Ronaldiaz mengatakan, ketiadaan sistem ekonomi sirkular yang kuat membuat biaya pengembangan biomaterial di Indonesia dapat menjadi jauh lebih mahal.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga pengelolaan limbah, sistem pendidikan, hingga ekosistem inovasi yang mendukung pengembangan industri berkelanjutan.
"Kita (Indonesia) harus bikin ekosistem sebenarnya. Jadi, di Indonesia tuh fokusnya ke project-based. Jadi, semua program adalah project gitu. Yang harus kita butuhkan adalah sistem sebenarnya, entah waste management system, education system, atau innovation system. Dan itu yang harus dibangun mulai misalnya dari pendidikan," ucapnya.
Kondisi tersebut juga membuat MYCL lebih banyak membidik pasar internasional. Produk biomaterialnya telah dipasarkan melalui distributor di Amerika Serikat, Australia, hingga Eropa.
Menurut Ronaldiaz, pasar internasional memiliki tingkat penerimaan yang lebih tinggi terhadap material berkelanjutan. Sebaliknya, pasar Indonesia masih cenderung sensitif terhadap harga.
Pendekatan memanfaatkan limbah yang paling sulit terserap industri juga dilakukan Parongpong RAW Lab.
Berbeda dengan MYCL yang mengolah limbah organik, Parongpong RAW Lab berfokus pada sampah anorganik yang sulit terurai dan memiliki nilai ekonomi rendah.
Jenis limbah yang diolah antara lain jaring nelayan bekas atau ghost net, puntung rokok, serta sampah kemasan sachet dan multilayer. Material hasil pengolahan kemudian digunakan untuk berbagai produk, termasuk furnitur dan material bangunan kelas atas.
COO Parongpong RAW Lab Amiroh Husna Utami mengatakan, pengolahan sampah perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenis limbah.
"Processing daur ulang ini ternyata specified ke type of waste-nya ini. Enggak semua mesin ini bisa me-recycle semuanya. Makanya, kami fokusnya ke residu karena residu ini yang mostly enggak ada sistem daur ulangnya," ujar Amiroh.
Salah satu program yang dikembangkan Parongpong RAW Lab adalah pengolahan ghost net menjadi material bernilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Baca juga: Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Pada 2027, Parongpong RAW Lab menargetkan mengumpulkan 20 ton jaring dari Muncar dan Kalibaru dengan melibatkan sekitar 600 nelayan.
Sebagai DBS Foundation Grantee 2025, Parongpong RAW Lab juga mendapatkan dukungan untuk memperkuat program Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment di Cilincing, Jakarta, dan Muncar, Banyuwangi.
Dalam dua tahun terakhir, program tersebut telah melibatkan sekitar 1.000 anggota komunitas pesisir serta membangun dua *microfactory* untuk memperkuat kapasitas produksi lokal.
Melalui program tersebut, jaring ikan bekas tidak hanya dialihkan dari lingkungan, tetapi juga diubah menjadi sumber material sekaligus membuka akses pendapatan tambahan, pelatihan, dan keterlibatan ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya