Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 20:30 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Ronaldiaz mengatakan, ketiadaan sistem ekonomi sirkular yang kuat membuat biaya pengembangan biomaterial di Indonesia dapat menjadi jauh lebih mahal.

Menurut dia, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga pengelolaan limbah, sistem pendidikan, hingga ekosistem inovasi yang mendukung pengembangan industri berkelanjutan.

"Kita (Indonesia) harus bikin ekosistem sebenarnya. Jadi, di Indonesia tuh fokusnya ke project-based. Jadi, semua program adalah project gitu. Yang harus kita butuhkan adalah sistem sebenarnya, entah waste management system, education system, atau innovation system. Dan itu yang harus dibangun mulai misalnya dari pendidikan," ucapnya.

Kondisi tersebut juga membuat MYCL lebih banyak membidik pasar internasional. Produk biomaterialnya telah dipasarkan melalui distributor di Amerika Serikat, Australia, hingga Eropa.

Menurut Ronaldiaz, pasar internasional memiliki tingkat penerimaan yang lebih tinggi terhadap material berkelanjutan. Sebaliknya, pasar Indonesia masih cenderung sensitif terhadap harga.

Dari limbah organik ke sampah residu

Pendekatan memanfaatkan limbah yang paling sulit terserap industri juga dilakukan Parongpong RAW Lab.

Berbeda dengan MYCL yang mengolah limbah organik, Parongpong RAW Lab berfokus pada sampah anorganik yang sulit terurai dan memiliki nilai ekonomi rendah.

Jenis limbah yang diolah antara lain jaring nelayan bekas atau ghost net, puntung rokok, serta sampah kemasan sachet dan multilayer. Material hasil pengolahan kemudian digunakan untuk berbagai produk, termasuk furnitur dan material bangunan kelas atas.

COO Parongpong RAW Lab Amiroh Husna Utami mengatakan, pengolahan sampah perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenis limbah.

"Processing daur ulang ini ternyata specified ke type of waste-nya ini. Enggak semua mesin ini bisa me-recycle semuanya. Makanya, kami fokusnya ke residu karena residu ini yang mostly enggak ada sistem daur ulangnya," ujar Amiroh.

Salah satu program yang dikembangkan Parongpong RAW Lab adalah pengolahan ghost net menjadi material bernilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Baca juga: Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga

Pada 2027, Parongpong RAW Lab menargetkan mengumpulkan 20 ton jaring dari Muncar dan Kalibaru dengan melibatkan sekitar 600 nelayan.

Sebagai DBS Foundation Grantee 2025, Parongpong RAW Lab juga mendapatkan dukungan untuk memperkuat program Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment di Cilincing, Jakarta, dan Muncar, Banyuwangi.

Dalam dua tahun terakhir, program tersebut telah melibatkan sekitar 1.000 anggota komunitas pesisir serta membangun dua *microfactory* untuk memperkuat kapasitas produksi lokal.

Melalui program tersebut, jaring ikan bekas tidak hanya dialihkan dari lingkungan, tetapi juga diubah menjadi sumber material sekaligus membuka akses pendapatan tambahan, pelatihan, dan keterlibatan ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau