiskal lebih sehat, dan target NZE tidak berhenti sebagai angka di atas kertas.
Bagi Saya, di situlah perbedaan antara sekadar mengisi tangki bahan bakar dan benar-benar membangun sistem energi yang lebih tahan terhadap krisis.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya